MERAHPUTIH I TULUNGAGUNG – Semangat lulusan SMK Jawa Timur untuk menembus pasar kerja internasional terus menunjukkan tren positif. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara langsung menghadiri pelepasan program magang luar negeri bagi murid SMK negeri dan swasta serta alumni pekerja migran asal Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan di SMK Sore Tulungagung, Kamis (14/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, ribuan siswa dan alumni bersiap diberangkatkan ke berbagai negara tujuan seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Jerman, Turki, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi. Program ini menjadi salah satu langkah konkret Pemprov Jatim dalam memperluas konektivitas lulusan vokasi dengan kebutuhan tenaga kerja global.
Baca juga: Revitalisasi Sekolah dan Program SIKAP Jadi Strategi Jatim Cetak SDM Unggul dan Mandiri Pangan
Di hadapan para peserta, Khofifah menegaskan bahwa isu ketenagakerjaan global saat ini sangat erat dengan kemampuan serapan kerja atau employability dari lulusan pendidikan.
“Sekarang yang menjadi perhatian dunia adalah soal employability. Bagaimana lulusan lembaga pendidikan bisa terserap di dunia kerja. Karena kewenangan Pemprov ada di SMA, SMK, dan SLB, maka kami bersyukur SMK negeri maupun swasta di Jawa Timur mampu membangun konektivitas ruang kerja di berbagai negara,” kata Khofifah.
Menurutnya, keberhasilan SMK Jawa Timur menembus pasar internasional tidak lepas dari kesiapan kompetensi serta penguasaan bahasa asing para siswa. Ia menilai kemampuan bahasa menjadi faktor penting dalam proses seleksi tenaga kerja di luar negeri.
“Yang ke Korea Selatan harus menguasai bahasa Korea, yang ke Jepang harus bisa bahasa Jepang. Yang ke Turki dituntut fasih bahasa Inggris, sementara yang ke Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab tentu harus menguasai bahasa Arab,” ujarnya.
Khofifah menjelaskan, sektor pekerjaan yang digeluti para lulusan juga semakin beragam. Mulai manufaktur, pertanian, perhotelan, hingga pekerjaan dengan spesialisasi tinggi seperti welding atau pengelasan bawah laut di Jerman.
“Saya tadi tanya yang ke Jerman, ternyata sektor welding bawah laut permintaannya tinggi sekali. Ada juga yang ke Jepang bekerja di sektor pertanian selama lima tahun. Artinya diversifikasi profesi lulusan SMK sekarang semakin luas,” tuturnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya integrasi antara keterampilan teknis dan penguasaan bahasa asing agar lulusan SMK Jawa Timur semakin kompetitif di level internasional.
“Skill dan bahasa harus menyatu. Ini menjadi modal utama mereka ketika berhadapan langsung dengan user atau perusahaan di luar negeri,” tegasnya.
Khofifah juga mengungkapkan bahwa pemberangkatan peserta secara kolaboratif tingkat Jawa Timur awalnya dijadwalkan pada 19 Mei 2026. Namun jadwal tersebut menyesuaikan arahan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sehingga pelaksanaan akan dilakukan pada 20 Mei mendatang.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan bahwa para peserta magang dan pekerja migran bukan sekadar pencari kerja, tetapi juga menjadi pahlawan devisa bangsa.
“Anak-anakku sekalian bukan hanya mencari kerja, tapi kalian adalah pahlawan devisa. Kebanggaan bangsa, kebanggaan Jawa Timur,” ujarnya penuh semangat.
Baca juga: Jatim Kokoh di Puncak Prestasi Nasional, Koleksi 45.839 Medali dari Berbagai Ajang Talenta
Aries memaparkan, pada tahun 2026 terdapat 3.186 peserta magang kerja luar negeri serta 1.734 alumni pekerja migran yang kembali bekerja di luar negeri. Dengan demikian, total terdapat 4.920 potensi penempatan kerja internasional dari 112 SMK negeri dan swasta di Jawa Timur.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 51 merupakan SMK negeri dan 61 lainnya SMK swasta. Aries menilai kontribusi sekolah swasta sangat signifikan dalam membangun pendidikan vokasi yang kompetitif secara global.
“Ini menunjukkan pendidikan vokasi di Jawa Timur tumbuh bersama, baik negeri maupun swasta,” katanya.
Jepang masih menjadi negara tujuan paling dominan karena tingginya kebutuhan tenaga kerja dan kepercayaan perusahaan terhadap lulusan SMK Jawa Timur. Aries menyebut hal itu menjadi bukti bahwa lulusan SMK Jatim kini telah masuk dalam rantai tenaga kerja global.
Kabupaten Tulungagung tercatat sebagai daerah penyumbang peserta terbesar di Jawa Timur dengan total 1.628 peserta. Disusul Kabupaten Madiun, Sidoarjo, Pasuruan, Kota Malang, hingga Tuban.
“Yang menarik bukan hanya jumlahnya, tapi persebarannya. Program ini tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi tumbuh di berbagai daerah di Jawa Timur,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa SMK Swasta Sore Tulungagung menjadi sekolah penyumbang peserta terbesar dengan 718 peserta. Kemudian disusul SMKN 1 Bandung Tulungagung, SMKN 1 Tulungagung, SMK PGRI 1 Mejayan, dan SMKN 1 Ngasem.
Baca juga: Organda Jatim Siapkan Strategi Transportasi Penopang Ketahanan Pangan Nasional
Menurut Aries, keberhasilan sekolah-sekolah tersebut tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang dalam membangun budaya disiplin, penguasaan bahasa asing, serta koneksi industri internasional.
“Kalau sekolah serius membangun budaya kerja, disiplin, bahasa asing, dan koneksi dunia industri, maka peluang global akan terbuka lebar bagi anak-anak kita,” ujarnya.
Peluang kerja internasional bagi lulusan SMK Jawa Timur juga disebut semakin luas karena mencakup hampir seluruh bidang kompetensi. Mulai teknik mesin, otomotif, listrik, kesehatan, farmasi, kuliner, bisnis digital, teknologi informasi, hingga energi.
“Dunia kerja internasional sekarang tidak hanya membutuhkan tenaga kerja fisik, tapi juga tenaga kerja berbasis teknologi dan kompetensi modern. Ini membuktikan SMK Jawa Timur mulai selaras dengan kebutuhan industri global,” katanya.
Aries pun berpesan agar seluruh peserta menjaga nama baik Indonesia dan Jawa Timur ketika bekerja di luar negeri. Menurutnya, keberhasilan para lulusan saat ini akan menjadi jalan bagi generasi berikutnya untuk mendapatkan peluang serupa.
“Jadilah duta karakter bangsa. Tunjukkan bahwa lulusan SMK Jawa Timur bisa hebat dan mampu bersaing di tingkat dunia,” pungkasnya. (pps)
Editor : Redaksi