MERAHPUTIH I SURABAYA — Di tengah antusiasme siswa baru menyambut tahun ajaran 2025/2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat sejarah penting dalam dunia pendidikan. Sebanyak 72.841 murid baru jenjang SMA, SMK, dan SLB di 38 kabupaten/kota resmi tercatat sebagai penerima program pendidikan terjangkau dan beasiswa penuh. Pencapaian ini membawa Jawa Timur meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (14/7/2025), yang dipusatkan di SMA 1 Hang Tuah Surabaya.
Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol. Ia menjadi cermin dari semangat inklusi dan keberpihakan pada akses pendidikan yang lebih adil, khususnya bagi peserta didik di lembaga-lembaga swasta yang kerap tertinggal dalam distribusi bantuan pendidikan.
Baca juga: Jatim Borong Dua Penghargaan Kesehatan Nasional, Bukti Komitmen Jaga Sanitasi dan Lingkungan Sehat
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan bahwa capaian ini adalah hasil kolaborasi dan konsistensi antara pemerintah dan penyelenggara pendidikan swasta.
“Dari total 72.841 murid penerima, sebanyak 12.650 murid SMA swasta dan 19.912 murid SMK swasta mendapat beasiswa penuh. Sedangkan program pendidikan terjangkau diberikan kepada 11.486 murid SMA dan 28.793 murid SMK di lembaga swasta,” kata Aries di hadapan ratusan siswa, guru, dan tamu undangan.
Program ini tersebar di 1.156 lembaga dari total 2.936 lembaga pendidikan swasta yang tersebar di seluruh penjuru Jawa Timur. Menurut Aries, langkah ini adalah bentuk keberpihakan pemerintah terhadap pemerataan akses pendidikan, terutama bagi keluarga dari kalangan menengah ke bawah.
Selain mencatatkan rekor, hari pertama MPLS juga menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali semangat pendidikan yang ramah, inklusif, dan bebas dari praktik kekerasan maupun diskriminasi. Aries menekankan bahwa pelaksanaan MPLS tahun ini harus sejalan dengan konsep MPLS Ramah yang diusung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
“Tidak ada lagi praktik perpeloncoan. Tidak ada intimidasi. Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan menyenangkan,” tegas Aries.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Lebih jauh, ia menyoroti bahaya perundungan, pinjaman online (pinjol), dan judi daring yang mulai mengintai anak-anak usia sekolah, terlebih di era digital saat ini. Menurutnya, MPLS menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai literasi digital yang sehat dan kritis kepada siswa.
“Kita perlu mendampingi anak-anak agar tidak mudah terjerumus. Edukasi sejak awal sangat penting untuk menjauhkan mereka dari bahaya judi online dan jeratan pinjol. Ini bukan sekadar tanggung jawab sekolah, tapi tanggung jawab kita semua,” ujarnya.
MPLS tahun ini dilaksanakan selama lima hari, memberikan waktu bagi peserta didik baru untuk mengenal lingkungan sekolah, tenaga pendidik, kurikulum, hingga aktivitas ekstrakurikuler baik akademik maupun non-akademik. Harapannya, siswa mampu beradaptasi lebih cepat dan nyaman dalam ekosistem baru mereka.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
“Siswa akan diperkenalkan pada budaya belajar yang positif, termasuk bagaimana mengembangkan potensi diri lewat kegiatan-kegiatan yang mereka minati. Ini menjadi bekal penting sebelum mereka benar-benar masuk ke ritme belajar penuh pekan depan,” tambah Aries.
Langkah besar Jawa Timur dalam memperluas akses pendidikan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain. Lebih dari sekadar jumlah, yang dirayakan dalam momentum ini adalah komitmen untuk menyetarakan mimpi, menyambut masa depan yang lebih adil, dan menjadikan pendidikan sebagai hak, bukan sekadar privilese.(red)
Editor : Redaksi