MERAHPUTIH I SURABAYA – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengawali dengan langkah spiritual. Sabtu (14/2), ia berziarah ke makam ayahandanya, KH Masykur Hasyim, dalam suasana khidmat dan penuh refleksi.
Tanggal yang bertepatan dengan Hari Valentine itu dimaknai berbeda oleh senator yang akrab disapa Ning Lia tersebut. Baginya, cinta tidak berhenti pada simbol dan perayaan, tetapi juga hadir dalam doa yang tulus untuk orang tua dan leluhur yang telah lebih dulu berpulang.
Baca juga: Sambut Ramadhan 1447 H, Khofifah Salurkan 290 Paket Sembako di Surabaya
Dalam ziarah tersebut, Ning Lia didampingi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang juga merupakan tantenya. Selain berdoa di pusara sang ayah, ia turut menziarahi makam kakak kandung, kakek-nenek, serta anggota keluarga besar lainnya.
Dengan balutan kesederhanaan, Ning Lia menabur bunga di atas pusara ayahandanya, dilanjutkan doa bersama untuk para leluhur. Suasana hening menyelimuti area pemakaman, menghadirkan momen perenungan menjelang Ramadan.
“Bagi saya, ziarah makam itu penting. Ini momentum untuk mendoakan orang tua dan mengingatkan diri bahwa kita pun akan menyusul. Ramadan adalah bulan penyucian jiwa, maka kita awali dengan doa dan refleksi,” ujar Ning Lia.
Baca juga: Jawa Timur Deklarasikan Perang Total terhadap Narkoba, Desa Jadi Garda Terdepan
Ia menegaskan, ziarah kubur memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Ning Lia mengutip hadis Rasulullah SAW dari Ma’qil bin Yasar RA: “Bacakanlah atas orang yang mati di antara kamu dengan bacaan surah Yasin” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
Dalam literatur klasik seperti Bulughul-Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani, disebutkan bahwa Rasulullah SAW juga kerap berziarah kubur semasa hidupnya. Riwayat tersebut diperkuat hadis hasan dari Imam Tirmidzi, termasuk doa Rasulullah saat melewati pemakaman di Madinah: “Assalamualaikum ya ahlal-kubur, yaghfirullahu lana wa lakum…” yang mengandung makna keselamatan dan ampunan bagi yang telah mendahului maupun yang masih hidup.
Baca juga: Lia Istifhama: Desa Kuat, Indonesia Bebas Narkoba
Bagi Ning Lia, ziarah bukan sekadar tradisi, melainkan pengingat akan hakikat kehidupan dan kematian. Menjelang Ramadan, ia menilai tradisi ini sebagai langkah awal membersihkan hati, mempererat silaturahmi keluarga, serta memperkuat kesadaran dalam menjalankan amanah sebagai hamba Allah dan wakil rakyat.
“Cinta sejati bukan sekadar simbol perayaan, tetapi doa yang tak pernah putus bagi orang-orang tercinta yang telah mendahului, serta melanjutkan perjuangannya,” tutupnya.(dpr)
Editor : Redaksi