Dindik Jatim Jadi Motor Inovasi, Ribuan Gagasan Pendidikan Dongkrak Prestasi Nasional

Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai

MERAHPUTIH I SURABAYA – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur kembali menunjukkan perannya sebagai motor penggerak inovasi daerah. Dalam pemaparan di hadapan tim penilai Innovation Government Award (IGA) Kemendagri, Selasa (19/5/2026), berbagai program terobosan pendidikan disebut mampu memberi dampak nyata terhadap kualitas layanan publik dan tata kelola pemerintahan di Jawa Timur.

Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan sektor pendidikan tidak hanya fokus pada proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi ruang lahirnya solusi atas berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Menurut Aries, sejumlah program unggulan seperti Program Terapan Ekonomi Guru Non-ASN (Proteg) dan East Java Innovative Education Summit (EJIES) menjadi contoh inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat pendidikan.

“Dindik Jatim memberikan kontribusi inovasi terbanyak dalam IGA Award. Jawa Timur sampai hari ini masih menjadi juara satu nasional untuk kategori daerah terinovatif,” kata Aries di Surabaya.

Ia menjelaskan, dari 398 inovasi yang diajukan dalam penilaian IGA, sebanyak 196 inovasi telah masuk kategori tingkat kematangan tinggi setelah melalui proses validasi manfaat dan implementasi di lapangan.

Bagi Aries, inovasi bukan sekadar kompetisi administratif, melainkan upaya menghadirkan perubahan nyata di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.

“Setiap inovasi lahir dari persoalan yang benar-benar terjadi di masyarakat. Karena itu orientasinya harus memberi dampak langsung,” ujarnya.

Aries juga menyoroti keberhasilan EJIES sebagai wadah besar kreativitas insan pendidikan di Jawa Timur. Program tersebut mampu menjaring puluhan ribu gagasan inovatif dari guru, siswa, dan tenaga kependidikan.

“Total sekitar 24 ribu inovasi masuk dalam EJIES. Ini menunjukkan budaya inovasi di Jawa Timur sudah tumbuh sangat kuat,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, menilai posisi Jawa Timur sebagai daerah terinovatif nasional belum bisa membuat seluruh jajaran pemerintah daerah merasa aman.

Menurutnya, persaingan inovasi antar-daerah semakin ketat sehingga percepatan pembaruan layanan publik harus terus dilakukan secara konsisten.

“Jawa Timur memang masih tertinggi, tetapi daerah lain juga bergerak sangat cepat. Karena itu akselerasi inovasi tidak boleh berhenti,” ujar Yusharto.

Ia mengingatkan tantangan besar ke depan adalah menghapus ego sektoral antar-organisasi perangkat daerah (OPD). Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar inovasi mampu memberikan manfaat lebih luas.

Yusharto mencontohkan sinergi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan dalam penyediaan transportasi pelajar untuk mengurangi kelelahan siswa selama perjalanan menuju sekolah.

“Ekosistem inovasi harus dibangun bersama agar masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” katanya.

Dalam penilaian IGA 2026, Kemendagri juga akan mulai mengaitkan tema inovasi dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) serta 54 program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penyediaan perumahan rakyat.

“Tanpa inovasi, percepatan program nasional tidak akan tercapai hanya dengan cara biasa,” tegasnya.

Apresiasi turut disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Dyah Natalisa, yang menjadi bagian dari tim penilai IGA.

Dyah menilai Jawa Timur berhasil membangun budaya kompetisi inovasi yang sehat di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pola kurasi dan pembinaan inovasi yang diterapkan Dindik Jatim telah memberi dampak nyata terhadap kesejahteraan guru dan murid.

“Kalau berjalan biasa-biasa saja, akselerasi perubahan tidak akan cepat. Karena itu dibutuhkan terobosan melalui inovasi,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut Jawa Timur sebagai daerah yang selalu “selangkah lebih maju” dibanding wilayah lain dalam pengembangan inovasi pendidikan.

Meski demikian, Dyah mengingatkan pentingnya penguatan regulasi agar seluruh program inovasi yang telah berjalan tidak berhenti ketika terjadi pergantian kepemimpinan.

“Budaya inovasi di Jawa Timur sudah terbentuk, dan itu bukan hal mudah. Tinggal bagaimana praktik baik ini dilembagakan supaya terus berlanjut,” katanya.

Dyah juga mendorong Dindik Jatim memperkuat integrasi digital, transformasi kewirausahaan guru, serta evaluasi berbasis survei penerima manfaat pada program-program seperti Proteg dan EJIES.

“Inovasi yang baik harus memiliki dasar kelembagaan yang kuat sehingga dampaknya bisa terus dikembangkan,” pungkasnya.(pps)

Editor : Redaksi