Persija Teguhkan Arah Regenerasi di Era Baru Shin Tae-yong, Pemain Muda Jadi Pilar Masa Depan

Shin Tae-yong
Shin Tae-yong

MERAHPUTIH I JAKARTA – Komitmen Persija Jakarta dalam membangun fondasi jangka panjang melalui pengembangan pemain muda kembali menjadi sorotan. Di tengah kerasnya persaingan kompetisi Super League 2025/2026, klub berjuluk Macan Kemayoran itu tetap menjaga keseimbangan antara target prestasi dan keberlanjutan regenerasi pemain.

Kehadiran Shin Tae-yong dalam peta arah baru tim turut memperkuat keyakinan bahwa jalur pembinaan usia muda akan tetap menjadi fondasi utama. Rekam jejak pelatih asal Korea Selatan tersebut yang dikenal berani memberi menit bermain kepada pemain muda dinilai selaras dengan visi jangka panjang klub.

Dalam berbagai kesempatan, Shin Tae-yong menegaskan bahwa masa depan sepak bola Indonesia hanya dapat dibangun melalui keberanian memberi ruang kompetitif bagi generasi muda.

“Ada cukup banyak pemain muda di Indonesia. Demi masa depan sepak bola Indonesia, saya berpikir bahwa kami harus secara jelas dan pasti memberikan banyak kesempatan bermain kepada para pemain muda,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses pembentukan karakter pemain tidak dapat hanya mengandalkan latihan, melainkan harus ditopang pengalaman bertanding di level tertinggi.

“Tentu saja hal itu bisa berubah tergantung situasi. Namun, saya selalu berpikir bahwa anak-anak muda Indonesia harus berkembang melalui pertandingan secara langsung. Hanya dengan cara itulah sepak bola Indonesia bisa maju. Saya selalu memegang prinsip itu,” tuturnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Persija yang dalam beberapa musim terakhir konsisten membuka jalan bagi talenta muda dari akademi untuk menembus tim utama. Pada penutupan musim Super League 2025/2026, klub ibu kota itu mencatat setidaknya lima pemain muda berhasil melakoni debut bersama tim senior.

Nama-nama seperti Arlyansyah Abdulmanan, Jehan Pahlevi, Figo Dennis, Dia Syayid, dan Hafizh Rizkianur menjadi representasi nyata dari keberlanjutan program pembinaan yang dijalankan klub.

Debut mereka bukan sekadar catatan statistik, melainkan simbol bahwa jalur akademi Persija benar-benar menjadi jembatan menuju level profesional. Kesempatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa regenerasi di tubuh Macan Kemayoran tidak berjalan secara simbolis, melainkan terstruktur dan berkesinambungan.

Lebih jauh, dalam kurun lima musim terakhir, Persija mencatatkan 23 pemain lulusan Elite Pro Academy (EPA) yang berhasil menembus tim utama dan merasakan atmosfer kompetisi profesional bersama klub. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa sistem pembinaan yang dibangun tidak berhenti pada level akademi, tetapi berlanjut hingga ke panggung tertinggi.

Di tengah tuntutan prestasi yang terus meningkat, Persija tampak berupaya menjaga keseimbangan antara hasil jangka pendek dan pembangunan fondasi jangka panjang. Kebijakan memberi menit bermain kepada pemain muda dinilai sebagai investasi penting bagi keberlanjutan performa tim di masa depan.

Dengan kombinasi pengalaman dan energi muda, Macan Kemayoran kini memasuki fase baru pembangunan tim. Tantangannya bukan hanya menjaga konsistensi performa di kompetisi, tetapi juga memastikan setiap talenta muda yang lahir dari akademi mampu berkembang menjadi pemain inti yang siap bersaing di level tertinggi.

Persija pun menegaskan bahwa regenerasi bukan sekadar program, melainkan bagian dari identitas klub yang terus dijaga di tengah dinamika ketatnya persaingan sepak bola nasional.(jak)

Editor : Redaksi