Alat Pemantau Gunung Kelud Raib Dicuri, Emil Dardak Minta Warga Ikut Jaga Perangkat Vital

harianmerahputih.id
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memberikan keterangan pers seusai menerima kunjungan Duta Besar Selandia Baru di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (15/9/2025).

MERAHPUTIH I SURABAYA – Kasus hilangnya peralatan pemantau aktivitas Gunung Kelud di Blitar menambah daftar panjang tantangan mitigasi bencana di Jawa Timur. Sejumlah perangkat vital yang digunakan untuk memantau pergerakan vulkanik raib, diduga dicuri pihak tak bertanggung jawab. Kerugian diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.

Peralatan tersebut milik Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan selama ini menjadi salah satu penopang sistem peringatan dini atas potensi erupsi gunung berapi.

Baca juga: Jatim Borong Dua Penghargaan Kesehatan Nasional, Bukti Komitmen Jaga Sanitasi dan Lingkungan Sehat

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai kejadian ini harus menjadi peringatan bersama tentang pentingnya menjaga perangkat mitigasi bencana. Ia menyebutkan, keberadaan alat-alat tersebut sangat krusial bagi keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan letusan.

“Itu kan alat milik Badan Geologi. Makanya kami terus berkoordinasi baik dengan PVMBG maupun Badan Geologi. Alat ini memang penting karena mendeteksi aktivitas gunung berapi,” ujar Emil seusai menerima kunjungan Duta Besar Selandia Baru di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (15/9/2025).

Emil menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan mendukung penuh upaya pemulihan yang dilakukan Badan Geologi. Ia berharap proses recovery segera dilakukan agar fungsi pemantauan tidak terganggu dalam jangka panjang.

“Kami tentu siap memberi kerja sama terbaik dengan Badan Geologi. Kami optimistis dan yakin pusat pos pantau tersebut bisa segera dipulihkan. Harapan kami, masyarakat juga ikut menjaga alat pendeteksi bencana karena manfaatnya sangat besar bagi keselamatan warga itu sendiri,” tambah Emil.

Informasi mengenai raibnya peralatan pemantau Gunung Kelud pertama kali disampaikan Badan Geologi melalui akun Instagram resminya, @badan.geologi. Dalam unggahan tersebut, terlihat sejumlah foto kondisi pos pantau usai peralatan dibobol.

Alat yang hilang meliputi GNSS Leica GR30 beserta kabel, Seismik Broadband Certimus dengan kabel, kabel grounding tower, dan penangkal petir. Selain itu, pencuri juga membawa kabel solar panel, enam unit accu Panasonic LC-P1275NA, kabel accu, serta switch hub moxa.

Baca juga: Jatim Mantapkan Dukungan untuk Swasembada Susu dan Gula, Khofifah: Siap di Garis Terdepan

Menurut pengamat Gunung Kelud, Budi Prianto, tanda-tanda awal hilangnya peralatan terdeteksi ketika sistem pemantauan sempat mati beberapa hari sebelum pengecekan dilakukan.

“Awalnya alat ini sempat mati. Biasanya kalau mati itu karena aki ngedrop atau tertutup sesuatu. Saat kami datangi pada 8 September, ternyata sudah hilang, dibobol,” tutur Budi saat dikonfirmasi, Rabu (10/9/2025).

Budi menyampaikan, meski perangkat yang hilang termasuk kategori vital, status pemantauan Gunung Kelud tetap berjalan karena sistem utama masih aktif. Namun, hilangnya perangkat cadangan itu tetap berdampak terhadap kualitas data pemantauan.

“Pemantauan tetap berjalan. Hanya saja analisis data bisa terganggu, khususnya pada titik pemantauan yang dicuri tersebut,” ujarnya.

Karena itu, hilangnya peralatan pemantau menjadi masalah serius. Budi Prianto menegaskan, nilai kerugian material ditaksir mencapai Rp1,5 miliar. Pihaknya bersama Badan Geologi berencana melaporkan kasus ini ke Polsek setempat untuk menindaklanjuti dugaan pencurian.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

“Kerugiannya bisa sampai Rp1,5 miliar. Rencananya akan kami laporkan ke polisi agar ada tindak lanjut,” kata Budi.

Kasus ini tidak sekadar menyangkut hilangnya peralatan dengan nilai fantastis, tetapi juga menyangkut keselamatan ribuan jiwa yang tinggal di kawasan rawan bencana. Alat pemantau gunung berapi adalah bagian penting dari sistem peringatan dini yang memungkinkan pemerintah mengambil langkah cepat jika aktivitas vulkanik meningkat.

Pemerintah daerah, badan geologi, dan aparat penegak hukum kini dihadapkan pada pekerjaan rumah besar: menegakkan keamanan di kawasan rawan bencana sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk ikut melindungi infrastruktur vital mitigasi bencana.

Hilangnya peralatan pemantau Gunung Kelud menjadi ironi di tengah upaya pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi erupsi. Jika alat seharga miliaran rupiah saja bisa hilang, maka keselamatan warga bisa terancam bukan karena bencana alam semata, melainkan juga akibat kelalaian manusia. (dpr)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru