MERAHPUTIH I SURABAYA — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, seluruh proses identifikasi korban ambruknya Musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, dilakukan secara profesional dan penuh kehati-hatian. Ia memastikan bahwa tahapan demi tahapan penanganan korban berjalan sesuai standar, dengan dukungan tim medis, forensik, dan psikososial yang telah disiagakan sejak awal kejadian.
“Ante mortem sudah stand by di pesantren sejak hari pertama. Sampel DNA juga sudah diambil dari keluarga wali santri, sehingga semua insya Allah well prepared,” ujar Khofifah usai meninjau proses post mortem di RS Bhayangkara Surabaya, Jumat (3/10/2025).
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Kunjungan Khofifah sore itu menjadi penegas komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memberikan kepastian identitas bagi seluruh korban. Malam ini, menurutnya, tim gabungan telah menjadwalkan proses rekonsiliasi antara post mortem dan ante mortem untuk mencocokkan data medis, DNA, serta informasi keluarga.
“Dengan rekonsiliasi ini, keluarga bisa memastikan dan meyakini identitas putra-putri mereka yang menjadi korban. Tidak boleh ada keraguan sedikit pun,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada identifikasi, Pemprov Jatim juga menurunkan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dari Dinas Sosial guna mendampingi keluarga korban di lokasi maupun rumah sakit. Tim ini berperan menenangkan keluarga, memberikan informasi yang akurat, dan membantu mereka melewati masa krisis dengan pendekatan empatik.
Khofifah menegaskan bahwa proses evakuasi di lapangan terus dimaksimalkan dengan prinsip kehati-hatian. “Crane mulai beroperasi sekitar pukul 10.30 WIB, lalu sempat dihentikan saat istirahat salat Dzuhur, kemudian dilanjutkan lagi. Untuk mempercepat evakuasi, Pemprov menambah crane dan pada tengah malam juga menambah breaker,” tuturnya.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Menurutnya, setiap langkah di lapangan dikawal langsung oleh tenaga profesional, termasuk tim penyelamat, operator alat berat, dan aparat keamanan. Keselamatan para relawan dan tim penyelamat menjadi perhatian utama, mengingat di bawah puing-puing reruntuhan masih terdapat santri yang belum ditemukan.
“Kami tidak ingin gegabah. Proses evakuasi ini bukan sekadar teknis, tapi juga menyangkut nyawa dan kemanusiaan. Karena itu, setiap tindakan harus memperhitungkan risiko sekecil apa pun,” imbuhnya dengan nada tegas namun penuh empati.
Di tengah suasana duka, Khofifah juga mengajak seluruh masyarakat Jawa Timur untuk bersatu dalam doa, memberikan dukungan moral bagi keluarga korban, dan tidak terjebak pada spekulasi. Ia mengingatkan bahwa penanganan bencana seperti ini membutuhkan kesabaran dan sinergi dari berbagai pihak.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
“Kami berharap keluarga santri sabar dan bisa memahami dinamika proses evakuasi maupun identifikasi yang sedang berlangsung. Semua pihak bekerja siang dan malam untuk memberikan kepastian terbaik bagi mereka. Mudah-mudahan keluarga bisa menerima bahwa kerja-kerja profesional sudah dilakukan sebaik-baiknya,” pungkasnya.
Tragedi ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo menjadi duka mendalam bagi dunia pendidikan pesantren di Jawa Timur. Namun di balik peristiwa pilu ini, terlihat sinergi kuat antara pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat, yang bergandeng tangan menghadapi ujian kemanusiaan.(red)
Editor : Redaksi