Solidaritas Surabaya Inklusif, Anak Muda Lintas Iman Rawat Ingatan Tragedi Bom 2018
MERAHPUTIH I SURABAYA - Semangat toleransi dan persaudaraan lintas agama kembali digaungkan dalam peringatan delapan tahun tragedi Bom Surabaya yang digelar komunitas Solidaritas Surabaya Inklusif di GKI Diponegoro, Rabu (13/5/2026).
Sekitar 200 peserta dari enam agama dan satu aliran kepercayaan hadir dalam kegiatan tersebut. Mayoritas peserta merupakan anak-anak muda lintas iman yang datang membawa pesan damai, solidaritas, dan semangat menjaga keberagaman di Kota Pahlawan.
Peringatan itu bukan sekadar mengenang tragedi kelam yang pernah mengguncang Surabaya pada 13 Mei 2018, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Panitia penyelenggara, Imanuel Erlangga, mengatakan tema “Solidaritas Surabaya Inklusif” dipilih sebagai simbol harapan agar luka akibat tragedi bom justru melahirkan semangat persatuan yang lebih kuat di tengah masyarakat.
“Bom ini memang membawa luka. Tapi dari luka itu kami berharap semua bisa tumbuh bersama. Dari awal peringatan ini diadakan, kami ingin membangun komunitas yang solid dan terus merawat kebersamaan,” ujar Imanuel.
Menurutnya, semangat inklusivitas menjadi hal penting dalam menjaga harmoni sosial di Surabaya. Ia berharap seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang agama, ras, maupun latar belakang kepercayaan, dapat hidup berdampingan dengan saling menghormati.
“Harapan kami Surabaya menjadi kota yang lebih inklusif. Tidak berpihak hanya pada satu agama, ras, atau kelompok tertentu, tetapi semua bisa diterima,” katanya.
Imanuel menegaskan kegiatan serupa akan terus diupayakan hadir setiap tahun sebagai bagian dari upaya merawat ingatan kolektif atas tragedi bom Surabaya.
“Selama ini selalu ada kegiatan seperti ini. Kami ingin menjaga ingatan atas peristiwa bom karena dari situlah muncul urgensi bersama untuk merawat keberagaman di Kota Surabaya supaya ke depan tidak ada lagi tragedi seperti ini,” tuturnya.
Suasana reflektif terasa sepanjang acara. Berbagai penampilan seni ditampilkan untuk memperkuat pesan perdamaian, mulai dari drama musikal, pembacaan puisi, paduan suara, hingga pertunjukan seni lintas komunitas.
Momentum itu sekaligus menunjukkan kuatnya toleransi antarumat beragama di Surabaya yang terus terjaga hingga kini, meski kota tersebut pernah mengalami tragedi terorisme yang memilukan.
Sementara itu, dalam khotbahnya, Pendeta Andri mengajak seluruh peserta untuk terus menanamkan nilai kasih dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.
“Cinta dan damai adalah kita saat ini,” ucap Pendeta Andri di hadapan para peserta.
Sebagai informasi, tragedi Bom Surabaya terjadi pada Minggu, 13 Mei 2018. Serangan teroris saat itu menyasar tiga gereja di Surabaya, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.
Peristiwa tersebut menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Delapan tahun berlalu, tragedi itu masih meninggalkan duka mendalam, namun sekaligus melahirkan semangat baru untuk menjaga persatuan dan keberagaman di Surabaya.(pps)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih