Limbah di Waduk SIER Diusut Dinas Lingkungan Hidup


MERAH PUTIH | Surabaya- Waduk SIER yang diduga tercemar limbah pabrik dan mengakibatkan ribuan ikan mati, disikapi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya. Untuk membuktikan air tercemar limbah, DLH telah mengambil sample air untuk diteliti di Laboratorium.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Eko Agus Supiandi mengatakan jika pihaknya sudah melakukan peninjauan ke Waduk PT SIER Rungkut Surabaya.

"Tim wasdal sudah cek ke lapangan kemaren mas. Hipotesa sementara dari pengamatan di lapangan terjadi algae blooming karena eutrofikasi," kata Agus, kemarin.

Dari hasil peninjauan di lapangan, Agus menyatakan jika kemungkinan besar banyaknya ikan mati di waduk PT SIER dikarenakan air waduk yang tidak mengalir. Warna air di waduk juga kehijauan, serta oksigen yang masuk kedalam air berkurang.

"Air di boezem tidak mengalir, warna air kehijauan. Oksigen yang masuk berkurang. DO turun sehingga mengakibatkan Ikan collaps," jelas Agus.

Dari pantauan DLH, didapati banyak ikan yang mati ditemukan secara berkelompok. Hal ini menurut Agus mengindikasikan ikan tersebut mati ketika berebut menuju air yang memiliki kadar oksigen lebih banyak.

"Pantauan kami, jika ikan yang mati ditemukan berkelompok, mengindikasikan ikan berebut menuju badan air yang masih mengandung oksigen," kata Agus.

Dijelaskan Agus, jika pihaknya juga menemukan banyak serabut lembut didalam insang ikan. "Kami juga menemukan banyak serabut lembut fitoplankton yang menyangkut di insang ikan (dimungkinkan cyanobacteria). Fitoplankton yang telah habis fase hidupnya akan mati dan busuk sehingga melepaskan gas (dimungkinkan metan) kedalam perairan akibat penguraian secara anaerob. Ini bisa menyebabkan kematian masiv pada ikan," ungkap Agus.

 Apalagi menurut Agus, jika ikan yang banyak ditemukan mati di waduk PT SIER adalah jenis ikan mujaer. "Spesies ikan yang mati adalah mujaer. Seperti diketahui, ikan mujaer merupakan ikan yang memiliki toleransi tinggi terhadap pencemaran, karena mampu mengakumulasikan beberapa materi pencemar di dalam tubuh," jelasnya.

DLH Surabaya juga masih menunggu hasil uji laboratorium sampel air di waduk tersebut. Tim DLH juga telah melakukan penyusuran untuk kemungkinan adanya pencemaran lingkungan karena limbah pabrik.

"Kami masih menunggu hasil uji labkesda untuk sampel air yang diambil dari bozem kemarin. Kami juga akan melakukan penyusuran untuk melihat adanya kemungkinan pencemaran limbah," pungkas Agus.

Sebelumnya diberitakan ribuan bangkai ikan mengapung di waduk SIER Surabaya. Tentu saja ribuan ikan tersebut membuat bau menyegat saat melintas disekitar waduk, dan membuat pedagang sekitar waduk mengeluh. Murjani, salah satu pedagang sekitar waduk, mengatakan jika ikan-ikan tersebut sudah dalam keadaan mabuk sejak Selasa (2/6/2020) .

Ketika ia hendak membuka warungnya, Mujani melihat ikan tersebut dalam keadaan mabuk atau sekarat. "Itu sejak selasa pagi sudah banyak yang mabuk. Itu banyak warga yang ambil ikannya waktu itu. Lha sekarang banyak yang busuk hingga menyebabkan bau menyengat," kata Mujani, kemarin.

Akibatnya, lanjut Mujani, selain membuat pelanggan jijik untuk makan di warungnya, Mujani mengaku istrinya sering sakit kepala dan tak makan selama dua hari karena teringat bau tersebut. "Pastinya, baunya ini kan membuat pelanggan jijik mas. Belum lagi istri saya sakit karena gak makan akibat sering mencium aroma busuk ini," keluh Mujani.

Menurut Mujani, ikan-ikan tersebut mati diduga karena tercemarnya air limbah yang sengaja dibuang oleh pabrik secara diam-diam. Ia menduga, pabrik-pabrik sekitar waduk harus bertanggung jawab atas peristiwa ini. "Mungkin airnya tercemar limbah mas, disini kan ada pabrik Unilever, Baigon dan banyak yang lainnya. Tapi saya gak tau juga mas, soalnya gak sekali ini ikan banyak yang mati sebanyak ini. Mereka pasti membuangnya diam-diam, apalagi pas hujan beberapa hari kemarin," cetus Mujani.

Sementara itu, Tuaji, Sekretaris Perusahaan PT SIER saat dikonfirmasi melalui pesan Whastapp mengatakan tidak benar jika ikan-ikan tersebut mati karena limbah melainkan kekurangan oksigen. Menurut Tuaji, hal ini biasanya terjadi setiap 5 tahun sekali karena anomali cuaca yaitu hujan deras dengan durasi yang lama dan bersamaan kondisi air laut pasang sehingga lumpur diwaduk tercampur air/keruh sehingga sebagian ikan mati.

"Sebagian besar masih hidup pak, diwaduk kami luasnya 11 hektare Dan jumlah ikannya banyak sekali mayoritas jenis nila dan mujahir, jadi ikan disana yang mati karena kekurangan oksigen," jelas Tuaji.

Hal ini, lanjut Tuaji, bisa dipastikan dengan hasil analisa air waduk oleh petugas lab air yang dilakukan oleh PT Sier yang mana airnya memang air hujan. Uji waduk tersebut, oleh tim lab air PT SIER yang mana PT SIER memiliki pengolahan limbah komunal yang saat ini diolah secara biologi sebesar 6500m3 per hari.

"Kami memiliki tim yang mampu menganalisa kondisi air bahwa air tersebut derajat polutannya seberapa jauh. Jadi sudah dipastikan bukan limbah," tambah Tuaji.

Tuaji menambahkan, yang sedang dilakukan PT SIER saat ini adalah membersihkan ikan yang mati dan dikubur ditempat yang aman. Serta memasang airator agar oksigen pada air waduk semakin kaya sehingga ikan yang ada disana bisa hidup.

"Kami bersihkan ikan yang mati dan memasang airator agar oksigen air wasuk semakin banyak hingga ikan yang disana bisa tetap hidup," tutup Tuaji. (her/jim)