Sekolah Rakyat Dibuka di Batu, Gubernur Tegaskan Komitmen Pengentasan Kemiskinan
MERAHPUTIH I BATU — Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh pemerintah pusat mulai diwujudkan di Provinsi Jawa Timur. Senin (19/5/2025), sebanyak 75 calon siswa dari keluarga kurang mampu mengikuti pertemuan bersama orang tua mereka di Gedung UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PPSPA) Kota Batu. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, program ini merupakan langkah konkret untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi.
Gubernur menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program penerintah yang tujuannya, memastikan anak-anak dari keluarga prasejahtera tetap mendapatkan pendidikan yang layak tanpa khawatir terkendala biaya.
“Dalam keluarga miskin yang sudah berlapis generasi, yang paling mahal bagi anak-anak adalah harapan. Sekolah Rakyat hadir untuk menjaga agar harapan itu tidak padam,” ujar Gubernur.
Ia menambahkan, pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya menekankan aspek akademis, tetapi juga pembangunan karakter dan keterampilan hidup.
“Menanamkan komitmen dan karakter kepada anak-anak dari keluarga miskin tidaklah mudah. Maka diperlukan lingkungan belajar yang mendukung secara holistik, termasuk asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan intelektual mereka,” katanya.
Gubernur juga mengungkapkan bahwa pada tahap awal, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyiapkan tiga lokasi utama untuk Sekolah Rakyat:
1. UPT PPSPA Batu untuk jenjang SMP, dengan tiga rombongan belajar (rombel) dan 75 siswa dari Kota Batu dan Kabupaten Malang.
2. BPSDM Kawi, Kota Malang, untuk jenjang SMA, dengan tiga rombel dan 75 siswa.
3. SMK Maritim Lamongan untuk jenjang SMA, juga dengan tiga rombel dan 75 siswa.
Selain itu, ada lokasi lahan seluas lebih dari 9,7 hektare telah diusulkan untuk pengembangan Sekolah Rakyat di Kecamatan Bantur (Kabupaten Malang)
“Hingga kini, sudah tersedia 12 gedung dan 26 lahan di kabupaten/kota se-Jawa Timur yang siap dikembangkan untuk program ini,” ungkap Gubernur.
Dalam pertemuan itu, para orang tua diberikan kesempatan untuk melihat langsung fasilitas sekolah, mulai dari ruang kelas hingga asrama.
“Mereka perlu tahu seperti apa nanti anaknya akan menjalani proses pendidikan. Ini penting untuk membangun kepercayaan dan keyakinan,” ujar Gubernur.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mendaftarkan anak-anaknya.
“Ini adalah langkah berani dan bijak. Sekolah Rakyat memberikan kesempatan langka bagi anak-anak untuk keluar dari garis kemiskinan dan menjadi bagian dari generasi emas Indonesia 2045.”

Salah satu orang tua, Rianah, warga Kasembon, Kabupaten Malang, menyampaikan rasa syukurnya karena putrinya, Linda Ayu Lestari, akan diterima di Sekolah Rakyat.
“Alhamdulillah, ini sangat membantu kami. Bisa meringankan beban biaya pendidikan,” ujar ibu rumah tangga tersebut.
Ungkapan serupa disampaikan Hermi (50), janda asal Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Ia bersyukur putrinya, Faivi Ananda Fitri Agustina, nantinya bisa diterima di Sekolah Rakyat.
“Anak saya bercita-cita jadi Polwan. Ini langkah awal untuk mewujudkan impiannya,” ujarnya haru.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Restu Novi Widiani,
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Restu Novi Widiani, turut memberikan pesan kepada para calon siswa.
“Anak-anakku, jangan bersedih jika harus berpisah sementara dari orang tua. Semua ini untuk masa depan kalian. Raihlah cita-cita setinggi langit,” katanya.
Program Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya menjadi jembatan untuk pendidikan yang lebih baik, tetapi juga menjadi instrumen transformasi sosial bagi anak-anak dari keluarga miskin di Jawa Timur. (DPR)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih