MERAHPUTIH I LABUAN BAJO – Sejumlah wisatawan yang berencana menikmati eksotisme Taman Nasional Komodo (TNK), Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, terpaksa menelan kecewa. Dalam tiga hari terakhir, beberapa kapal wisata tak bisa berlayar lantaran kehabisan bahan bakar minyak (BBM).
Akibatnya, rencana perjalanan wisatawan yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari pun berantakan. Banyak dari mereka akhirnya membatalkan kunjungan ke salah satu destinasi unggulan dunia itu.
Baca juga: Pemkab Bojonegoro Gerak Cepat Atasi Antrean Solar, Patra Niaga Diminta Pastikan Pasokan Aman
“Kelangkaan BBM ini membuat citra pariwisata Manggarai Barat rusak di mata dunia,” ujar Sekretaris DPC Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Manggarai Barat, Getrudis Naus, Rabu (20/8).
Getrudis menyesalkan masalah krusial ini selalu muncul di momen kunjungan wisatawan sedang tinggi (high season). Menurutnya, pelaku wisata di Labuan Bajo jadi serba salah menghadapi tamu yang kecewa.
“Kenapa ini selalu terjadi di musim ramai wisatawan datang mengunjungi destinasi kita. Muka pelaku pariwisata mau taruh di mana kalau tamu sudah complaint (mengeluh) seperti ini,” katanya dengan nada kesal.
Ia menjelaskan, wisatawan yang datang umumnya sudah menyiapkan perjalanan secara matang, mulai dari akomodasi, agenda trip, hingga aktivitas di Labuan Bajo. Maka ketika ada hambatan transportasi akibat BBM langka, kerugian yang muncul bukan hanya di pihak penyedia layanan, tetapi juga dialami wisatawan.
“Penginapan mereka sudah booking untuk berapa lama, trip mereka semua sudah ter-schedule. Masih banyak yang belum paham bahwa pariwisata itu sangat bergantung pada ketepatan layanan,” tegasnya.
Menurut Getrudis, kelangkaan BBM tidak sekadar merugikan penyedia jasa wisata, melainkan juga mencoreng pelayanan publik secara keseluruhan.
“Bukan hanya buat pelaku pariwisata, dampaknya pelayanan publik juga jadi rusak di mata wisatawan. Tolong pemerintah menyikapi ini, ada apa sebenarnya sampai ini terjadi,” imbuhnya.
Ia menambahkan, para tamu tak mungkin menunggu terlalu lama di Labuan Bajo karena jadwal mereka ketat. “Tamu-tamu itu sudah ter-schedule berapa lama mereka harus tinggal. Tidak bisa menunggu lebih lama,” katanya.
Baca juga: BBM BP 92 Kembali Mengalir di SPBU BP-AKR, Usai Kelangkaan Imbas Lonjakan Permintaan
Ternyata, masalah ini bukan kali pertama terjadi. Pada akhir Juli 2025, sejumlah kapal wisata juga sempat gagal berangkat ke TN Komodo akibat kehabisan BBM. Situasi serupa kembali terulang sejak 16 Agustus lalu, membuat kepercayaan wisatawan kian goyah.
Hal senada disampaikan Atiek, pengelola kapal dari Lifeboard Indonesia. Ia menilai keterlambatan pasokan BBM merusak kepercayaan wisatawan terhadap profesionalitas operator kapal.
“Wisatawan bisa menganggap kami tidak profesional karena alasan kehabisan BBM. Padahal ini bukan kesalahan kami,” jelas Atiek.
Ia juga mengungkapkan, sekalipun ada pasokan BBM, harganya kerap melambung tinggi. “Kalau pun ada, harganya sangat mahal. Biaya operasional kami otomatis meningkat karena harus membeli bahan bakar yang terlampau mahal,” keluhnya.
Di sisi lain, Pertamina memberi penjelasan soal penyebab kelangkaan. Menurut pihak perusahaan energi pelat merah itu, keterlambatan distribusi BBM di Labuan Bajo dan sejumlah wilayah Flores dipicu oleh cuaca buruk yang membuat kapal tanker pengangkut bahan bakar tidak bisa segera merapat.
Sayangnya, alasan ini tak serta merta menenangkan pelaku pariwisata. Bagi mereka, destinasi kelas dunia seperti Labuan Bajo seharusnya memiliki skema mitigasi yang lebih matang agar layanan wisata tidak berantakan hanya karena distribusi energi tersendat.
Labuan Bajo yang digadang-gadang sebagai “Bali Baru” kini kembali menghadapi ujian serius. Jika masalah mendasar seperti pasokan BBM tidak segera diselesaikan, wajah pariwisata Manggarai Barat berisiko semakin tercoreng di mata wisatawan internasional. (red)
Editor : Redaksi