MERAHPUTIH I SURABAYA – Suasana haru dan penuh syukur mewarnai kedatangan rombongan jamaah haji Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Amanatul Ummah yang tiba di Asrama Haji Surabaya, Rabu (1/7). Sebanyak 113 jamaah yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 116 Debarkasi Juanda kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.
Kloter 116 menjadi penutup operasional Debarkasi Surabaya pada musim haji 1447 Hijriah/2026. Jamaah KBIHU Amanatul Ummah tersebut berasal dari Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Jakarta. Mereka berangkat melalui Embarkasi Juanda pada 13 Juni 2026 dan kembali pada 1 Juli 2026.
Baca juga: Kloter Terakhir Debarkasi Juanda Tiba, Menteri Haji Sampaikan Salam Presiden untuk Jemaah
Pendiri sekaligus Penasehat KBIHU Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, mengungkapkan rasa syukur karena seluruh jamaah yang didampinginya dapat kembali ke Indonesia tanpa kehilangan satu pun anggota rombongan.
Menurutnya, pelayanan yang diberikan selama penyelenggaraan ibadah haji tahun ini jauh lebih baik dibandingkan musim-musim sebelumnya. Bahkan, jamaah yang mengalami gangguan kesehatan tetap dapat menjalankan ibadah dengan baik berkat pendampingan yang maksimal.
"Alhamdulillah jamaah kami kembali utuh. Memang ada yang menggunakan kursi roda dan ada yang sakit, tetapi semuanya bisa terlayani dengan baik sehingga mereka pulang dengan selamat. Ibadahnya puas, ziarahnya juga puas," ujarnya.
Asep menjelaskan, KBIHU Amanatul Ummah telah menyelenggarakan bimbingan ibadah haji sejak 1996 secara berkesinambungan. Bahkan ketika pandemi Covid-19 membatasi jumlah keberangkatan jamaah, pihaknya tetap menjalankan pelayanan meski hanya mendampingi sekitar 50 orang.
Selama lebih dari tiga dekade, dirinya juga dikenal sebagai pembimbing haji. Ia memperkirakan telah mendampingi jamaah berhaji lebih dari 30 kali. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tugas tersebut mulai diteruskan kepada generasi penerus karena faktor usia.
"Tahun lalu saya fokus sebagai Amirul Hajj sehingga tidak mendampingi rombongan secara langsung. Sekarang pembimbing sudah banyak dan diteruskan oleh kader-kader yang lebih muda," katanya.
Ia menilai penyelenggaraan haji tahun ini mengalami banyak kemajuan, terutama saat pelaksanaan puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Salah satu faktor yang membantu mengurangi kepadatan adalah penerapan sistem tanazul yang memungkinkan sebagian jamaah kembali ke hotel sehingga kepadatan tenda di Mina berkurang.
Meski sebagian jamaah memilih tanazul mandiri sehingga harus memenuhi kebutuhan makan secara mandiri, hal tersebut justru dianggap lebih nyaman oleh sebagian jamaah.
"Kepadatan di Mina jauh berkurang. Banyak jamaah memilih tanazul mandiri. Mereka memang tidak mendapatkan konsumsi katering, tetapi merasa lebih nyaman karena bisa mengatur sendiri kebutuhan mereka," jelasnya.
Baca juga: DPD RI Apresiasi Haji 2026, Desak Evaluasi Menyeluruh untuk Perkuat Tata Kelola
Keuntungan lain yang dirasakan rombongan Kloter 116 adalah waktu pelaksanaan tawaf yang jauh lebih longgar karena berada di penghujung musim haji. Kondisi Masjidil Haram sudah tidak sepadat pekan-pekan sebelumnya sehingga jamaah memiliki kesempatan lebih leluasa beribadah.
"Mereka bisa tawaf dengan cepat, bahkan banyak yang bisa mencium Hajar Aswad, salat di Hijr Ismail dan berdoa di tempat-tempat mustajab. Ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi jamaah," katanya.
Asep juga memberikan apresiasi terhadap kinerja penyelenggara haji Indonesia tahun ini. Menurutnya, peningkatan pelayanan terlihat hampir di seluruh sektor, mulai transportasi, akomodasi, hingga pendampingan jamaah.
Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari integritas dan kerja keras jajaran penyelenggara, khususnya Menteri Haji dan Umrah.
"Menurut saya, kuncinya ada pada integritas. Kejujuran menjadi modal utama. Menteri bekerja langsung di lapangan, mengawasi hotel, katering, dan berbagai pelayanan. Beliau berkali-kali menegaskan tidak boleh ada praktik cashback atau pungutan apa pun yang mengatasnamakan kementerian," ungkapnya.
Baca juga: Pemulangan Jemaah Jadi Fokus Utama, Menhaj Pastikan Layanan Haji Berlanjut Hingga Kloter Terakhir
Ia juga menyoroti menurunnya angka jamaah wafat dibandingkan musim haji sebelumnya. Jika tahun lalu jumlah jamaah Indonesia yang meninggal mencapai sekitar 480 orang, tahun ini turun menjadi sekitar 360 orang.
"Memang masih ada yang wafat, tetapi jumlahnya jauh menurun. Yang terpenting lagi, seluruh jamaah dapat terdata dengan baik sehingga tidak ada lagi kasus jamaah yang hilang tanpa kejelasan seperti yang pernah terjadi pada musim sebelumnya," katanya.
Dalam kesempatan itu, Asep juga menyampaikan pesan lebih luas kepada masyarakat Indonesia. Menurutnya, kemajuan bangsa hanya dapat dicapai apabila seluruh elemen bangsa menjunjung tinggi lima nilai utama, yakni kejujuran, disiplin, akhlak mulia, menjaga kedamaian, dan bekerja keras.
"Lima hal ini harus menjadi budaya bersama, yaitu jujur, disiplin, berakhlak mulia, menjaga kedamaian, dan kerja keras. Kalau itu dijalankan oleh seluruh masyarakat dan pemimpin bangsa, saya yakin Indonesia akan menjadi negara maju," tuturnya.
Dengan tibanya Kloter 116, operasional pemulangan jamaah haji melalui Debarkasi Surabaya resmi berakhir. Penutupan kloter terakhir tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian pelayanan haji di Debarkasi Juanda pada musim haji 2026, sekaligus menutup perjalanan ribuan jamaah asal Jawa Timur dan sekitarnya yang telah menunaikan rukun Islam kelima dengan selamat.(pps)
Editor : Redaksi