Trans Laut Jatim Siap Melaju: Alternatif Baru Hubungkan Jawa dan Kepulauan Madura

harianmerahputih.id
Kepala Dinas Perhubungan Jatim, Nyono

MERAHPUTIH I MOJOKERTO — Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menggebrak sistem transportasi massal. Setelah sukses dengan pengoperasian Trans Jatim yang kini sudah menghubungkan kota-kota besar melalui jalur darat, Pemprov Jatim tengah bersiap meluncurkan program Trans Laut. Moda baru ini akan menjangkau kawasan kepulauan dengan menggunakan kapal cepat, menawarkan rute strategis yang selama ini minim akses transportasi.

Salah satu rute perdana yang segera direalisasikan adalah Probolinggo–Sumenep. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, rute tersebut akan menjadi wajah baru konektivitas antarwilayah yang selama ini sulit dijangkau dengan moda konvensional. Tak hanya menjawab kebutuhan mobilitas warga kepulauan, rute ini juga dirancang untuk mendorong geliat ekonomi dan pariwisata pesisir.

Baca juga: Jatim Borong Dua Penghargaan Kesehatan Nasional, Bukti Komitmen Jaga Sanitasi dan Lingkungan Sehat

"Trans Laut ini bagian dari cita-cita konektivitas Jawa Timur. Kami ingin daerah-daerah kepulauan, khususnya di Madura, bisa terkoneksi lebih cepat, lebih terjangkau, dan nyaman," ujar Khofifah usai meresmikan Trans Jatim Koridor VI di Terminal Mojosari, Mojokerto, Senin (26/5).

Dalam sambutannya, Khofifah juga memaparkan bahwa proyek Trans Laut tidak hanya menyasar Madura, tapi juga rute-rute lintas pulau yang lebih jauh. Sedikitnya ada empat rute pelayaran yang digagas Pemprov: Banyuwangi (Pantai Boom) – Denpasar (Pelabuhan Serangan), Ketapang – Balikpapan, Jangkar (Situbondo) – Balikpapan, serta Probolinggo – Sumenep.

"Rute Ketapang-Balikpapan ini kami harapkan bisa menjadi salah satu jalur alternatif menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Ini penting sebagai dukungan logistik dan konektivitas antarwilayah timur Indonesia," tutur Khofifah.

Khusus untuk rute Probolinggo–Sumenep, pemerintah menerapkan skema buy the service (BTS), yakni model subsidi dari pemerintah kepada operator pelayaran.

Kepala Dinas Perhubungan Jatim, Nyono, mengatakan bahwa saat ini proses pengadaan jasa operator sudah berjalan. Jika tak ada aral melintang, layanan ini akan diresmikan bertepatan dengan Hari Jadi Pemprov Jatim pada 12 Oktober mendatang.

“Tarif yang direncanakan sangat terjangkau, hanya Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu per penumpang dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Ini akan membuka akses besar bagi masyarakat pesisir dan kepulauan,” ujar Nyono.

Baca juga: Bukan Ancaman, Trans Jatim Justru Menghidupkan Angkot Kota Batu

Ia menyebut, pelayaran ini akan menggunakan kapal cepat berkapasitas 300 penumpang. Rute reguler harian (weekday) akan mencakup Probolinggo – Gili Ketapang – Gili Mandangin – Pelabuhan Branta (Pamekasan). Sedangkan pada akhir pekan dan hari libur panjang, kapal akan melanjutkan perjalanan ke Gili Genting, Gili Labak, hingga Gili Iyang di Sumenep.

"Wilayah-wilayah ini selama ini seperti terputus dari arus utama Jawa Timur. Kami ingin menghapus ketimpangan akses itu," kata Nyono.

Lebih lanjut, Nyono menekankan bahwa pelayaran ini bukan hanya berfungsi sebagai moda transportasi antarkota, tetapi juga sebagai upaya membuka potensi wisata bahari di sepanjang jalur yang dilintasi. Ia menyebut kawasan seperti Gili Labak dan Gili Iyang memiliki nilai strategis dalam pengembangan wisata berbasis alam dan budaya.

Meski disubsidi pada awalnya, Nyono menegaskan bahwa pemerintah tidak akan selamanya “memanjakan” masyarakat. Ke depan, ketika demand sudah terbentuk dan operator bisa mandiri secara bisnis, skema BTS akan dihentikan secara bertahap.

Baca juga: Jatim Mantapkan Dukungan untuk Swasembada Susu dan Gula, Khofifah: Siap di Garis Terdepan

“Kalau sudah komersial dan viable, maka subsidi akan kami lepas. Dan kami akan fokus ke rute lain yang lebih membutuhkan intervensi pemerintah,” ujarnya lugas.

Untuk tiga rute lain—yakni Pantai Boom–Serangan, Ketapang–Balikpapan, dan Jangkar–Balikpapan—pengelolaannya akan dipercayakan sepenuhnya kepada pihak swasta. Pemprov, melalui Dinas Perhubungan, disebut telah menjalin komunikasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Dinas Perhubungan Bali dan Denpasar.

“Untuk rute Pantai Boom ke Serangan, kami perkirakan waktu tempuh hanya 2,5 hingga 3 jam. Jauh lebih singkat dibanding penyeberangan Ketapang–Gilimanuk yang bisa sampai lima jam. Tiketnya akan di kisaran Rp 275 ribu per penumpang,” imbuh Nyono.(red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru