MERAHPUTIH I TEMANGGUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperluas jangkauan konektivitas digital hingga ke pelosok desa. Komitmen tersebut diwujudkan dalam bentuk fasilitasi internet untuk wilayah-wilayah yang selama ini masih masuk dalam kategori blankspot desa tanpa akses jaringan internet yang memadai.
Pada 2025 mendatang, sedikitnya 165 hingga 170 desa yang belum tersentuh layanan internet direncanakan akan mendapatkan intervensi. Langkah ini menjadi bagian dari program prioritas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam membuka akses digital demi mendorong percepatan pembangunan, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi warga.
Baca juga: DPN Soroti Kerentanan Jateng, Pertahanan Nonmiliter Jadi Fokus Utama
Dalam kunjungan kerjanya di Pendopo Pengayoman, Kabupaten Temanggung, Selasa (15/7/2025), Ahmad Luthfi menyerahkan bantuan fasilitas internet senilai Rp 405 juta lebih kepada enam desa, yakni Pitrosari, Ngadisepi, Kerokan, Petirejo, Canggal, dan Ngadimulyo.
“Internet adalah kebutuhan dasar di era sekarang. Bukan sekadar untuk hiburan, melainkan jembatan menuju kemajuan. Di Temanggung, kita pastikan tidak ada lagi desa yang gelap jaringan,” ujar Luthfi dalam sambutannya.
Desa Petirejo, Kecamatan Ngadirejo, menjadi salah satu penerima bantuan. Kepala desa setempat, Alwiyono, mengaku bahwa bantuan internet berkecepatan 100 Mbps telah membawa perubahan signifikan terhadap kualitas layanan pemerintahan desa.
“Sebelumnya kami sering mengalami hambatan karena koneksi internet yang sangat lambat. Sekarang, pelayanan publik bisa dilakukan lebih cepat dan efisien,” ujar Alwiyono. Ia juga menambahkan, infrastruktur digital ini membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata desa.
Baca juga: Peresmian Lima Infrastruktur Baru: Prabowo Tegaskan Konektivitas Jadi Tulang Punggung Pemerataan
“Kami punya Beji Waterpark. Dengan jaringan internet yang kuat, promosi wisata bisa dilakukan secara digital, bahkan menjangkau wisatawan dari luar daerah,” imbuhnya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Tengah, Agung Hariyadi, menyampaikan bahwa program perluasan jaringan internet desa tak hanya menyasar wilayah blankspot, tetapi juga desa-desa wisata dan desa miskin yang menjadi binaan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
“Tahun depan, selain intervensi di 165 hingga 170 desa blankspot, ada pula 91 desa lain yang mendapatkan fasilitas serupa. Targetnya, seluruh desa di Jawa Tengah akan terkoneksi internet pada 2029,” terang Agung.
Baca juga: Posyandu Enam SPM Dikebut, Jateng Siapkan Lompatan Layanan Publik
Ia menekankan, dalam konteks pembangunan saat ini, infrastruktur digital sama pentingnya dengan pembangunan jalan dan jembatan.
“Konektivitas bukan hanya fisik. Internet adalah jembatan komunikasi, pendidikan, hingga peluang ekonomi. Ketika desa terkoneksi secara digital, maka terbuka pula akses masyarakat untuk tumbuh bersama,” tegasnya.
Program ini menjadi bagian dari pendekatan pembangunan yang lebih inklusif dan berorientasi pada keadilan teknologi. Di tengah pesatnya laju digitalisasi nasional, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya memastikan bahwa tidak ada satu pun desa tertinggal dalam transformasi digital. (red)
Editor : Redaksi