Jawa Timur dan Australia Perkuat Kemitraan Kesiapsiagaan Bencana
MERAHPUTIH I SURABAYA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur bersama Pemerintah Australia memperkuat kemitraan manajemen risiko bencana melalui Program SIAP SIAGA. Komitmen ini diutarakan pada pertemuan yang disambut langsung oleh Gubernur Provinsi Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Senin (25/6/2026).
Gubernur Khofifah berharap Program SIAP SIAGA semakin efektif dalam penguatan kesiapsiagaan di tingkat desa dan kecamatan. Disadari, dalam penanggulangan bencana memang dibutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Jika memang berkolaborasi dengan berbagai organisasi relawan, sebaiknya dipastikan juga relawan di kecamatan dan desa dilatih menjadi tangguh pula.
“Sebuah desa tidak bisa disebut Desa Tangguh Bencana bila tidak ada relawan terlatih di kecamatan dan desa,” tuturnya.
Terutama, kapasitas mereka dalam penanggulangan bencana sangat vital. Mereka inilah yang menjadi garda terdepan dalam mitigasi, tanggap darurat, dan pemulihan.
Selanjutnya, posko dan layanan yang dimiliki komunitas relawan belum cukup memenuhi kebutuhan saat penanganan bencana. Gubernur Khofifah menganjurkan adanya Lumbung Sosial di Desa Tangguh Bencana sebab lumbung ini ditujukan untuk menyimpan logistik dan peralatan bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana.
Head of Sub-National Programs, Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun, mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas dukungan dan perhatian Gubernur Khofifah terhadap pengembangan program tersebut di Jawa Timur.
"Ibu Gubernur memberikan berbagai masukan. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah perlunya melibatkan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kecamatan dan desa agar respons terhadap bencana lebih efektif dan tepat sasaran," ujar Deswanto.
Program SIAP SIAGA, kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia dalam untuk Manajemen Risiko Bencana, di Jawa Timur sudah berjalan sejak 2020. Fokus program ini adalah meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mencegah, mempersiapkan, menanggapi, dan memulihkan diri dari bencana.
Jawa Timur menjadi salah satu daerah prioritas dalam pelaksanaan Program SIAP SIAGA karena memiliki 14 jenis risiko bencana di berbagai wilayah. Di setiap daerah memiliki pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakteristik ancaman bencana di masing-masing daerah.
Program SIAP SIAGA bersama BPBD Jawa Timur telah menggelar simulasi evakuasi mandiri tsunami di Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kabupaten Lumajang. Awal Juli mendatang, direncanakan ada simulasi penanganan bencana erupsi gunung berapi di wilayah Kabupaten Malang.
Bentuk bantuan dari Program SIAP SIAGA lebih berupa penguatan kesiapsiagaan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi bencana. Termasuk juga melibatkan kelompok disabilitas yang selama ini sering diposisikan sebagai objek dalam penanggulangan bencana.
“Dengan adanya Unit Layanan Disabilitas di BPBD provinsi, kelompok disabilitas menjadi subjek. Mereka juga menyuarakan pentingnya kesiapsiagaan bencana di komunitas maupun sekolah-sekolah,” jelasnya.
Komitmen pemerintah daerah dan masyarakat Jawa Timur dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana dinilai sangat tinggi. Contohnya, keberhasilan program Desa Tangguh Bencana di kawasan lereng Gunung Semeru. Tingkat kesiapsiagaan warga yang semakin baik berkontribusi besar dalam menekan jumlah korban saat terjadi erupsi.
“Saat letusan terakhir, tingkat fatalitas hampir mendekati nol. Artinya, masyarakat sudah semakin siap menghadapi ancaman bencana karena mengetahui tanda-tanda bahaya dan langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” ungkapnya.
Bencana kekeringan yang diperkirakan semakin meningkat akibat perubahan iklim menjadi perhatian Program SIAP SIAGA juga. Menurut Deswanto, tentu pihaknya tidak bisa menggantikan peran pemerintah, melainkan menjadi katalisator yang memperkuat koordinasi lintas sektor, mulai dari BPBD, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup hingga berbagai pihak terkait lainnya.
Dalam pertemuan itu, disinggung pula mengenai Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA). Program SIAP SIAGA telah mendukung studi kelayakan dan pengembangan pedoman PESTANA sebagai tindak lanjut inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ke depan, SIAP SIAGA siap mendukung pengembangan model PESTANA sebagai pendekatan inovatif untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.
Will Lee, perwakilan dari Pemerintah Australia, menjelaskan bahwa kerja sama kebencanaan menjadi salah satu simbol kuat hubungan erat antara Indonesia dan Australia. Ia mengenang peristiwa kebakaran hutan besar yang melanda Australia pada 2019, ketika personel TNI turut membantu proses penanggulangan di New South Wales.
“Pengalaman itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Australia sangat penting. Ada semangat gotong royong dan saling membantu saat menghadapi situasi darurat," ujarnya.
Pertemuan ini sekaligus memastikan program kemitraan seperti SIAP SIAGA dapat terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia juga berlangsung di bidang keamanan, maritim, ekonomi, pembangunan, serta hubungan antarmasyarakat.(pps)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih