Indah Kurnia Ajak Masyarakat Pahami Mitigasi Resiko Keamanan Transaksi Digital

harianmerahputih.id
Anggota Komisi XI DPR-RI Indah Kurniawati bersama Advisory Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Muslimin Anwar menjadi narasumber diskusi publik dengan tajuk 'Mitigasi Resiko Keamanan Dalam Transaksi Digital'

MERAHPUTIH I SURABAYA - Sekitar 200 orang terdiri dari pelaku UMKM, Perangkat Desa dan pelaku usaha online di Surabaya menghadiri diskusi publik dengan tajuk 'Mitigasi Resiko Keamanan Dalam Transaksi Digital' yang digelar DPR RI Komisi XI dan Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur di  hotel Ibis Basuki Rahmad Surabaya, Kamis (26/10/2023).

Anggota Komisi XI DPR-RI Indah Kurniawati bersama Advisory Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Muslimin Anwar menjadi narasumber dihadapan ratusan peserta diskusi publik tersebut.

Baca juga: Pemkot Surabaya Sisir Jalan Dharmawangsa–Semarang: Trotoar Dibersihkan, Parkir Liar Ditertibkan

Indah Kurnia memaparkan Kelebihan dan Kekurangan teknologi cardless. Teknologi tersebut memudahkan dalam bertransaksi.Bahkan semua terkoneksi dengan Smartphone. Sehingga jangan sekali sekali Handphone PIN kita jatuh ke tangan orang lain.

"Jangan asal nutul (pencet), cermati dulu apabila mau transaksi, apakah sudah benar rekeningnya. Kalau ada aplikasi jangan asal ngeklik. Karena begitu kita melakukan kesalahan langkah untuk menarik kembali itu tidak mudah," kata Indah.

Indah Kurnia berharap para Ketua RT Ketua RW serta  tokoh masyarakat dan tokoh agama harus leader di ranah masing-masing di masyarakat khususnya literasi keuangan.

"Kita semua tahu bahwa yang namanya digitalisasi itu adalah suatu keharusan yang harus kita ikuti tidak bisa kita hindari. Maka dari itu masyarakat harus paham terkait keamanan transaksi digital mereka. Dengan pemahaman yang cukup, sehingga kita tidak menjadi korban. Maka dengan itu kita akan bisa mewujudkan stabilitas sistem keuangan yang baik," pesan Indah.

Pada kesempatan yang sama, Advisory Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Muslimin Anwar menuturkan perkembangan teknologi, ekonomi dan sistem pembayaran masyarakat Indonesia memunculkan banyak tantangan dan resiko. Termasuk yang terjadi saat ini, yakni banyak masyarakat yang menjadi korban penipuan online.

Untuk itu, seiring berkembangnya modus kejahatan pada transaksi digital, pengguna harus selalu waspada dan paham bagaimana bertransaksi digital secara aman.

Muslimin juga mengingatan agar masyarakat hati-hati dalam melakukan transaksi keuangan, terutama menggunakan gawai. Kata dia, jika salah ketik satu huruf atau angka maka berakibat fatal.

Baca juga: Untag Surabaya Mantapkan Langkah Global, Gandeng UTHM Malaysia Perkuat Riset dan Akademik

"Jika mau transfer di cek berkali-kali dulu, benar apa tidak. Jangan sampai salah ke orang lain. Nomornya harus tepat. Kalu 11 digit yang pastikan 11 digit. Nama juga harus tepat. sebelum kirim cek dan ricek. Jangan sampai ada kesalahan," tuturnyan.

Dalam kesempatan ini, Bank Indonesia membagikan tips aman bertransaksi digital. Pertama, jaga kerahasiaan data pribadi. 

Muslimin menjelaskan, data pribadi seperti user ID, pin, password, dan kode OTP yang merupakan kode keamanan akun tidak boleh diketahui orang lain.

"Jangan mau diarahkan untuk memberitahukan kode rahasia tersebut kepada pihak yang mengaku operator penyelenggara, termasuk mengisi link atau tautan," tuturnya.

Kemudian, agar tetap aman maka password harus dibuat tidak mudah ditebak. "Jangan menggunakan tanggal lahir atau nama. Jangan menggunakan data pribadi seperti nomor telephon, email, alamat, nomor identitas dan lainnya di media sosial," ucapnya.

Baca juga: Satpol PP Sisir Jalan Johar–Sulung, Pemkot Surabaya Tertibkan PKL dan Parkir Liar

Tips selanjutnya, dalam bertransaksi digital harus menggunakan gadget milik pribadi dan selalu logout setelah selesai bertransaksi. Dalam bertransaksi hanya menggunakan situs atau aplikasi yang resmi dan berizin, antara lain yang bertanda centang biru pada instagram.

Saat melakukan transaksi pembayaran di web, pastikan terdapat protokol HTTPS dan logo  "gembok" pada website.

"Jangan mudah percaya tawaran hadiah dan jangan meng-klik tautan atau link mencurigakan yang berindikasi Phising. (red)

 

Editor : prass prasetyo

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru