Pemkot Surabaya Cetak Juru Parkir Profesional, Puluhan Petugas Ikuti Diklat Bersertifikat
MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik, termasuk di sektor perparkiran. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemberdayaan Masyarakat (DPM) Petugas Juru Parkir Berkeselamatan yang melibatkan puluhan juru parkir dari berbagai wilayah di Kota Pahlawan.
Program yang berlangsung selama dua hari, 23-24 Juni 2026, di Aula Garuda Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya itu merupakan hasil kolaborasi Pemkot Surabaya dengan Kementerian Perhubungan melalui Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun. Sebanyak 70 peserta dari unsur juru parkir tepi jalan umum (TJU) maupun petugas parkir persil turut ambil bagian dalam pelatihan perdana tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Trio Wahyu Bowo, menegaskan bahwa pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan peningkatan kapasitas biasa. Lebih dari itu, diklat menjadi fondasi awal untuk membangun standar kompetensi profesi bagi para petugas parkir di Surabaya.
"Pada angkatan pertama ini diikuti oleh 70 petugas parkir yang ada di Kota Surabaya, baik petugas parkir TJU maupun petugas parkir persil atau pajak parkir," ujar Trio.
Menurutnya, profesi juru parkir membutuhkan keterampilan khusus dan pemahaman yang memadai terkait pelayanan serta keselamatan kerja. Karena itu, ke depan pelatihan serupa akan menjadi bagian penting dalam proses penyiapan tenaga parkir yang profesional.
Ia menjelaskan, setiap peserta yang mengikuti pelatihan akan mendapatkan sertifikat kompetensi setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan. Sertifikat tersebut nantinya dapat digunakan sebagai bukti bahwa petugas parkir telah memperoleh pembekalan dan memiliki kemampuan dasar yang dibutuhkan saat bertugas di lapangan.
"Di akhir diklat selama dua hari ini akan diberikan sertifikat. Sertifikat ini yang akan mereka pegang dan gunakan ketika bekerja di lapangan," katanya.
Materi yang diberikan selama pelatihan tidak hanya berfokus pada aspek teknis perparkiran, tetapi juga menyentuh sisi pelayanan publik dan keselamatan kerja. Para peserta dibekali pemahaman mengenai etika pelayanan kepada masyarakat, cara berinteraksi dengan pengguna jasa parkir, hingga langkah-langkah menjaga keselamatan saat bekerja di area yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi.
Trio menilai keberadaan juru parkir memiliki peran strategis dalam menciptakan ketertiban dan kenyamanan lalu lintas di kawasan perkotaan. Karena itu, kualitas pelayanan yang diberikan harus terus ditingkatkan.
"Petugas parkir bekerja bukan hanya mengatur kendaraan, tetapi juga harus mengutamakan pelayanan kepada warga yang menggunakan fasilitas parkir," ujarnya.
Selain memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengguna jasa, para juru parkir juga dituntut memahami pentingnya menjaga keselamatan diri sendiri selama menjalankan tugas. Hal ini menjadi salah satu fokus utama dalam pelatihan yang digelar bersama PPI Madiun tersebut.
"Selain melayani, mereka juga harus mampu menjaga keselamatan dirinya ketika melaksanakan pekerjaan sebagai petugas parkir," tambah Trio.
Pelaksanaan diklat tahap pertama ini juga menjadi jawaban atas aspirasi yang selama ini disampaikan Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS). Organisasi tersebut menginginkan adanya program pendidikan dan pelatihan yang mampu meningkatkan kompetensi para anggotanya sekaligus memberikan pengakuan profesi yang lebih jelas.
Pemkot Surabaya pun berkomitmen untuk melanjutkan program serupa pada angkatan berikutnya agar semakin banyak petugas parkir yang memperoleh pembekalan dan sertifikasi kompetensi.
"Kami akan berkoordinasi dengan BKPSDM terkait pelaksanaan dan penganggaran untuk kegiatan berikutnya. Program ini pasti akan kami lanjutkan," tegas Trio.
Sementara itu, Wakil Direktur I PPI Madiun, Muhamad Nurhadi, menilai setiap pekerjaan sejatinya merupakan profesi yang membutuhkan keterampilan khusus dan harus dibuktikan melalui kompetensi yang terukur.
Menurutnya, sertifikat yang diberikan kepada peserta bukan sekadar dokumen administratif, melainkan bagian dari portofolio profesional yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki kemampuan sesuai bidang pekerjaannya.
"Pada prinsipnya pekerjaan apa pun merupakan profesi dan harus memiliki bukti bahwa yang bersangkutan mempunyai keterampilan pada profesi tersebut," ujar Nurhadi.
Ia mengingatkan bahwa profesi juru parkir memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi, terutama bagi mereka yang bertugas di tepi jalan umum. Karena itu, aspek keselamatan menjadi materi utama dalam pelatihan.
Nurhadi menjelaskan bahwa konsep keselamatan yang diajarkan mencakup tiga unsur sekaligus, yakni keselamatan petugas parkir, keselamatan pelanggan atau pemilik kendaraan, serta keselamatan pengguna jalan lainnya.
"Keselamatan petugas, keselamatan pelanggan, dan keselamatan pengguna jalan lain menjadi prioritas utama," katanya.
Dukungan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sektor perparkiran juga datang dari jajaran kepolisian. Kanit Turjawali Sat Samapta Polrestabes Surabaya, Ipda Doni Nugroho Dwi Putra, mengapresiasi sinergi antara Dishub Surabaya dan PPI Madiun dalam menghadirkan program sertifikasi bagi juru parkir.
Menurutnya, perkembangan zaman menuntut setiap profesi untuk terus meningkatkan kompetensi. Sertifikasi menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan bahwa petugas parkir memiliki kemampuan yang terstandarisasi.
"Silakan dimanfaatkan sebaik-baiknya karena semakin berkembangnya zaman, semakin banyak perubahan. Sertifikasi ini menjadi bukti kompetensi yang dimiliki," ujarnya.
Doni juga menyoroti kontribusi petugas parkir terhadap pendapatan daerah. Ia menyebut para juru parkir sebagai salah satu elemen yang ikut berperan dalam mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya.
"Rekan-rekan sebenarnya adalah pejuang PAD dan penyumbang pendapatan daerah," katanya.
Dengan hadirnya program pelatihan dan sertifikasi tersebut, Pemkot Surabaya berharap wajah pelayanan perparkiran di Kota Pahlawan semakin profesional, tertib, dan berorientasi pada keselamatan. Ke depan, seluruh petugas parkir diharapkan memiliki standar kompetensi yang sama sehingga mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat sekaligus mendukung terciptanya lalu lintas yang aman dan nyaman.
"Jogo Suroboyo tertib, lancar, terkendali, wani," pungkas Doni.(sub)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih