Khofifah: Festival Mangrove Bangkalan Bukti Gotong Royong Hijau Lintas Sektor

MERAHPUTIH I BANGKALAN – Ada semangat hijau yang menular di pesisir Pantai Martajasah, Bangkalan, Senin (3/11). Di bawah terik matahari dan hembusan angin laut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tampak sumringah melihat semangat warga, akademisi, musisi, dan berbagai instansi bergandengan tangan dalam Festival Mangrove ke-8.

“Ini sinergi yang luar biasa. Semua terlibat, dari BI, Semen Gresik, kampus negeri dan swasta, hingga komunitas lokal. Bahkan pelepasliaran burung dan kepiting dilakukan bersama BKSDA,” ujar Khofifah, sembari menyebut momentum ini sebagai contoh nyata kolaborasi hijau yang hidup.

Festival ini bukan sekadar seremonial. Di sepanjang pantai, puluhan stan edukasi mangrove berdiri, menghadirkan pengetahuan dan aksi nyata. Universitas Airlangga bersama TNI menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat pesisir.

Di sisi lain, para relawan dan mahasiswa sibuk menanam bibit mangrove, yang disebut Khofifah sudah disesuaikan dengan karakteristik lokal dan didukung oleh lembaga internasional Miyagasu untuk keberlanjutan hingga 20 tahun ke depan.

“Jawa Timur kini menampung 51 persen dari total luasan mangrove di Pulau Jawa,” ungkapnya bangga. Angka itu bukan sekadar statistik, tapi hasil dari gerakan kolektif menjaga bumi.

Khofifah juga menyinggung soal net zero emission 2060. Menurutnya, gerakan menanam mangrove dan cemara udang bukan hanya menjaga ekosistem, tetapi juga investasi karbon hijau untuk masa depan.

“Mangrove mampu menyerap karbon 4–5 kali lebih besar dari tanaman lain. Sementara cemara udang, bisa hidup hingga 600 tahun dan berfungsi menahan tsunami,” katanya.

Ia pun menutup sambutan dengan ajakan sederhana tapi penuh makna. “Ayo terus edukasi masyarakat. Gerakan ‘nandur, nandur, nandur’ harus jadi napas kita bersama,” ucapnya diiringi tepuk tangan para peserta yang datang dari berbagai daerah.

Festival Mangrove ke-8 di Bangkalan bukan hanya selebrasi alam, tapi juga pengingat bahwa bumi butuh sentuhan manusia yang lebih lembut, bukan sekadar wacana, tapi tindakan nyata.(mad)

Editor : Redaksi