MERAHPUTIH I SURABAYA – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional mulai ditanamkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui lingkungan pendidikan. Lewat program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP), ribuan sekolah didorong memanfaatkan lahan yang tersedia untuk kegiatan budidaya tanaman pangan hingga peternakan.
Program yang diinisiasi melalui Dinas Pendidikan Jatim tersebut menjadi salah satu langkah daerah dalam mendukung agenda swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, ketahanan pangan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sektor pertanian. Dunia pendidikan juga memiliki peluang besar untuk mengambil peran dengan melibatkan siswa secara langsung dalam kegiatan produksi pangan.
"Program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto difokuskan pada pencapaian swasembada pangan nasional serta penguatan kedaulatan ekonomi rakyat melalui berbagai kebijakan strategis dan sinergi lintas lembaga. Jawa Timur telah memulai dari sektor pendidikan," ujar Khofifah, Senin (2/11/2026).
Pada 2026, program SIKAP telah diterapkan di 1.548 sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Jumlah tersebut terdiri atas 596 SMA, 759 SMK, dan 193 SLB.
Menurut Khofifah, keterbatasan lahan bukan alasan bagi sekolah untuk tidak berpartisipasi. Pemanfaatan area yang tersedia, termasuk melalui berbagai media tanam, dapat menjadi awal kegiatan produktif yang mendukung ketahanan pangan.
"Ketahanan tidak harus dari lahan luas yang berhektar-hektar, tetapi dapat dimulai dari lahan seadanya yang kita miliki. Lahan yang ada di sekolah diolah menjadi lebih produktif," jelasnya.
Selain menghasilkan produk pangan, SIKAP juga diarahkan sebagai laboratorium pembelajaran bagi peserta didik. Siswa tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi mendapatkan pengalaman langsung mulai dari menanam, merawat, hingga memanen hasil budidaya.
Kegiatan tersebut sekaligus membangun karakter mandiri, disiplin, kreatif, bertanggung jawab, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.
Khofifah menilai, keterlibatan siswa sejak awal proses budidaya akan membangun rasa memiliki terhadap tanaman maupun hewan ternak yang dikelola. Dengan demikian, mereka terdorong untuk menjaga dan merawatnya hingga menghasilkan.
"Anak-anak dan warga sekolah akan memiliki keterikatan dengan apa yang ditanam. Mereka akan bertanggung jawab menjaga dan memelihara apa yang mereka tanam, apa yang mereka semai," katanya.
Pelaksanaan program ini juga mendukung pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Melalui praktik langsung, siswa dapat mengeksplorasi teknik budidaya, mengenali cara meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak, sekaligus memahami nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan tersebut.
Khofifah berharap, SIKAP tidak berhenti sebagai kegiatan menanam atau beternak semata. Sekolah perlu terus mengembangkan inovasi, meningkatkan kapasitas guru, serta membangun kemitraan agar pengelolaan lahan dan media tanam semakin optimal.
Hasil budidaya juga diharapkan dapat memberikan manfaat nyata, termasuk menjadi salah satu sumber pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan internal sekolah.
"Anak-anak ini harus semangat menjaga dan memelihara agar semua bisa terus tumbuh subur dan menghasilkan, sehingga bisa menjadi suplai di internal sekolah," ungkapnya.
Ia optimistis, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten di lingkungan pendidikan dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Keterlibatan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang produktif dan mandiri.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, SIKAP merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menyelaraskan inovasi pendidikan dengan prioritas pembangunan nasional, khususnya ketahanan pangan.
Aries menyebut, meski baru berjalan sekitar dua setengah tahun, pelaksanaan program tersebut telah menjangkau sekolah di berbagai wilayah Jawa Timur.
Ke depan, Dindik Jatim berharap penerapan SIKAP semakin luas, termasuk menjangkau sekolah swasta pada jenjang SMA, SMK, dan SLB. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi serta ketersediaan lahan masing-masing sekolah.
"Program ini diawali dari sekolah di Provinsi Jatim. Bagaimana anak-anak kita tumbuh berkembang dengan mengenal alam, sistem pertanian, perkebunan, dan peternakan. Ini hasil yang sangat luar biasa. Kita harapkan terus berkembang di Jawa Timur dan menjadi inisiasi bagi seluruh Indonesia," pungkas Aries.(pps)
Editor : Redaksi