Menuju Tata Kelola Budaya Kolaboratif, Surabaya Perluas Ruang dan Peran Publik

MERAHPUTIH I SURABAYA - Upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam membangun ekosistem kebudayaan terus bergerak menuju pola yang lebih terbuka dan melibatkan banyak pihak. Penyediaan ruang publik hingga pembaruan peran lembaga kebudayaan dinilai menjadi sinyal perubahan menuju tata kelola yang lebih inklusif.

Pegiat budaya Kampung Dupak Bangunrejo, Probo Darono Yakti, menilai fasilitas yang disediakan pemerintah kota selama ini sudah cukup memadai. Menurutnya, keberadaan ruang seperti Balai Pemuda Surabaya hingga taman kota memberi ruang ekspresi bagi pelaku seni untuk menghidupkan aktivitas budaya di tengah masyarakat.

Ia melihat pemerintah mulai berperan sebagai fasilitator yang membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkesenian. Namun, Probo mengingatkan bahwa penyediaan fasilitas saja belum cukup tanpa diimbangi tata kelola yang partisipatif dan merata bagi seluruh pelaku budaya, terutama seni tradisi.

Menurut dosen Universitas Airlangga tersebut, Surabaya saat ini masih berada dalam tahap peralihan dari sistem pengelolaan administratif menuju model kolaboratif. Dalam fase ini, keterlibatan berbagai elemen menjadi kunci agar kebijakan kebudayaan dapat berjalan efektif.

Ia juga menyoroti pentingnya transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan yang lebih luas perannya, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Perubahan ini menuntut sumber daya manusia yang mampu memahami berbagai aspek pemajuan kebudayaan secara komprehensif.

Pandangan serupa disampaikan Jarmani, akademisi sekaligus pelaku seni dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Ia menilai fasilitasi yang diberikan Pemkot telah menjangkau hingga tingkat kampung dan berhasil mendorong tumbuhnya aktivitas seni di berbagai lapisan masyarakat.

Meski begitu, ia menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan agar program pemajuan kebudayaan dapat terus berkembang. Jarmani optimistis, transformasi kelembagaan yang tengah berjalan akan memperkuat tata kelola kebudayaan di Surabaya menjadi lebih terintegrasi dan berkelanjutan.(sub)

Editor : Redaksi