Dua Hari Pasca Runtuhnya Ponpes Al-Khoziny, Tim SAR Evakuasi 102 Korban: 3 Santri Meninggal Dunia
MERAHPUTIH I SIDOARJO — Suasana duka masih menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo. Dua hari pasca-reruntuhan bangunan, Tim SAR gabungan terus berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi para santri yang masih tertimbun puing.
Selasa (30/9), sejak pagi hingga siang, tim penyelamat kembali menemukan 11 korban. Dengan tambahan itu, total sudah 102 korban berhasil dievakuasi. Namun, perjuangan belum usai. Masih ada sekitar 38 korban yang diperkirakan terperangkap di bawah reruntuhan bangunan.
“Kami terus berupaya semaksimal mungkin. Hari ini ada 11 korban lagi yang berhasil kami evakuasi. Total sudah 102 korban kami temukan,” jelas Nanang Sigit, Kepala Kantor SAR Surabaya, di sela-sela operasi penyelamatan.
Dari data terbaru, 91 korban selamat masih menjalani perawatan di rumah sakit, 10 korban telah dipulangkan ke keluarga masing-masing, dan 1 korban meninggal dunia saat evakuasi.
Namun angka duka belum berhenti di situ. Hingga berita ini diturunkan, tiga santri telah teridentifikasi meninggal dunia. Dua di antaranya, Mochammad Mashudulhaq (14) asal Dukuh Pakis, Surabaya, dan Muhammad Soleh (22) asal Bangka Belitung, mengembuskan napas terakhir di RSUD Sidoarjo setelah sempat menjalani perawatan intensif.
Satu korban lainnya, Maulana Alfan Abrahimafic (15), warga Jalan Kalianyar Kulon, Gang 9, Surabaya, meninggal dunia di RSI Siti Hajar akibat luka parah yang diderita.
Data dari RSUD Sidoarjo mencatat 40 pasien dirawat, dengan rincian 7 luka berat, 4 luka sedang, dan 28 luka ringan. Sebanyak 29 pasien telah diperbolehkan pulang, 9 masih dirawat, 1 pasien masih dalam observasi, 1 pasien pulang atas permintaan sendiri, dan 1 meninggal dunia.
Sementara di RSI Siti Hajar, terdapat 52 santri menjalani perawatan intensif dengan berbagai tingkat luka. Termasuk di antara mereka satu korban meninggal dunia.
“Kami terus pantau kondisi korban, terutama yang mengalami luka berat. Sebagian besar menderita cedera akibat tertimpa material berat,” ujar salah satu dokter jaga di RSUD Sidoarjo.
Proses pencarian korban masih berlangsung hingga sore. Tim SAR menggunakan alat berat dan thermal scanner untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan di bawah puing. Namun, struktur bangunan yang labil membuat proses evakuasi harus dilakukan perlahan dan penuh kewaspadaan.
“Bangunan ini masih berpotensi runtuh. Kami prioritaskan keselamatan tim dan korban. Setiap bongkahan kami angkat satu per satu,” tambah Nanang.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama BPBD setempat juga menyiapkan posko pengungsian dan trauma healing bagi keluarga korban dan para santri yang selamat.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa keselamatan bangunan pendidikan perlu diawasi secara ketat. Hingga kini, penyebab runtuhnya gedung masih diselidiki oleh tim forensik konstruksi dan kepolisian.(red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih