Menelusuri Jejak Kebangsaan lewat Arsitektur: Dosen dan Mahasiswa Untag Surabaya Teliti Gereja Puhsarang

harianmerahputih.id
“Studi Konstruksi dan Material Arsitektur pada Naungan Atap Gereja Puhsarang Kediri”

MERAHPUTIH I SURABAYA - Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi arsitektur modern, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memilih untuk kembali menengok akar-akar budaya dan nilai kebangsaan yang tertanam dalam lanskap arsitektur Nusantara. Kampus yang kerap disebut sebagai ‘Kampus Merah Putih’ ini tak hanya memperingati Bulan Pancasila dan Bung Karno melalui kegiatan-kegiatan simbolik, tetapi juga mengukuhkannya dalam aktivitas ilmiah.

Salah satu wujudnya terlihat dalam penelitian bertajuk “Studi Konstruksi dan Material Arsitektur pada Naungan Atap Gereja Puhsarang Kediri” yang dipimpin oleh Febby Rahmatullah Masruchin, S.T., M.T., dosen Program Studi Arsitektur Untag Surabaya. Bersama dua koleganya, Dr. Ir. Ibrahim Tohar, M.T. dan Ir. Farida Murti, M.T., serta tiga mahasiswa arsitektur angkatan 2022, tim ini menelisik bangunan yang tak hanya unik dari sisi teknis, tetapi juga sarat makna kebangsaan.

Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota

Gereja Puhsarang di Kediri, yang dibangun sejak 1936, menjadi fokus kajian karena keberhasilannya menerjemahkan nilai-nilai arsitektur vernakular Indonesia ke dalam bentuk modern, sembari tetap menjaga harmoni dengan lingkungan tropis dan nilai budaya lokal. Namun lebih dari itu, pilihan objek studi ini sekaligus menjadi simbol persatuan dalam keberagaman—sebuah nilai yang kerap digaungkan namun jarang diejawantahkan dalam praktik ilmiah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman agama bukan sekat, tetapi justru jembatan dalam pembangunan ilmu pengetahuan. Penelitian ini bukan semata soal bangunan, tapi juga refleksi nilai-nilai Pancasila yang seharusnya hidup di dunia akademik,” kata Febby.

Tak sedikit pertanyaan muncul dari kolega, terutama terkait latar belakang Febby sebagai seorang muslim yang meneliti gereja sebagai bangunan suci agama lain. Namun justru dari situlah, ia dan timnya ingin menegaskan bahwa nilai kebangsaan harus melampaui batas sektarian.

Kajian ini menyoroti konstruksi atap Gereja Puhsarang yang tak lazim: menggunakan sistem kabel dengan pengikat ring, berbeda dari struktur atap konvensional di Indonesia. Bentuk cekung yang dihasilkan tak hanya aerodinamis, tetapi juga menghadirkan estetika arsitektur yang tetap relevan dan memikat hingga hari ini. Material penutup atap pun mengalami modifikasi dengan sistem ikat yang disesuaikan, menunjukkan kecanggihan desain yang sejalan dengan adaptasi iklim tropis.

Baca juga: Pemkot Surabaya Selamatkan Aset Rp55,2 Miliar, Eri Cahyadi Tegaskan Prioritas untuk Kesejahteraan Warga

Penelitian berlangsung dari April hingga Juni 2025 dan menjadi bagian dari hibah riset reguler internal Untag Surabaya. Selain melibatkan laboratorium Sains Struktur dan Budaya serta LPPM, kegiatan ini juga didukung penuh oleh Prodi Arsitektur, serta mendapatkan sambutan hangat dari pengelola dan Romo di Gereja Puhsarang. Tak ketinggalan, pelestari bangunan seperti arsitek dan kontraktor turut membuka ruang diskusi dan kolaborasi.

“Penelitian ini bukan akhir, melainkan permulaan untuk eksplorasi yang lebih dalam tentang bagaimana arsitektur Indonesia bisa maju tanpa meninggalkan akar kebangsaannya,” tambah Ibrahim Tohar.

Bagi Christian Farrelino, Apolinaris Remetwa, dan Riadi—tiga mahasiswa yang terlibat—pengalaman ini menjadi pelajaran penting di luar ruang kelas, yang menyatukan teori dan praktik sekaligus memupuk semangat nasionalisme dari sisi profesi mereka sebagai calon arsitek masa depan.

Baca juga: Jagat Maya Bergejolak, Pemuda Pancasila Surabaya Geram terhadap Konten Bermuatan SARA

Untag Surabaya menempatkan proyek ini sebagai contoh konkret bagaimana nilai-nilai Pancasila bisa hadir bukan hanya dalam pidato atau seremoni, melainkan lewat riset ilmiah yang berpijak pada keberagaman, inklusi, dan semangat gotong royong. Di tengah kemajuan dunia arsitektur modern, justru di sinilah benih-benih kebangsaan disemai: dari genteng, tiang, dan atap sebuah gereja yang sunyi, namun sarat makna persatuan. (red) 

 

 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru