MERAHPUTIH I MALANG – Ramadan tahun ini menghadirkan warna berbeda di Kota Malang. Di tengah hangatnya suasana berbuka puasa, ribuan warga memadati Taman Krida Budaya, Minggu (22/2), saat Khofifah Indar Parawansa hadir dalam Festival Takjil Ramadan yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kehadiran orang nomor satu di Jawa Timur itu bukan sekadar meninjau festival kuliner Ramadan. Agenda tersebut dirangkai dengan penyerahan Apresiasi Seniman dan Pelaku Budaya, Tunjangan Kehormatan bagi Juru Pelihara Cagar Budaya, serta penghargaan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Momentum ini menjadi simbol bahwa penguatan ekonomi rakyat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Baca juga: Ratusan Pelaku Budaya Terima Apresiasi, Bukti Nyata Keberpihakan Pemprov Jatim
Sejak siang hari, ratusan stan telah ramai diserbu pengunjung. Deretan tenda berdiri di sisi kanan dan kiri kawasan, menawarkan aneka hidangan berbuka mulai dari jajanan tradisional hingga kuliner kekinian.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, menjelaskan bahwa Pasar Takjil Ramadan telah berlangsung sejak 18 Februari 2026 dan akan berakhir pada 17 Maret 2026.
“Saat ini ada 130 stan di sisi kiri dan kanan. Nanti tanggal 28 akan bertambah 100 stan lagi di sisi depan Taman Krida Budaya ini,” ujarnya.
Penambahan jumlah stan tersebut menunjukkan tingginya animo pelaku usaha. Evy menegaskan, partisipasi tidak hanya datang dari UMKM Kota Malang, tetapi juga dari Kabupaten Malang. Keterlibatan lintas wilayah ini memperlihatkan bahwa geliat ekonomi yang tercipta bersifat inklusif.
“Ini menjadi penguatan UMKM di Malang Raya. Yang berjualan tidak hanya dari Kota Malang, tetapi juga dari Kabupaten Malang,” tambahnya.
Lebih dari sekadar festival musiman, kegiatan ini merupakan implementasi arahan gubernur terkait optimalisasi pemanfaatan aset daerah. Taman Krida Budaya yang sebelumnya lebih dikenal sebagai ruang pertunjukan seni, kini berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif.
Baca juga: Presiden Prabowo: Kampung Haji di Makkah Jadi Kehormatan Besar bagi Indonesia
Menurut Evy, pengelolaan kawasan dilakukan secara kolaboratif. Disbudpar Jatim menggandeng Bappeda, PU SDA, Satpol PP, serta Dinas Perhubungan untuk memastikan tata kelola berjalan maksimal. Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Kota Malang.
Hasilnya mulai terlihat. Selama penyelenggaraan event, pendapatan pedagang kaki lima dilaporkan meningkat hingga 250 persen. Para seniman pun memperoleh ruang tampil yang konsisten, yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan mereka.
“Intinya, kami ingin aset pemerintah ini tidak hanya menjadi tempat pelestarian budaya, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi bagi seniman dan pelaku UMKM lokal,” tegasnya.
Aspek kenyamanan dan keamanan pengunjung juga menjadi perhatian utama. Penataan lalu lintas, pengawasan ketertiban, hingga kebersihan kawasan dikoordinasikan bersama lintas OPD agar masyarakat dapat menikmati suasana Ramadan dengan aman.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan komitmen Pemkot dalam mendukung pengembangan Taman Krida Budaya.
Baca juga: Presiden Prabowo: NU Pilar Persatuan Bangsa Sejak Pra-Kemerdekaan
“Kami melihat sendiri bagaimana tempat ini kini menjadi pusat ekonomi kerakyatan melalui Pasar Takjil Ramadan dan berbagai pagelaran seni. Sinergi Pemprov Jatim dan Pemkot Malang membuktikan bahwa ruang publik yang dikelola dengan baik berdampak langsung pada kesejahteraan UMKM dan seniman lokal,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Timur atas dukungan yang selama ini diberikan bagi kemajuan Kota Malang.
“Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi berkah bagi pelestarian budaya di Jawa Timur,” tuturnya.
Festival Takjil Ramadan di Taman Krida Budaya memperlihatkan wajah baru pengelolaan aset publik. Ruang budaya tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi simpul ekonomi kerakyatan. Di bulan suci ini, Malang tidak hanya menghadirkan semangat berbagi hidangan berbuka, tetapi juga berbagi harapan akan tumbuhnya kesejahteraan dan lestarinya budaya daerah.
Editor : Redaksi