Kemarau Meluas di 24 Daerah, Pemprov Jatim Gelar Salat Istisqa di Mojokerto

harianmerahputih.id

MERAHPUTIH I MOJOKERTO – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menempuh ikhtiar spiritual di tengah kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah. Salat Istisqa digelar di Kabupaten Mojokerto, Jumat (18/9/2026), sebagai bentuk doa bersama agar hujan segera turun dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Langkah tersebut ditempuh setelah berbagai upaya teknis untuk mengatasi dampak kekeringan terus dilakukan Pemprov Jatim bersama pemerintah kabupaten/kota. Namun, sejumlah langkah penanganan krisis air bersih di lapangan belum sepenuhnya memberikan hasil yang diharapkan.

Baca juga: SIKAP Libatkan 1.548 Sekolah di Jatim, Khofifah Dorong Siswa Jadi Penggerak Ketahanan Pangan

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kemarau panjang yang terjadi tahun ini telah diprediksi sejak awal melalui peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino yang berdampak terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah.

Menurut Khofifah, Pemprov Jatim tidak hanya mengandalkan langkah spiritual. Berbagai intervensi teknis telah dilakukan untuk memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi sekaligus mencari sumber air baru di wilayah yang mengalami kekeringan.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sejak 3 September 2026, Pemprov Jatim bersama BMKG melakukan pemantauan secara intensif terhadap pergerakan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

“Penyebaran garam di awan tebal berhasil menurunkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di beberapa titik,” kata Khofifah, Jumat (18/9/2026).

Selain OMC, Pemprov Jatim juga melakukan pengeboran sumur dan pembangunan jaringan pipa air untuk menjangkau wilayah yang mengalami krisis air bersih.

Khofifah menyebut kedalaman pengeboran di sejumlah lokasi mencapai 125 meter hingga lebih dari 200 meter. Namun, proses tersebut menghadapi berbagai kendala teknis karena kondisi geologi di lapangan tidak mudah ditembus.

Bahkan, terdapat lokasi yang mengalami kerusakan mata bor hingga 19 kali akibat harus menembus lapisan batuan keras.

“Di beberapa titik lokasi pengeboran, air yang berhasil keluar justru memiliki kandungan minyak yang tinggi atau kadar garam berlebih,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat sumber air yang ditemukan belum seluruhnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat. Khofifah mengingatkan air dengan kadar garam tinggi berisiko terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, dan balita.

“Air dengan kadar garam tinggi ini tidak sehat dan berbahaya, khususnya bagi ibu hamil, bayi, serta balita,” tegas mantan Menteri Sosial RI tersebut.

Persoalan lain muncul dari debit air pada sejumlah titik pengeboran yang belum memadai. Khofifah mencontohkan kawasan Trawas menuju Kunjorowesi yang debit airnya belum cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan kekeringan membutuhkan kombinasi berbagai pendekatan, mulai dari penyediaan air bersih, pencarian sumber air bawah tanah, teknologi modifikasi cuaca hingga pemantauan kondisi cuaca secara berkelanjutan.

Baca juga: Khofifah Ajak 6.000 Anak Tanamkan Nilai Religius dan Nasionalisme Sejak Dini

Dampak kemarau panjang sendiri kini telah meluas. Pemprov Jatim mencatat terdapat 24 kabupaten/kota yang terdampak kekeringan.

Luasnya wilayah terdampak membuat pemerintah harus mencari alternatif penanganan yang lebih efektif, termasuk memanfaatkan teknologi untuk mendeteksi lokasi yang berpotensi memiliki sumber air.

Di tengah berbagai upaya tersebut, Pemprov Jatim juga memilih Salat Istisqa sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kemarau berkepanjangan.

Salat meminta hujan itu digelar di Kabupaten Mojokerto. Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra atau Gus Barra menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan tersebut. Sementara Syech Muhammad Fadhil Al Jailani hadir sekaligus menjadi imam Salat Istisqa.

Khofifah menjelaskan, pemilihan lokasi pelaksanaan Salat Istisqa juga mempertimbangkan kondisi masyarakat dan aktivitas ekonomi di sejumlah daerah lain yang sebelumnya masuk dalam rencana lokasi kegiatan.

Menurutnya, Pemprov Jatim sempat mempertimbangkan Probolinggo dan beberapa kabupaten lain sebagai lokasi pelaksanaan Salat Istisqa. Namun, kondisi para petani di wilayah tersebut perlu menjadi pertimbangan karena sedang memasuki masa panen raya tembakau.

“Tadinya kami juga merencanakan di Probolinggo dan beberapa kabupaten lain. Namun, para petani di sana saat ini sedang dalam masa panen raya tembakau,” jelas Khofifah.

Baca juga: Khofifah Buka Peluang Ekspor UKM Jatim ke Jepang, Potensi Transaksi Tembus Rp1,13 Triliun

Pertimbangan tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat untuk memohon turunnya hujan dengan kepentingan petani yang tengah menyelesaikan proses panen.

“Kita harus membangun keseiringan antara ikhtiar memohon hujan dan menjaga kualitas hasil panen petani,” katanya.

Khofifah menegaskan, pelaksanaan Salat Istisqa tidak dimaksudkan untuk menggantikan berbagai langkah teknis yang telah dilakukan pemerintah. Sebaliknya, doa bersama tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi kemarau panjang.

Pemprov Jatim bersama pemerintah daerah, menurut Khofifah, akan terus melakukan berbagai langkah penanganan dampak kekeringan, terutama memastikan masyarakat di wilayah terdampak tetap mendapatkan akses air bersih.

Melalui Salat Istisqa, pemerintah dan masyarakat juga berharap kondisi cuaca segera berubah sehingga hujan dapat kembali turun di wilayah Jawa Timur.

“Melalui Salat Istisqa ini, Pemprov Jatim beserta masyarakat bermunajat agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa rahmat, keberkahan, serta manfaat bagi seluruh warga Jawa Timur,” pungkas Khofifah.(moj)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru