MERAHPUTIH I DENPASAR — Di tengah lanskap kompetisi sepak bola nasional yang terus bertransformasi, Bali United FC mengambil langkah besar menuju musim 2025/2026 Liga 1 dengan semangat baru. Klub berjuluk Serdadu Tridatu itu memulai perjalanan anyar dengan perubahan besar, mulai dari kursi pelatih kepala hingga perombakan menyeluruh dalam komposisi pemain.
Kepergian Stefano "Teco" Cugurra menandai akhir dari era yang penuh prestasi. Pelatih asal Brasil tersebut bukan hanya membawa Bali United meraih dua gelar juara Liga 1 secara beruntun, tetapi juga menciptakan stabilitas dan identitas permainan yang kuat di skuad Pulau Dewata. Namun, sebagaimana irama kompetisi yang terus berubah, kebersamaan itu kini menjadi bagian dari masa lalu. Teco memilih tantangan baru bersama PS Barito Putera, yang musim depan akan berlaga di Liga 2.
Baca juga: Persebaya Pecat Eduardo Perez, Gejolak di GBT Berbuah Keputusan Besar
Untuk mengisi kekosongan di posisi pelatih kepala, manajemen Bali United mengambil keputusan strategis dengan menunjuk Johnny Jansen, pelatih berpaspor Belanda yang sebelumnya menukangi PEC Zwolle, klub divisi utama Eredivisie Belanda. Penunjukan ini mencerminkan arah baru yang diambil klub: memperkaya pengalaman teknis dan taktik dengan pendekatan sepak bola Eropa Utara yang dikenal sistematis dan berbasis pengembangan pemain muda.
Jansen, yang baru berusia 50 tahun, bukan nama asing di kancah sepak bola Belanda. Ia dikenal memiliki filosofi permainan menyerang yang terstruktur, serta ketertarikan besar terhadap pengembangan sistem pressing dan permainan berbasis penguasaan bola. Hal ini membuka peluang terbentuknya wajah baru permainan Bali United ke depan, meski butuh waktu untuk membangun kohesi di ruang ganti.
Namun, perubahan tidak berhenti di kursi pelatih. Klub juga resmi melepas tidak kurang dari 12 pemain, termasuk beberapa pilar penting. Nama-nama seperti Adilson Maringa, Elias Dolah, Privat Mbarga, hingga Mitsuru Maruoka dan Everton tidak lagi menjadi bagian dari rencana Bali United musim depan. Dua nama terakhir dilepas karena masa peminjamannya berakhir, sementara lainnya memang tak diperpanjang kontraknya.
Bagi para suporter, perpisahan dengan Maringa dan Mbarga terasa paling berat. Maringa, penjaga gawang bertinggi badan 193 sentimeter asal Brasil, telah menjadi sosok tak tergantikan di bawah mistar gawang. Musim lalu, ia mencatatkan 29 penampilan dengan enam kali mencatatkan nirbobol dan 95 penyelamatan, meskipun harus kebobolan 37 kali.
Baca juga: Thom Haye Puji Kekompakan Tim Usai PERSIB Tundukkan Dewa United
Sementara itu, Privat Mbarga adalah roh serangan Bali United sejak musim 2021/2022. Winger lincah asal Kamerun itu musim lalu menorehkan 10 gol dan delapan assist dalam 32 penampilan, menunjukkan kontribusinya yang vital dalam skema permainan Bali United.
Kehilangan dua figur penting ini, ditambah sederet nama lainnya seperti Novri Setiawan dan Sidik Saimima, menciptakan tantangan besar bagi Jansen dalam membentuk fondasi baru. Apalagi, hingga kini belum ada satu pun pengumuman resmi terkait kedatangan pemain anyar. Hal ini menimbulkan tanda tanya, sejauh mana kesiapan klub dalam menyongsong musim baru yang akan segera bergulir.
Meski begitu, Bali United tetap menjaga stabilitas di beberapa lini dengan memperpanjang kontrak sejumlah pemain kunci. Irfan Jaya, Brandon Wilson, dan Muhammad Rahmat menjadi tiga nama yang telah menandatangani kontrak baru, memperlihatkan komitmen klub untuk menjaga inti kekuatan di tengah masa transisi.
Baca juga: Persebaya Gagal Maksimalkan Keunggulan Pemain, Arema Pulang dengan Satu Poin dari GBT
Langkah peremajaan skuat dan pendekatan pelatih baru ini bisa dibaca sebagai upaya jangka panjang klub untuk menyegarkan arah pembangunan tim, menyusul stagnasi performa di beberapa musim terakhir meski tetap bersaing di papan atas.
Dengan Liga 1 2025/2026 yang semakin kompetitif, dan munculnya kekuatan baru dari klub-klub luar Jawa, Bali United seolah dihadapkan pada momen redefinisi identitas. Mereka tidak hanya harus menambal kekosongan pemain, tetapi juga menyelaraskan filosofi sepak bola Eropa yang dibawa Jansen dengan kultur sepak bola lokal dan ekspektasi tinggi dari publik Bali.
Sebagaimana sepak bola tak pernah mengenal garis akhir, Bali United pun kini memulai lagi dari titik nol. Babak baru telah dibuka, dan pertanyaan utamanya adalah: seberapa cepat Serdadu Tridatu dapat beradaptasi dan kembali menjadi kekuatan dominan di Liga 1? (RED)
Editor : Redaksi