MERAHPUTIH I SURABAYA – Ribuan masyarakat memadati separuh jalan di depan Kantor DPRD Jawa Timur untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Kamis (29/10) malam. Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan ini menjadi upaya mendekatkan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Ketua DPRD Jawa Timur Muhammad Musyafak Rouf mengatakan, pagelaran wayang kulit bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya bangsa agar tetap hidup dan dicintai masyarakat.
Baca juga: Pertunjukan Wayang Kulit di DPRD Jatim, Ada Ki Arif Sarjono hingga Guyon Maton
“Wayang kulit merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, seni, dan filosofi tinggi. Melalui kegiatan ini, DPRD Jawa Timur ingin ikut menjaga agar kesenian tradisional tetap dekat dengan masyarakat dan terus dicintai generasi penerus,” ujarnya.
Musyafak menambahkan, pagelaran tersebut juga menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat untuk menikmati hiburan sekaligus memetik pesan kehidupan dari cerita yang dibawakan dalang. Ia berharap momentum Hari Jadi ke-81 Jawa Timur dapat memperkuat kerukunan serta mendorong provinsi ini semakin maju dan sejahtera tanpa meninggalkan budaya lokal.
Pagelaran tersebut menghadirkan dalang Ki Arif Sarjono yang membawakan lakon Wahyu Jitabsara. Suasana semakin meriah dengan penampilan Cak Percil CS, Abah Kirun, dan Guyon Maton yang menghibur penonton melalui lawakan khas Jawa Timur.
Sementara itu, Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno menilai pagelaran wayang kulit memiliki nilai edukasi yang relevan dengan kehidupan masa kini. Menurutnya, cerita pewayangan menyimpan filosofi kepemimpinan, pengorbanan, tanggung jawab, hingga konsekuensi dari setiap keputusan.
“Wayang tidak hanya sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Pola-pola yang ada dalam kisah Baratayuda masih bisa kita temukan dalam kehidupan hingga hari ini,” kata Sri Untari.
Baca juga: Jalur Sarangan-Tawangmangu Rawan Kecelakaan, Diana Sasa Dorong Jalur Penyelamat
Ia mencontohkan, kisah perang dalam pewayangan dapat menjadi refleksi untuk menghadapi persoalan masyarakat saat ini. Menurutnya, tantangan yang harus diperangi bersama bukan lagi peperangan antarkubu, melainkan kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan ketidakpahaman yang menghambat kesejahteraan masyarakat.
Sri Untari juga mengajak generasi Z dan generasi Alfa untuk mengenal serta mencintai wayang sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Ia bahkan mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkenalkan berbagai lakon pewayangan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Harapannya, pertunjukan malam ini menjadi khazanah bagi anak-anak muda kita untuk kembali mencintai wayang. Teknologi juga bisa dimanfaatkan agar mereka lebih mudah mengenal berbagai lakon dan menjadikan wayang bagian dari kehidupan budaya masa kini,” tuturnya.
Di sisi lain, Sri Untari mengapresiasi DPRD Jawa Timur yang mengalokasikan anggaran untuk kegiatan kebudayaan dan keagamaan. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi salah satu cara lembaga legislatif menjaga kedekatan dengan masyarakat.
Turut hadir menyaksikan wayang Sri Wahyuni (Wakil Ketua DPRD), Rasio (anggota komisi E), Lilik Hendarwati (anggota komisi C), M Ali Kuncoro (Sekwan DPRD Jatim).
Melalui pagelaran tersebut, DPRD Jawa Timur berharap pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan nilai kebersamaan, sekaligus menghadirkan hiburan yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.(pps)
Editor : Redaksi