UMKM Surabaya Didorong Kuasai AI, Lia Istifhama: Jangan Sampai Produk Lokal Tenggelam di Dunia Digital

MERAHPUTIH I SURABAYA – Transformasi digital kini menjadi kebutuhan yang tak bisa lagi dihindari oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin bergantung pada internet, pemanfaatan teknologi digital hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai menjadi salah satu kunci agar produk lokal mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah persaingan pasar.

Hal itu disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, saat menghadiri kegiatan pelatihan dan pemberdayaan yang digelar Markas UMKM di Kecamatan Sawahan, Surabaya, kemarin. Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, komunitas UMKM, dan pelaku industri digital untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha menghadapi era ekonomi berbasis teknologi.

Turut hadir dalam kegiatan itu Sekretaris Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Kota Surabaya Bambang Ukoro, S.H., M.Si., Camat Sawahan Dr. Kanti Budiarti, Ketua Markas UMKM Koko, Dewan Pembina Markas UMKM sekaligus Wakil Direktur SPEKTRA Rahman Windhiarto, serta Fitri Anjarsari dari Kasir Pintar yang memberikan materi mengenai pemanfaatan teknologi digital bagi pelaku usaha.

Dalam paparannya, Lia Istifhama menegaskan bahwa pelaku UMKM harus memiliki keberanian untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kualitas produk lokal Indonesia sudah sangat baik, namun tanpa strategi pemasaran yang mengikuti perkembangan teknologi, produk tersebut akan sulit dikenal masyarakat.

"Jangan hanya diam jika ada yang perlu disampaikan. UMKM harus berani tampil, karena produk lokal kita memiliki kualitas yang cantik, penuh cinta, dan layak bersaing," ujar perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pola belanja masyarakat saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Sebelum membeli suatu produk, banyak konsumen lebih dahulu mencarinya melalui internet, termasuk ketika mencari makanan khas maupun oleh-oleh daerah. Kondisi tersebut membuat kehadiran pelaku UMKM di ruang digital menjadi sangat penting.

Menurut Lia, apabila sebuah produk tidak memiliki jejak digital, maka peluang untuk ditemukan calon pembeli akan semakin kecil. Sebaliknya, konsumen akan lebih mudah menemukan produk lain yang telah aktif memanfaatkan platform digital.

"Kalau UMKM tidak memanfaatkan teknologi digital, maka konsumen akan menemukan produk lain di internet. Ini peluang sekaligus tantangan," katanya.

Lebih jauh, Lia mengajak para pelaku usaha untuk tidak berhenti pada penggunaan media sosial atau marketplace semata. Ia mendorong UMKM mulai mengenal teknologi kecerdasan buatan atau AI yang kini semakin mudah diakses dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai aktivitas bisnis.

Menurutnya, AI dapat membantu pelaku usaha menyusun materi promosi, membuat konten pemasaran yang menarik, membaca tren pasar, hingga mengelola penjualan secara lebih efektif. Dengan memanfaatkan teknologi tersebut, UMKM dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas jangkauan pasar tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar.

Ia meyakini, penguasaan teknologi akan menjadi salah satu faktor penentu daya saing UMKM Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, pelatihan seperti yang digelar di Sawahan perlu terus diperluas agar semakin banyak pelaku usaha yang memiliki kemampuan digital.

Selain penyampaian materi mengenai digitalisasi usaha, kegiatan tersebut juga menjadi ajang berbagi pengalaman antarpelaku UMKM. Para peserta memperoleh pendampingan mengenai strategi pemasaran digital sekaligus pengenalan berbagai aplikasi yang dapat membantu operasional usaha sehari-hari.

Ketua Markas UMKM, Koko, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak terhadap pengembangan UMKM di Surabaya. Ia berharap semangat pelaku usaha terus terjaga sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

"Memang benar yang disampaikan Ning Lia, UMKM harus terus berinovasi. Dengan semangat dan kerja keras, usaha akan melejit dan membawa kebahagiaan," ujarnya.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri digital dalam kegiatan tersebut dinilai menjadi langkah nyata untuk mempercepat transformasi UMKM di tingkat lokal. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang saling mendukung sehingga pelaku usaha tidak berjalan sendiri dalam menghadapi perubahan zaman.(pps)

Editor : Redaksi