MERAHPUTIH I JAKARTA – Tragedi yang melibatkan pembakaran Gedung Negara Grahadi oleh massa aksi, Sabtu (30/8) malam, memantik keprihatinan mendalam dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Ia menegaskan, gedung bersejarah yang telah menjadi saksi perjalanan panjang Jawa Timur itu adalah cagar budaya yang semestinya dijaga bersama, bukan justru dirusak.
“Iya, tentu itu bagian dari cagar budaya. Kita semua prihatin bahwa bagian barat Gedung Grahadi ternyata dilempari molotov juga,” kata Khofifah saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (1/9).
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Insiden pelemparan bom molotov terjadi sekitar pukul 21.38 WIB. Api melalap bagian barat Grahadi yang dikenal sebagai kantor kerja Wakil Gubernur serta ruang pers (pressroom) tempat wartawan biasa melakukan peliputan. Kobaran api dan kepulan asap membuat suasana ricuh malam itu semakin mencekam.
Khofifah mengungkapkan, sekitar setengah jam sebelum gedung dilempari molotov, dirinya bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin sempat menemui perwakilan massa aksi di depan Grahadi. Ia bahkan menghubungi Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto di hadapan para mahasiswa untuk merespons tuntutan agar rekan-rekan mereka yang ditahan Polrestabes Surabaya segera dibebaskan.
Setelah itu, Khofifah, Pangdam, dan perwakilan mahasiswa mendatangi Polrestabes. Hasilnya, sebagian besar yang ditahan akhirnya dipulangkan, terutama mereka yang masih berusia 15-16 tahun. “Malam itu sampai dini hari, sekitar pukul 01.30 WIB, keluarga datang menjemput, semuanya dipulangkan,” ujarnya.
Namun, langkah dialog dan pemulangan itu ternyata tidak mampu menahan ledakan amarah sebagian massa yang masih bertahan di sekitar Grahadi. “Sekitar satu jam lebih setelah kami bertemu, massa mulai melempar botol hingga bom molotov ke dalam gedung,” tutur Anwar, warga Gubeng yang menyaksikan kejadian itu.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Selain menyoroti kerusakan bangunan, Khofifah memastikan para korban luka akibat kericuhan mendapat perhatian penuh. “Pemerintah Provinsi menanggung perawatan di RSUD dr. Saiful Anwar Malang maupun RSUD dr. Soetomo Surabaya,” jelasnya.
Polisi pun telah memasang garis pembatas di area kanan dan kiri bangunan untuk keperluan identifikasi. “Harapannya, proses pemeriksaan yang dilakukan Polrestabes bisa memetakan kerusakan secara menyeluruh,” tambah Khofifah.
Khofifah juga menegaskan bahwa kabar yang beredar tentang rumah pribadi Wakil Gubernur Emil Dardak dijarah tidak benar. “Bukan rumah, tapi kantor kerja Pak Wagub yang berada di kompleks Grahadi bagian barat yang terbakar,” ucapnya meluruskan informasi.
Baca juga: HKTI Deklarasikan Jatim Lumbung Ternak, Inovasi Peternakan Jadi Fokus
Gedung Negara Grahadi yang berdiri megah di jantung Kota Surabaya tak hanya berfungsi sebagai kantor gubernur, melainkan juga simbol sejarah dan kebudayaan. Dibangun sejak masa kolonial, gedung ini kerap menjadi lokasi acara resmi kenegaraan dan titik penting perjalanan politik Jawa Timur.
Kini, sebagian bangunannya porak-poranda akibat amarah yang membara. Reruntuhan arsitektur kolonial yang hangus menyisakan tanya: sampai kapan warisan budaya dan simbol demokrasi bisa selamat dari gelombang demonstrasi yang berubah anarkis?
“Ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa kebebasan menyampaikan aspirasi harus dilakukan dengan cara-cara damai. Jangan sampai perjuangan menuntut keadilan justru meninggalkan luka sejarah baru,” tandas Khofifah. (red)
Editor : Redaksi