Jawa Timur Siap Bersinergi: Komitmen Gubernur Khofifah Usai Retreat Kepala Daerah
MERAHPUTIH I MAGELANG - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak telah menyelesaikan seluruh rangkaian agenda Retreat Kepala Daerah di Akademi Militer (Akmil) Magelang pada Jumat (28/2). Dalam pertemuan tersebut, Khofifah menegaskan kesiapan Jawa Timur untuk menyinergikan program Nawa Bhakti Satya dengan Asta Cita.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan, sebagaimana yang tertuang dalam Asta Cita kedua dan sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian.
"Retreat ini bukan hanya tentang berbagi pengalaman, tetapi juga mengintegrasikan keunggulan kompetitif dari masing-masing daerah. Dengan kolaborasi ini, kita bisa mengeksplorasi potensi yang ada dan saling melengkapi," ujar Khofifah.
Ia menekankan bahwa forum ini menjadi kesempatan emas bagi para kepala daerah untuk membangun pola pikir yang sistemik dan programatik. Konsolidasi pemikiran dan program, lanjutnya, sangat diperlukan agar kebijakan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dapat berjalan selaras.
Dalam retreat ini, Khofifah menyoroti pentingnya memperinci Asta Cita, khususnya pada poin kedua, keempat, dan keenam. Asta Cita kedua, yang berfokus pada ketahanan pangan, energi, dan air, disebutnya harus dijabarkan lebih detail agar implementasinya lebih efektif.
"Ketahanan pangan harus dipetakan secara spesifik sesuai potensi daerah. Tidak hanya bergantung pada satu komoditas, tetapi juga mengembangkan sektor lain seperti palawija, ayam pedaging dan petelur, serta daging sapi," jelasnya.
Sebagai contoh, Khofifah mengungkapkan bahwa keberadaan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) di Singosari, Kabupaten Malang, menjadi faktor utama tingginya populasi sapi di Jawa Timur. Ia menegaskan kesiapan provinsinya untuk menjadi mentor bagi daerah lain dalam upaya swasembada daging.
Selain ketahanan pangan, Khofifah juga menyoroti Asta Cita keempat yang berfokus pada peningkatan kualitas SDM di bidang pendidikan, kesehatan, dan sains teknologi. Sementara itu, Asta Cita keenam menekankan pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan pengentasan kemiskinan.
"Jika ketiga poin ini diperinci lebih lanjut, kita akan lebih mudah menyelaraskan program nasional, regional, dan lokal," katanya.
Dalam kesempatan ini, Khofifah juga menggarisbawahi pentingnya "innovative financing" sebagai solusi pendanaan alternatif bagi daerah. Ia menilai bahwa seluruh kepala daerah harus mencari strategi keuangan inovatif untuk memastikan efisiensi anggaran tanpa mengorbankan pencapaian target kinerja.
"Kita harus mencari cara agar efisiensi dapat dilakukan tanpa mengganggu indeks kinerja utama (IKU). Retreat ini menjadi ruang bagi kita untuk menggali opsi-opsi tersebut," tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Khofifah menekankan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah menjelang Ramadan 1446 Hijriyah. Ia mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebih dan meminta pedagang untuk tidak menimbun barang demi menjaga stabilitas harga.
"Mari kita sambut Ramadan dengan bijak. Jangan panic buying, dan bagi pedagang, jangan menimbun barang. Dengan begitu, stabilisasi harga bisa tetap terjaga," pesannya.
Dengan berakhirnya Retreat Kepala Daerah, Khofifah berharap sinergi antarwilayah dapat semakin kuat, terutama dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan. (red)
Editor : prass prasetyo
Harian Merah Putih