Buang Limbah di Waduk SIER, Diancam Pidana 10 Tahun dan Denda Rp 10 M


MERAH PUTIH | Surabaya - Aktivis lingkungan hidup mendesak agar polisi turun tangan mengusut pabrik-pabrik yang diduga membuang limbahnya di kawasan Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER). Ribuan ikan yang mati di Waduk SIER menjadi petunjuk untuk mengungkap dugaan pembuangan limbah oleh pabrik di sana. Jika terbukti, perusahaan pencemar lingkungan bisa dihukum berat.

Direktur Lembaga Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) Prigi Arisandi meminta agar pihak Kepolisian turun tangan untuk melakukan penyelidikan terkait kejadian matinya ribuan ikan di Waduk SIER. Menurut Prigi, dalam kasus matinya ribuan ikan itu ada indikasi pidana lingkungan.

"Seharusnya Polrestabes Surabaya turun juga untuk melakukan penyelidikan, karena jelas ada indikasi pidana lingkungan dalam kasus ribuan ikan yang mati di Waduk SIER," tegas Prigi kepada Harian Merah Putih, Minggu (7/6/2020).

Prigi menjelaskan dalam kasus matinya ikan di Waduk SIER bisa dikategorikan pencemaran lingkungan. "Kasus matinya ikan bisa dikategorikan pencemaran lingkungan. Dan masuk delik biasa, sehingga dengan info di Harian Merah Putih, Polrestabes Surabaya harusnya langsung menurunkan tim untuk melakukan penyidikan," terang Prigi yang pernah mendapatkan penghargaan internasional Goldman Environmental Prize 2011.

Organisasi lingkungan hidup independen, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) juga menyuarakan hal sama. Wahyu Eka, Manajer Kampanye Walhi Jatim mengatakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya harus berkordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan riset yang lebih mendalam.

"Jadi DLH dan polisi harus bekerja sama melakukan penyelidikan dan riset mendalam untuk mengetahui penyebab pasti matinya ribuan ikan di Waduk SIER," kata Wahyu dihubungi terpisah, kemarin.

Wahyu menambahkan jika ditemukan indikasi kejahatan pencemaran lingkungan terkait kasus matinya ribuan ikan di Waduk SIER, maka pelaku bisa dijerat dengan UU RI Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 98 ayat (1) tentang Perlindungan dan Pengelolahan Lingkungan Hidup. "Kalau berkaca pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 98 ayat (1) bahwa setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama sepuluh tahun. Dan denda paling sedikit Rp 3 miliar dan paling banyak Rp 10 miliar," ungkap Wahyu.

Hanya saja, untuk mengungkap dugaan adanya limbah pabrik sebagai penyebab matinya ribuan ikan di Waduk SIER, menurut Wahyu diperlukan riset lebih mendalam. "Bicara terkait kematian ribuan ikan yang mati di waduk SIER, ada yang mengatakan anomali cuaca dan ada yang bicara faktor lain. Tapi, perlu adanya riset mendalam mengenai kondisi air, apakah ada pencemaran atau tidak. Sehingga bisa tahu soal duduk permasalahan di awal, berdasarkan bukti dari riset," tandas Wahyu.

Sebab, masih menurut Wahyu, ikan mati itu disebabkan banyak faktor. Tapi yang paling umum adalah soal BOD (Biochemical Oxygen Demand) yang membaca soal oksigen terlarut. "Di mana semestinya kadar oksigen tidak boleh lebih rendah dari 5 mg/ liter atau 5 ppm (part per million), nantinya ikan dan organisme lainnya akan mati," ujar Wahyu.

Riset ini dan secara tupoksi soal pencemaran, lanjut Wahyu, harusnya menjadi tanggung jawab dari Dinas Lingkungan Hidup Surabaya untuk bekerja secara objektif dan sesuai dengan prinsip UU PPLH (Perlindungan dan Pengelolahan Lingkungan Hidup) Nomor 32 tahun 2009 dan keterbukaan sebagai bentuk demokrasi. "Agar jelas dan gamblang, DLH Surabaya harus menjabarkan temuan dan tindakan," ucap Wahyu.

"Jadi polisi harus koordinasi dengan DLH, karena di UU PPLH juga tidak berbicara soal siapa yang berhak menindak, tapi bicara soal pidana, dan ini lebih khusus lingkungan maka harus dipakai pendekatan sesuai UU PPLH," tukas Wahyu.

Sebelumnya, warga sekitar yang biasa memancing di wilayah Rungkut, ikan tersebut mulai sekarat pada hari Sabtu dan Minggu akhir Mei 2020 lalu. Keesokan harinya, saat warga hendak memancing, banyak ikan yang mati mengambang di atas permukaan waduk. "Pada saat itu saya ikut ambil ikan -ikan itu mas, Senin sudah banyak yang matin saat itu," kata MA, salah satu warga yang enggan namanya disebut.

Menurut MA, ikan-ikan tersebut sekarat sejak pipa PDAM bocor yang berada di kawasan Pabrik Baygon. Airnya mengalir melalui gorong-gorong PT Baygon, PT Jhonson dan PT Coca Cola menuju ke lapangan dan PMK. Warga menduga air dari pipa PDAM tersebut ikut membawa limbah yang dibuang pabrik mengarah ke Waduk.

"Jadi sejak pipa PDAM bocor di kawasan Baygon itu, ikan-ikannya mulai mabuk mas, dan Senin sudah banyak yang mati. Warga sini menduga air itu membawa limbah yang di buang melalui gorong-gorong itu terbawa ke waduk. Karena gorong-gorong itu mengalir hingga ke waduk, " jelas MA.

Warga semakin yakin ribuan ikan itu mati bukan karena faktor cuaca. Sebab, tak hanya ikan Nila dan Mujair yang mati. Tapi ikan patin, ikan mas dan ikan pembersih kaca yang terkenal kuat dengan berbagai kondisi banyak juga yang mati. "Itu yang mati memang banyak Nila dan Jaer (Mujair), tapi ikan pembersih kaca juga banyak yang mati,  padahal pembersih kaca di darat atau lumpur aja kuat mas. Ada beberapa ikan patin dan ikan mas yang mati juga. Kalau faktor cuaca kok rasanya ndak mungkin mati mas," tutur MA.

Sementara itu, Tuaji, Sekretaris Perusahaan PT SIER mengatakan tidak benar ikan-ikan tersebut mati karena limbah, melainkan kekurangan oksigen. Menurut Tuaji, hal ini biasanya terjadi setiap 5 tahun sekali karena anomali cuaca, yaitu hujan deras dengan durasi yang lama dan bersamaan kondisi air laut pasang sehingga lumpur diwaduk tercampur air/keruh sehingga sebagian ikan mati.

"Sebagian besar masih hidup pak, di waduk kami luasnya 11 hektare dan jumlah ikannya banyak sekali mayoritas jenis nila dan mujair, jadi ikan di sana yang mati karena kekurangan oksigen," jelas Tuaji.

Hal ini, lanjut Tuaji, bisa dipastikan dengan hasil analisa air waduk oleh petugas lab air yang dilakukan oleh PT SIER yang mana airnya memang air hujan. Menurutnya, PT SIER memiliki pengolahan limbah komunal yang saat ini diolah secara biologi sebesar 6.500m3 per hari. "Kami memiliki tim yang mampu menganalisa kondisi air bahwa air tersebut derajat polutannya seberapa jauh. Jadi sudah dipastikan bukan limbah," tandasnya. (jim/her/red)