Liburan Tak Harus Jauh, Kemenpar Ajak Masyarakat Jelajahi Wisata Dalam Negeri

MERAHPUTIH I SURABAYA – Menjelang musim liburan sekolah 2026, pemerintah mulai menggeser cara pandang masyarakat tentang makna sebuah perjalanan wisata. Liburan kini tidak lagi selalu identik dengan bepergian jauh, menginap mahal, atau berburu destinasi luar negeri. Sebaliknya, perjalanan singkat yang dekat, sederhana, namun penuh pengalaman emosional justru mulai menjadi tren baru di tengah masyarakat.

Semangat itulah yang diangkat Kementerian Pariwisata melalui gelaran “BBWI Travel Fair X BINA 2026” di Atrium Tunjungan Plaza Surabaya pada 15–17 Mei 2026. Pameran wisata tersebut menjadi bagian dari kampanye nasional bertajuk “Liburan Cara Baru” yang mendorong masyarakat kembali mengeksplorasi potensi wisata domestik dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan terjangkau.

Di tengah kondisi ekonomi yang membuat banyak keluarga semakin selektif mengatur pengeluaran, pola wisata masyarakat pun ikut berubah. Liburan kini lebih diarahkan pada pencarian pengalaman berkualitas bersama keluarga dibanding sekadar perjalanan mewah atau destinasi yang jauh.

Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Erwita Dianti, mengatakan perubahan perilaku wisata tersebut justru membuka peluang besar bagi penguatan sektor pariwisata domestik.

Menurutnya, konsep “Liburan Cara Baru” hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang tetap ingin menikmati momentum liburan sekolah tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

“Liburan bukan hanya soal pergi jauh, tetapi tentang menciptakan pengalaman bersama yang bermakna. Karena itu kami menghadirkan inspirasi perjalanan yang lebih dekat, fleksibel, dan tetap menyenangkan bagi keluarga,” ujarnya.

Melalui pameran itu, masyarakat diperkenalkan pada berbagai alternatif wisata yang dinilai lebih realistis dengan kondisi saat ini. Mulai dari short escape antar kota, wisata edukasi anak, perjalanan darat, eksplorasi desa wisata, hingga wisata budaya dan kuliner lokal yang semakin diminati keluarga muda.

Nuansa berbeda terasa melalui konsep “Kampung Main Indonesia” yang diusung dalam tema “Cerita Liburan Sekolah”. Pengunjung tidak hanya melihat promosi destinasi wisata, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam berbagai aktivitas interaktif.

Permainan tradisional yang mulai jarang ditemukan di ruang publik modern kembali dihadirkan untuk mempertemukan anak-anak dengan pengalaman bermain yang lebih sederhana namun sarat nilai budaya. Beragam kegiatan edukatif, simulasi perjalanan wisata, hingga aktivitas eksplorasi destinasi secara imersif juga menjadi daya tarik tersendiri selama pameran berlangsung.

Kementerian Pariwisata tampak ingin menanamkan pesan bahwa perjalanan yang berkesan tidak harus mahal. Bahkan, perjalanan singkat di sekitar daerah sendiri dinilai mampu menghadirkan kenangan kuat bagi anak-anak maupun orang tua.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kekuatan utama dalam penyelenggaraan acara tersebut. “BBWI Travel Fair X BINA 2026” merupakan hasil kerja sama Kementerian Pariwisata bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia melalui program Belanja di Indonesia Aja (BINA), dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Sejumlah pelaku industri pariwisata nasional turut ambil bagian dalam pameran tersebut. Mulai dari Taman Safari Group, Jakarta Aquarium, KidZania, Jatim Park, KAI Group, hingga berbagai pengelola destinasi wisata dari Jawa Timur dan Karawang.

Tak hanya wisata populer, sejumlah destinasi berbasis komunitas dan edukasi juga diperkenalkan kepada masyarakat. Di antaranya Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Desa Wisata Ketapanrame, Sekolah Diving Banyuwangi, hingga pengelola wisata edukasi lain yang menawarkan paket perjalanan ramah keluarga dengan biaya yang lebih fleksibel.

Kehadiran berbagai mitra itu memberi banyak alternatif pilihan bagi masyarakat untuk menentukan model perjalanan sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran masing-masing keluarga.

Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pariwisata juga memperkenalkan MaIA, platform digital berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang terintegrasi dengan Indonesia.Travel. Platform tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memperoleh rekomendasi destinasi, agenda perjalanan, hingga aktivitas wisata yang sesuai dengan minat keluarga.

Pemerintah juga terus memperkuat promosi destinasi prioritas nasional yang dinilai cocok untuk wisata keluarga. Kawasan seperti Danau Toba, Borobudur, Mandalika, hingga Labuan Bajo masih menjadi fokus utama pengembangan wisata domestik.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Jawa Timur, Ali Afandi, menilai Jawa Timur memiliki potensi besar menjadi tujuan utama wisata keluarga saat musim libur sekolah.

Menurutnya, kekuatan Jawa Timur tidak hanya terletak pada wisata alam maupun wisata buatan, tetapi juga pada pengembangan desa wisata berbasis budaya lokal yang semakin berkembang di berbagai daerah.

Saat ini, kata dia, Jawa Timur memiliki sedikitnya 743 desa wisata dengan karakter dan keunikan masing-masing. Salah satu yang diperkenalkan dalam pameran tersebut ialah Desa Wisata Ketapanrame yang telah meraih prestasi tingkat nasional.

Selain itu, terdapat pula desa wisata di Jember yang mengangkat permainan tradisional sebagai daya tarik utama wisata budaya.

“Kalau di Jawa Timur saja sebenarnya sudah luar biasa. Mau wisata pantai ada Banyuwangi sampai Pacitan. Bahkan di Pacitan ada Seruling Samudra yang belum banyak dieksplor,” kata Ali.

Ia berharap masyarakat mulai menjadikan destinasi dalam daerah sendiri sebagai pilihan utama saat musim liburan sekolah tiba. Selain lebih hemat, langkah tersebut juga diyakini mampu menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap potensi wisata daerah.

Melalui kampanye “Liburan Cara Baru”, pemerintah ingin mengubah cara masyarakat memandang sebuah perjalanan. Wisata tidak lagi sekadar berpindah tempat, tetapi tentang menghadirkan cerita, pengalaman, dan kedekatan emosional bersama keluarga.

Dari permainan tradisional di desa wisata, perjalanan singkat antar kota, hingga menikmati budaya lokal di daerah sendiri, setiap perjalanan diharapkan mampu menjadi kenangan yang akan terus diingat anak-anak sepanjang masa liburan sekolah.(pps)

Editor : Redaksi