Meretas Mimpi dari Pelosok Jawa Tengah: Ketika Beasiswa Menjadi Harapan

harianmerahputih.id
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat pelepasan Angkatan V Sekolah Unggulan CT Arsa Foundation Sukoharjo, Sabtu (28/6/2025).

MERAHPUTIH I SUKOHARJO – Di tengah keterbatasan, harapan bisa lahir dan tumbuh subur. Itulah yang dirasakan Daffa Aziz Firmansyah, remaja asal Cilacap, Jawa Tengah. Anak petani yang kini sakit stroke itu tak pernah menyangka namanya akan tertera di 14 universitas ternama dunia, termasuk University of Sydney dan Nanyang Technological University (NTU).

“Saya cuma ingin sekolah, supaya bisa bantu keluarga,” ujar Daffa lirih, di sela acara pelepasan Angkatan V SMA Unggulan CT Arsa Foundation, Sabtu (28/6/2025).

Baca juga: Peresmian Lima Infrastruktur Baru: Prabowo Tegaskan Konektivitas Jadi Tulang Punggung Pemerataan

Cerita Daffa bukan satu-satunya. Ada Esa dari Purworejo, anak tunggal dari ibu single parent yang kini bersiap kuliah di IPB. Semua itu tak lepas dari tangan-tangan yang peduli dari para guru, yayasan, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang kini gencar memberikan beasiswa kepada ribuan anak dari keluarga kurang mampu.

“Pendidikan adalah kunci utama pengentasan kemiskinan,” tegas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang hadir langsung menyaksikan pelepasan 101 siswa dari berbagai daerah di Jateng, DIY, dan Madiun Raya.

Tahun 2025, Pemprov Jateng mengalokasikan beasiswa untuk 1.100 anak tidak sekolah (ATS) sebesar Rp2,2 miliar. Tak berhenti di sana, beasiswa juga mengalir ke 15.000 siswa miskin dengan total anggaran Rp15 miliar. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah langkah sistemik untuk memastikan bahwa anak-anak tak berhenti di tengah jalan hanya karena kemiskinan.

“Saya ini anak petani. Dulu makan telur satu dibagi enam. Tapi saya bisa jadi gubernur. Kalian harus lebih dari saya,” kata Luthfi, mencoba menyemangati para lulusan.

Dengan suara bergetar, ia mengingatkan bahwa tak semua orang mampu mengubah garis kemiskinan begitu saja. Namun lewat intervensi pendidikan, generasi muda bisa memiliki pijakan kuat untuk melompat lebih tinggi.

Baca juga: Posyandu Enam SPM Dikebut, Jateng Siapkan Lompatan Layanan Publik

Sekolah CT Arsa Foundation menjadi saksi lahirnya anak-anak muda penuh semangat. Dari 101 lulusan tahun ini, 85 orang berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri, tujuh ke luar negeri, tujuh ke PTS ternama, dan dua ke politeknik. Mereka semua berasal dari keluarga desil 1—kelompok masyarakat termiskin.

Anita Ratnasari Tanjung, Ketua CT Arsa Foundation, menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya berdiri bukan sekadar mencetak lulusan, tapi menanamkan harapan.

“Cikal bakal kami lahir dari musibah tsunami. Kami ingin anak-anak dari keluarga tak mampu bisa bermimpi besar. Kami ingin jadi percontohan sekolah rakyat,” tuturnya.

Baca juga: Pemprov Jateng Kerahkan Bantuan Cepat untuk Korban Longsor Banjarnegara

Gubernur Luthfi pun menginstruksikan seluruh kepala daerah di Jawa Tengah untuk mendukung gerakan ini. Karena pendidikan, menurutnya, bukan hanya soal buku dan nilai, tapi soal membuka pintu masa depan.

“Jika pendidikan anak-anak kita terjamin, maka pengangguran bisa ditekan. Ini adalah investasi jangka panjang,” katanya.

Di Sukoharjo, di balik bangunan sederhana dan seragam yang mungkin lusuh, ratusan mimpi besar sedang tumbuh. Pemerintah dan masyarakat kini saling menguatkan, memastikan tak ada anak yang tertinggal hanya karena miskin. Karena di Jawa Tengah, mimpi besar bisa lahir dari ladang sempit di lereng desa. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru