MERAHPUTIH I SURABAYA - Wisuda merupakan momen yang sangat dinanti-nanti oleh setiap mahasiswa setelah melewati masa kuliah dan berhasil menuntaskan skripsi atau tugas akhir. Suasana haru dan bahagia biasanya menyelimuti prosesi wisuda di setiap perguruan tinggi, menjadi puncak perjalanan akademik yang penuh tantangan. Namun, pada wisuda ke-129 yang digelar oleh Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), terdapat sebuah kisah yang menyentuh hati, menghadirkan haru yang berbeda dari biasanya.
Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota
Di antara ratusan wisudawan yang merayakan kelulusannya bersama orang tua, ada dua sosok yang hadir dengan hati yang penuh keharuan dan kebanggaan, namun tanpa didampingi oleh sang buah hati. Mustain (60) dan Marodik (54), orang tua dari almarhum Birul Dzakiri (25), hadir di wisuda tersebut dengan membawa foto putra tercinta yang telah berpulang 41 hari sebelumnya.
Meskipun Birul tidak dapat hadir secara fisik dalam momen bersejarah ini, Mustain dan Marodik memutuskan untuk tetap datang ke wisuda putra mereka, membawa foto almarhum Birul ke atas panggung saat nama Birul dipanggil. Tangis haru pun tak dapat terbendung, mencampur perasaan duka dengan rasa bangga terhadap pencapaian sang putra yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Informatika, Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Untag.
"Bangga anak saya bisa menyelesaikan kuliahnya. Sebelum sakit, dia masih sempat ke kampus," ujar Mustain dengan mata berkaca-kaca saat ditemui oleh wartawan di Untag, Minggu (1/9/2024).
Mustain menceritakan perjalanan terakhir putranya sebelum berpulang. Birul, yang awalnya hanya mengeluhkan demam, sempat dibawa ke mantri dan dokter. Namun, kesehatannya terus menurun hingga akhirnya harus menjalani perawatan di rumah sakit dan pemeriksaan laboratorium. Kondisinya memburuk dan akhirnya dokter memvonisnya dengan infeksi darah setelah melalui proses transfusi darah sebanyak empat kantong. Birul meninggal dunia, meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga.
“Kemarin baru 40 hari. Dia nggak punya riwayat penyakit. Baru divonis setelah transfusi darah, katanya infeksi darah,” jelas Mustain.
Di sisi lain, Supangat, dosen wali dan penguji Birul, turut berbagi kenangan tentang mahasiswa yang dikenalnya dengan baik itu. Menurutnya, selama proses bimbingan skripsi hingga sidang, Birul tidak pernah mengeluhkan masalah kesehatan. Ia bahkan mengungkapkan bahwa penelitian Birul untuk skripsinya dinilai cukup baik karena mengangkat permasalahan di desanya sendiri. Skripsi Birul berfokus pada pemilihan bibit bebek yang berkualitas di Mojosari, sebuah daerah yang memiliki potensi besar dalam produksi telur bebek. Penelitiannya melibatkan sistem informasi dan algoritma untuk menguji kualitas telur yang menetas dengan induk yang baik, dan hasilnya telah diterapkan di desanya.
"Penelitiannya sangat baik karena dia mengangkat masalah di desanya, memilih bibit bebek yang tepat, karena di Mojosari potensinya memang telur bebek. Dia menguji kualitas telur bebek menetas dengan induk yang baik melalui sistem informasi dan algoritma. Penelitiannya sudah diterapkan di sana. Dia aktif konsultasi dengan kami," ungkap Supangat.
Baca juga: Jagat Maya Bergejolak, Pemuda Pancasila Surabaya Geram terhadap Konten Bermuatan SARA
Supangat mengenang komunikasi terakhirnya dengan Birul yang terjadi pada 23 Juli 2024, tepat setelah Birul berhasil menyelesaikan sidang skripsinya. Ia menggambarkan Birul sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, dan ceria, serta memiliki prestasi akademik yang baik.
"Dia anaknya sederhana, nggak banyak macam, seperti mahasiswa umumnya, aktif di akademik, humble, ceria. Prestasi akademiknya juga sangat baik. Waktu dengan kami, dia nggak pernah mengeluh. Hanya saat proses wisuda, kami baru mendengar keluhan sakit dari keluarganya," pungkasnya.
Wisuda ke-129 di Universitas 17 Agustus 1945 ini menjadi momen yang tidak akan terlupakan bagi Mustain, Marodik, serta seluruh pihak yang terlibat. Keberanian dan ketabahan kedua orang tua ini, yang tetap menghadiri wisuda putra mereka meski dalam suasana duka, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah Birul Dzakiri tidak hanya menjadi bukti bahwa perjuangan akademik bisa berbuah manis, tetapi juga bahwa cinta dan dukungan orang tua tidak pernah berakhir, bahkan saat anak mereka telah tiada.(red)
Editor : prass prasetyo