Bajol Ijo Tersungkur di Jepara: Alarm Nyaring untuk Persebaya

harianmerahputih.id
Bernardo Tavares ketika berada di tepi lapangan saat menghadapi Persijap. (Persebaya)

MERAHPUTIH I JEPARA - Kekalahan itu bukan sekadar tiga poin yang melayang. Di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (21/2) malam, Persebaya Surabaya dipaksa menelan pil pahit usai dibungkam 1-3 oleh Persijap Jepara pada pekan ke-22 Super League. Skor mungkin hanya angka, tetapi cara kekalahan itu terjadi menyisakan pertanyaan besar tentang kesiapan, disiplin, dan konsistensi Bajol Ijo.

Datang dengan target mencuri poin, Persebaya justru tampil jauh dari identitasnya. Sejak menit awal, aliran bola tersendat, jarak antar lini renggang, dan koordinasi pertahanan seperti kehilangan komando. Tuan rumah membaca situasi dengan jeli, menekan di momen yang tepat, memaksa kesalahan, lalu menghukum tanpa ampun.

Baca juga: Derby Jatim Membara di Pamekasan, Madura United dan Arema FC Berbagi Angka

Tiga gol bersarang di gawang yang dijaga Ernando Ari. Sebuah malam panjang bagi penjaga gawang muda itu, yang lebih sering berhadapan dengan situasi sulit akibat kelengahan lini di depannya. Penalti Bruno Moreira di masa injury time hanya menjadi kosmetik statistik, mempersempit skor tanpa pernah benar-benar mengancam hasil akhir.

Pelatih Bernardo Tavares tidak berusaha menyamarkan kekecewaan. Ia bicara lugas, bahkan keras. Terlalu banyak kesalahan elementer, terlalu mudah kehilangan bola, dan terlalu rapuh saat menghadapi transisi cepat lawan.

“Kami melakukan cukup banyak kesalahan. Mereka memanfaatkan peluang yang kami berikan. Itu tidak normal bagi kami, terutama kebobolan dari situasi transisi setelah kehilangan bola. Kami juga kebobolan dari bola mati dan tendangan bebas.”
Pernyataan itu bukan sekadar evaluasi pascalaga. Ia adalah alarm. Dalam pertandingan sebelumnya melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC, pola serupa sudah terlihat. Set piece kembali menjadi titik lemah. Dalam dua laga terakhir, empat gol lahir dari skema yang sama—situasi yang seharusnya bisa diantisipasi lewat latihan, analisis, dan disiplin organisasi.

Baca juga: GBLA Membara, PERSIB Usung Misi Revans dan “Move On” Hadapi Persita

Ini bukan lagi soal “hari buruk”. Ini tentang pola yang berulang.

Secara kualitas individu, Persebaya tidak kalah materi. Namun sepak bola modern tidak dimenangi oleh nama besar di atas kertas. Ia dimenangi oleh detail, penempatan posisi, komunikasi, timing menutup ruang, dan ketenangan saat membangun serangan. Di Jepara, detail-detail itu hilang. Persijap tampil lebih lapar, lebih siap, dan lebih tajam membaca celah.

Baca juga: Dipermalukan di Jepara! Persebaya Tersungkur, Persijap Hancurkan Asa Bajol Ijo 3-1

Tavares mengakui timnya belum stabil. Kadang tampil meyakinkan, kadang tenggelam tanpa perlawanan berarti. Inkonsistensi ini yang paling berbahaya. Sebab di papan klasemen, tidak ada ruang bagi tim yang naik-turun emosinya.

Kini waktu menjadi musuh sekaligus peluang. Persebaya tak bisa lama-lama meratapi luka. Di Stadion Gelora Bung Tomo, mereka sudah ditunggu ujian berikutnya melawan PSM Makassar pada Rabu (25/2). Laga kandang yang tak lagi sekadar tentang tiga poin, melainkan tentang harga diri.(sub)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru