Pemkot Surabaya Minta Maaf, Proyek Drainase Moestopo Dikebut Demi Atasi Genangan
MERAHPUTIH I SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya meminta maaf kepada masyarakat atas kemacetan yang terjadi di Jalan Prof. Dr. Moestopo akibat proyek pembangunan saluran drainase. Meski menimbulkan gangguan arus lalu lintas, proyek tersebut dipastikan menjadi langkah strategis untuk mengatasi persoalan genangan di kawasan Karang Menjangan.
Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Adi Gunita, mengatakan pembangunan box culvert yang dimulai sejak 25 Juni 2026 merupakan konektivitas saluran menuju Rumah Pompa Dharmahusada. Infrastruktur tersebut akan mempercepat aliran air dari kawasan rawan genangan menuju rumah pompa sebelum dibuang ke Kali Jeblokan.
"Kami mohon maaf kepada masyarakat, khususnya pengguna Jalan Prof. Dr. Moestopo, karena selama proses pekerjaan memang terjadi penyempitan jalan yang berdampak pada kepadatan lalu lintas," ujar Adi, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, proyek ditargetkan rampung dalam waktu sekitar empat bulan atau hingga awal September 2026. Namun, Pemkot Surabaya memprioritaskan percepatan penyelesaian pekerjaan di badan Jalan Prof. Dr. Moestopo agar dampak kemacetan dapat segera berkurang.
Adi mengungkapkan percepatan sempat terkendala utilitas PDAM yang berada di jalur galian. Persinggungan dengan pipa distribusi air menyebabkan kebocoran sehingga membutuhkan penanganan tambahan sebelum pekerjaan dapat dilanjutkan.
Penggalian dilakukan mulai dari depan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Kampus A hingga simpang Jalan Karang Menjangan. Setelah proyek selesai, saluran baru akan memperkuat sistem drainase dengan mengalirkan air menuju Rumah Pompa Dharmahusada untuk dipompa ke Kali Jeblokan, sehingga genangan di Karang Menjangan diharapkan lebih cepat teratasi.
Untuk mengurangi dampak terhadap pengguna jalan, pekerjaan konstruksi dilaksanakan pada malam hari, pukul 21.00 hingga 05.00 WIB, sesuai rekomendasi kepolisian dan Dinas Perhubungan. Sementara pada siang hari, rekayasa lalu lintas dilakukan melalui pengaturan waktu lampu lalu lintas serta penempatan personel Dishub dan petugas kontraktor di titik penyempitan jalan.
Adi menegaskan proyek tetap berjalan setiap hari, termasuk akhir pekan dan hari libur nasional, agar penyelesaiannya sesuai target. Pemkot Surabaya berharap masyarakat dapat memahami ketidaknyamanan sementara tersebut karena proyek ini merupakan investasi jangka panjang untuk mengurangi persoalan banjir dan genangan di wilayah timur kota.(sub)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih