MERAHPUTIH I SURABAYA — Industri mode Jawa Timur kembali menegaskan denyut kebangkitannya melalui gelaran East Java Fashion Tendance (EJFT) 2026, agenda tahunan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) BPD Jawa Timur. Mengusung tema “Re-Imagine”, ajang ini tidak sekadar menjadi panggung peragaan busana, melainkan ruang refleksi sekaligus proyeksi masa depan fesyen di tengah dinamika industri kreatif yang terus bergerak.
Bertempat di New Life Hall Ciputra World Mall Surabaya, Rabu (14/1/2026), East Java Fashion Tendance 2026 menghadirkan beragam karya busana dari para perancang mode Jawa Timur. Koleksi-koleksi yang ditampilkan merepresentasikan semangat pembaruan, eksplorasi ide, serta keberanian desainer dalam menafsir ulang identitas fesyen lokal agar relevan dengan selera pasar nasional hingga global.
Baca juga: Lia Istifhama Konsisten Kawal Aspirasi Daerah, Empat Isu Strategis Jatim Dibawa ke Senayan
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, menegaskan bahwa tema Re-Imagine dipilih sebagai ajakan untuk melampaui batas konvensional dalam berkarya. Menurutnya, fesyen tidak lagi hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga harus memiliki nilai ekonomi yang kuat dan daya saing industri.
“Melalui tema Re-Imagine, kami berharap para desainer dapat menghadirkan karya-karya terbaik yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki kekuatan ekonomi dan mampu mendorong pertumbuhan industri kreatif di Jawa Timur,” ujar Evy.
Ia menambahkan, penyelenggaraan East Java Fashion Tendance merupakan bagian dari strategi memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif nasional. Fesyen, kata Evy, menjadi medium penting untuk mempromosikan kekayaan budaya sekaligus membangun citra daerah yang modern dan berdaya saing di mata dunia.
Dalam gelaran tahun ini, Re-Imagine menampilkan karya dari 16 desainer terkemuka Jawa Timur, di antaranya Gita Orlin, Wiwied Mayasari, Yeni Ries, Lilik Suhariyati, Riris Gofir, Safana, Ulfa Mumtaza, Lia Afif, Ura by Aura Afilia, Elok, Belahasura, Nia Roys, Dahayu, Yan Kurin, Yusy Martha, dan Melia Wijaya. Setiap koleksi hadir dengan karakter kuat, memadukan sentuhan tradisi, inovasi material, serta pendekatan desain yang menjawab kebutuhan pasar masa kini.
Baca juga: Khofifah Ajak Jadikan Isra’ Mi’raj Momentum Perbaiki Disiplin Ibadah dan Sikap Sosial
Lebih jauh, Evy berharap East Java Fashion Tendance 2026 mampu semakin mengukuhkan Surabaya sebagai kota mode dan trendsetter fesyen. Ia menilai konsistensi penyelenggaraan ajang ini menjadi modal penting untuk membangun ekosistem mode yang berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap Surabaya semakin kukuh sebagai kota mode dan mampu menjadi acuan tren fashion, tidak hanya di Jawa Timur tetapi juga di Indonesia,” katanya.
Tak hanya berdampak pada industri mode, Evy juga menilai East Java Fashion Tendance memiliki efek ganda terhadap sektor pariwisata. Ajang fesyen berskala regional ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara ke Surabaya, sekaligus menjadi etalase promosi destinasi wisata lain di Jawa Timur.
Baca juga: Aries Agung Paewai: Jawa Timur Siap Jadi Pilot Project Sekolah Garuda
Sebagai wadah ekspresi kreatif anggota APPMI BPD Jawa Timur, East Java Fashion Tendance secara konsisten mendorong lahirnya rancangan-rancangan inovatif. Peragaan busana tahunan ini menjadi referensi penting bagi arah tren fesyen 2026 dan tahun-tahun mendatang, sekaligus membuka peluang kolaborasi bisnis yang lebih luas.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas perancang, khususnya dalam aspek promosi, penjualan, dan negosiasi, serta menumbuhkan apresiasi publik terhadap peran strategis industri mode. Lebih dari itu, East Java Fashion Tendance diharapkan mampu menggali, mengembangkan, dan melestarikan nilai-nilai budaya daerah, sekaligus memberi ruang bagi desainer muda untuk tampil dan berkontribusi dalam memajukan industri mode Indonesia di kancah nasional maupun internasional.
Dengan semangat Re-Imagine, East Java Fashion Tendance 2026 menjadi penanda bahwa fesyen Jawa Timur tak hanya bangkit, tetapi juga siap melangkah lebih jauh, menjahit kreativitas, ekonomi, dan identitas budaya dalam satu tarikan benang masa depan.(dpr)
Editor : Redaksi