Lia Istifhama: Revitalisasi Bahasa Daerah Dinilai Kunci Perkuat Jati Diri Bangsa

harianmerahputih.id
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama

MERAHPUTIH I SURABAYA — Di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi budaya asing, penguatan identitas kebangsaan menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai salah satu fondasi penting dalam menjaga karakter bangsa terletak pada keberlanjutan bahasa daerah.

Hal tersebut disampaikan Ning Lia, sapaan akrabnya saat ditemui di kantornya, Selasa (13/01/2026). Ia menegaskan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi lokal, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai, sejarah, dan cara pandang masyarakat Nusantara.

Baca juga: Lia Istifhama: Influencer Tak Cukup Bermodal Popularitas, Harus Berkarakter dan Berilmu

“Bahasa daerah adalah akar kebudayaan kita. Ketika akar itu rapuh atau terputus, maka jati diri bangsa juga akan ikut tergerus,” ujar Ning Lia dengan nada serius.

Menurutnya, pelestarian bahasa daerah tidak boleh ditempatkan sebagai isu pinggiran atau sebatas kepentingan daerah tertentu. Dalam konteks kebangsaan, keberadaan bahasa daerah justru menjadi elemen penting yang memperkaya mozaik identitas nasional Indonesia.

Jawa Timur, lanjut Ning Lia, merupakan salah satu provinsi dengan keragaman bahasa daerah yang luar biasa. Selain bahasa Jawa dengan beragam dialeknya, terdapat pula bahasa Madura, Osing di Banyuwangi, serta bahasa Tengger yang hidup di kawasan Bromo dan sekitarnya. Kekayaan ini, kata dia, membutuhkan perhatian serius agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.

“Keragaman bahasa di Jawa Timur adalah kekuatan. Namun, tanpa upaya revitalisasi yang terencana dan berkelanjutan, bahasa-bahasa ini berisiko kehilangan penuturnya,” ungkapnya.

Ning Lia menekankan pentingnya menjadikan dunia pendidikan sebagai garda terdepan dalam revitalisasi bahasa daerah. Sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam menanamkan kebanggaan berbahasa daerah sejak usia dini. Di sisi lain, komunitas budaya dan ruang-ruang sosial masyarakat perlu dihidupkan sebagai wadah penggunaan bahasa daerah dalam praktik sehari-hari.

Baca juga: Reses di 16 Daerah Jatim, Lia Istifhama Tegaskan Empat Agenda Mendesak Nasional

Tidak hanya itu, ia juga memberikan apresiasi kepada Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur yang telah melakukan pra-audiensi serta menyusun perencanaan program revitalisasi bahasa daerah. Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal positif hadirnya negara dalam menjaga dan merawat warisan budaya lokal.

“Ini menunjukkan bahwa negara hadir dan peduli. Revitalisasi bahasa daerah harus menjadi agenda bersama, bukan hanya tugas satu lembaga,” katanya.

Ning Lia menepis anggapan bahwa penguatan bahasa daerah akan menggeser peran bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Menurutnya, keduanya justru saling melengkapi.

Baca juga: Lia Istifhama: Satyalancana Wira Karya Bukti Jatim Jadi Pilar Swasembada Pangan Nasional

“Bahasa Indonesia adalah perekat bangsa, sementara bahasa daerah adalah penguat identitas. Keduanya berjalan beriringan, bukan saling meniadakan,” tegasnya.

Sebagai senator yang mewakili daerah, Lia Istifhama menyatakan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan pelestarian bahasa daerah di tingkat nasional. Ia berharap program revitalisasi tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar mampu menjawab tantangan zaman tanpa menghilangkan akar budaya bangsa.

“Pembangunan nasional harus berpijak pada identitas. Tanpa itu, kita akan kehilangan arah sebagai bangsa besar,” pungkasnya. (dpr) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru