Trofi Juara Akhirnya Diangkat di Rumah Sendiri, PERSIB dan Bobotoh Bersiap Ukir Sejarah di GBLA

PERSIB akhirnya kembali menjadi juara Liga 1, mengukir sejarah sebagai tim yang mampu meraih gelar juara dua musim beruntun
PERSIB akhirnya kembali menjadi juara Liga 1, mengukir sejarah sebagai tim yang mampu meraih gelar juara dua musim beruntun

MERAHPUTIH I BANDUNG — Sore Sabtu, 24 Mei 2025, bukan sekadar menjadi penutup kompetisi Liga 1 musim 2024/2025. Bagi PERSIB Bandung dan para pendukung setianya, Bobotoh, laga melawan Persis Solo di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) akan menjadi puncak dari sebuah penantian panjang. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, seremoni pengangkatan trofi juara akan berlangsung di Bandung, di rumah sendiri, di hadapan puluhan ribu pasang mata yang telah mendukung dengan setia.

Setelah menempuh perjalanan panjang penuh dinamika, PERSIB akhirnya kembali menjadi juara Liga 1, mengukir sejarah sebagai tim yang mampu meraih gelar juara dua musim beruntun — sebuah capaian yang mempertegas posisi mereka di puncak ekosistem sepak bola nasional. Namun, lebih dari sekadar gelar, musim ini membawa momen yang selama ini hanya menjadi impian: mengangkat trofi di depan publik sendiri.

Dalam catatan sejarah panjang klub, kemenangan dan perayaan gelar selalu terjadi jauh dari rumah. Dari Solo (Kejurnas PSSI 1937), Semarang (Kejurnas 1959/1961), hingga Palembang dan Bangkalan, PERSIB harus merayakan kejayaan mereka di kota lain. Kini, sejarah itu akan berubah.

Atmosfer di Kota Bandung pun kian menghangat menjelang laga. Di berbagai sudut kota, nuansa biru mendominasi. Spanduk dan bendera PERSIB berkibar di jalan-jalan, toko-toko, hingga rumah-rumah warga. Antusiasme Bobotoh meluap. Mereka ingin menjadi bagian dari sejarah, menyaksikan langsung sang juara mengangkat trofi di tanah kelahirannya.

Namun, euforia besar ini juga mengundang perhatian dan ajakan untuk menjaga kedewasaan dalam merayakan. Vice President Operational PT PERSIB Bandung Bermartabat, Andang Ruhiat, dalam keterangannya menekankan pentingnya menjaga ketertiban selama pertandingan dan rangkaian seremoni berlangsung.

“Kami memahami betul bahwa antusiasme Bobotoh sangat besar. Ini adalah momen bersejarah. Tapi kami juga perlu mengingatkan bahwa keamanan dan ketertiban adalah prioritas,” kata Andang dalam keterangan pers, Kamis (22/5/2025).

Andang secara tegas menyampaikan larangan terhadap tindakan yang berpotensi merusak jalannya pertandingan, seperti menyalakan flare, kembang api, ataupun melakukan pitch invasion. Hal itu, menurutnya, bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi juga dapat berdampak pada kenyamanan dan citra klub di mata publik nasional.

“Pertandingan ini akan menjadi sorotan nasional. Akan hadir tokoh-tokoh penting dari federasi, operator liga, hingga sponsor utama. Jika terjadi pelanggaran, bukan tidak mungkin PERSIB akan dikenai sanksi berat. Ini tentu akan merugikan klub dan mencoreng citra Bobotoh,” tegasnya.

PERSIB, lanjut Andang, kini berada di titik penting dalam sejarahnya. Sebagai klub yang tengah berada di puncak performa, tanggung jawab moral pun melekat. Bobotoh, yang selama ini dikenal loyal dan militan, diminta menunjukkan kelasnya sebagai suporter yang dewasa dan bertanggung jawab.

"Juara di lapangan sudah terbukti. Kini saatnya tunjukkan bahwa kita juga juara di tribun. Rayakan kemenangan ini dengan cara yang membanggakan semua orang," ujar Andang.

Ia menambahkan, pesta kemenangan di GBLA bukan hanya milik pemain dan manajemen, tetapi juga milik seluruh masyarakat Bandung yang telah setia mendukung. Maka dari itu, ia mengajak seluruh Bobotoh untuk hadir, bernyanyi, bersorak, dan berpesta bersama—dalam suasana yang aman, tertib, dan penuh semangat.

"Terima kasih, Bobotoh. Tanpa kalian, PERSIB bukan siapa-siapa. Mari kita rayakan gelar ini bersama, dengan cara yang pantas dan membanggakan. Tunjukkan ke Indonesia bahwa Bandung bisa jadi tuan rumah yang hebat, dengan suporter yang berkelas," tuturnya.

Kemenangan dan perayaan akhir musim ini menjadi penutup sempurna bagi kisah panjang PERSIB di kompetisi nasional. Lebih dari sekadar angka di klasemen, ini adalah kisah tentang kesetiaan, kebanggaan, dan mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Di GBLA, trofi juara akan diangkat — tidak hanya oleh tim, tetapi oleh seluruh Kota Bandung. (RED)

Editor : Redaksi