MERAHPUTIH I SURABAYA - Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya melaksanakan kampanye bertajuk Hari Aksi Panas di kawasan Car Free Day (CFD) Taman Bungkul, Surabaya, Minggu (2/6/2024) pagi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya paparan panas berlebih serta cara-cara pencegahannya.
Dalam kampanye tersebut, PMI Surabaya berkolaborasi dengan sejumlah komunitas dan organisasi kemanusiaan, seperti Komunitas Surabaya Angklung Percussion, Palang Merah Remaja (PMR), Korps Sukarela (KSR), Duta Lingkungan Tunas Hijau, dan Komunitas Pekerja Luar Ruang. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari pengurus PMI Pusat, PMI Provinsi Jawa Timur, serta Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).
Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota
Ketua PMI Kota Surabaya, Ikhsan, menyatakan bahwa Kota Pahlawan telah berupaya melakukan penanaman pohon dan memperbanyak taman sejak beberapa tahun lalu sebagai langkah mengurangi suhu dan meningkatkan kualitas udara di Surabaya.
"Kita melakukan penanaman pohon, kemudian banyak juga taman-taman di Surabaya. Jadi walaupun suhunya panas, tapi terasa lebih adem di Kota Surabaya," kata Ikhsan di sela kegiatan Kampanye Hari Aksi Panas.
Dengan kondisi suhu panas ekstrem saat ini, Ikhsan menekankan perlunya perhatian bersama. Dalam kampanye ini, pihaknya memberikan edukasi dan mengajak masyarakat untuk melindungi diri sendiri serta keluarga dari dampak suhu panas.
"Kami hari ini juga membagikan banyak bibit tanaman, selain ini sebagai contoh, diharapkan kita bisa bersama-sama memanfaatkan lahan-lahan kosong yang ada di sekitar kita," jelasnya.
Pengurus Bidang Hubungan Internasional PMI Pusat, Niniek Kun Naryatie, menyampaikan bahwa selain bergerak di bidang kemanusiaan, PMI juga memiliki tugas untuk meningkatkan wawasan dan kesadaran masyarakat mengenai dampak cuaca panas yang dapat menyebabkan heatstroke.
"Kita semua tahu dampaknya, tetapi kita harus melakukan sesuatu sebagai organisasi kemanusiaan, karena ternyata dampak dari (panas) ekstrem itu akan menimbulkan krisis kemanusiaan yang jauh lebih besar," kata Niniek.
Niniek juga menjelaskan bahwa panas ekstrem dapat menimbulkan krisis kemanusiaan di berbagai sektor, termasuk kesehatan, pertanian, dan memperlebar kelompok-kelompok rentan.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
"Kalau dulu kita hanya mengetahui kelompok rentan lansia, anak-anak, ibu hamil, tetapi ekstrem ini kelompok rentannya termasuk para pekerja luar ruang, seperti ojek, petani, PKL, pekerja konstruksi yang bekerja di luar," ujarnya.
Melalui kampanye aksi ini, PMI ingin memberikan kesadaran dan edukasi kepada masyarakat tentang cara melindungi diri sendiri dan keluarga.
"Kita juga berharap PMI di pusat maupun daerah bisa memberikan masukan kepada pemerintah daerah, agar mengeluarkan kebijakan publik yang pro untuk melindungi kelompok rentan ini," pungkasnya. (red)
Editor : prass prasetyo