Memeriahkan HUT ke 77 Propinsi Jatim

Pasar Seni Lukis Indonesia) ke XIII Siap dibuka.


Persiapan PSLI XIII yang diselenggarakan di Jatim Expo, Jl. A Yani 99 Surabaya ini

MERAHPUTIH I SURABAYA - Hari Jumat PSLI (Pasar Seni Lukis Indonesia) ke XIII dibuka. Selama 10 hari para pelukis dari seluruh wilayah di Indonesia berkumpul menggelar karya-karya mereka. Lebih dari 3.000 karya akan digelar pada 136 booth/stan yang dibangun panitia, Sanggar Merah Putih. Semua karya yang digelar itu dijamin baru, karya para pelukis yang menjadikan PSLI sebagai agenda tahunan mereka.

Para pelukis datang dari berbagai daerah seperti Lampung, Banten, DKI, Jabar, Jateng, DI Yogyakarta, Bali, NTB dan Kalimantan Selatan. Terbanyak tentu datang dari Jawa Timur. Kemarin, Rabu 16 November, para pelukis dari berbagai daerah itu sudah mulai meluncur ke Surabaya dengan mengangkut karya-karya mereka, karena hari Kamis besok mereka sudah diperbolehkan mendisplainya pada stan mereka masing-masing. Pendaftaran peserta dibuka sejak 17 Agustus lalu.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa diharap akan membuka PSLI yang diselenggarakan di Jatim Expo, Jl. A Yani 99 Surabaya ini. PSLI memang digelar untuk memeriahkan HUT ke 77 Propinsi Jatim.

“Tiap tahun Pemprov Jatim melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menaruh perhatian besar pada penyelenggaraan PSLI. Banyak pelukis dari daerah lain yang terus terang menyatakan iri, mengapa pemerintah daerah mereka tidak menaruh perhatian kepada perkembangan seni lukis khususnya, sebagaimana yang dilakukan Pemprov Jatim. Saya tidak mengada-ada, tanyakan sendiri nanti kepada mereka. Justru karena penilaian mereka itulah salah satu alasan yang mendorong kami untuk tetap menggelar PSLI tiap tahun, ” kata M. Anis, Ketua Sanggar Merah Putih sebagai penyelenggara PSLI sejak 2008 ini.

Jumlah stan yang dibangun panitia memang 136, tetapi jumlah pelukis yang berpartisipasi lebih dari 220 orang. Karena diantara peserta tidak sedikit yang mengatasnamakan sekolah atau kelompok, seperti mahasiswa STKW dan SMAN Driyorejo Gresik yang memajang karya para siswanya. Bahkan Pengurus AAI (Autism Awareness Indonesia) DPD Jatim juga mengambil stan, untuk menampilkan karya anak-anak berkebutuhan khusus yang mereka asuh.

“Anak-anak berkebutuhan khusus itu perlu memperoleh tambahan kepercayaan diri, dan saya yakin para pelukis peserta PSLI akan dengan senang hati membantu mereka berkarya,” tambah M. Anis.

Yang menarik, lanjutnya, diantara yang meramaikan PSLI tahun ini adalah kehadiran karya-karya Pak SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Keenam RI.

“Karya-karya Pak SBY hadir di tengah-tengah karya peserta lainnya, tidak di tempat istimewa, tetapi memang dengan bentuk stan berbeda yang dibangun dan dirancang sendiri oleh tim beliau. Lebih menariknya, sebagaimana karya peserta-peserta lainnya, karya-karya Pak SBY itu juga dijual. Jadi siapa saja silakan kalau berminat mengoleksi karya Pak SBY,” jelas M. Anis.

Hari Rabu kemarin, karya-karya Pak SBY sudah meluncur ke Surabaya melalui darat diangkut dengan kendaraan box, tambahnya.

Selama 10 hari akan ada banyak kegiatan di arena PSLI, antara lain diskusi seni rupa, sarasehan, pelatihan, melukis bersama, serta serta penampilan grup band terkenal dari Surabaya yang akan tampil bergantian tiap malam di panggung utama. Beberapa grup band itu antara lain The Portal, Teras Rick Band, D’Lions King, Sudden, Titik Nol, Shadow, serta The Marinos yang anggotanya marinir. 

Minggu malam 20 November beberapa penyair dari berbagai daerah di Jatim akan membacakan puisi-puisi karya mereka. Hari Senin siang 21 November akan diakan diskusi yang penting untuk para pelukis karena temanya Perlindungan Hukum Hak Cipta pada Pelukis, dengan menghadirkan Junarlis (Direktorat Hak Cipta dan Desain Industri Kemenkum HAM), Yovita Arie Mengesti dan Lindawati Putri Widharta (keduanya dari Universitas 17 Agustus), dengan moderator Agung Tato Suryanto dari STKW. 

PSLI, ajang pertemuan para pelukis, kolektor, galeri, dan masyarakat pecinta seni. Itulah tujuan diadakannya PSLI. Bukan hanya tempat bertransaksi, tetapi juga ajang silaturahmi, rekreasi dan edukasi. (red)