MERAHPUTIH I SURABAYA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya membawa dampak pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengelolaan limbah berbasis lingkungan. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur pun mengambil peran strategis dengan siap mengelola limbah dapur MBG agar bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua HKTI Jawa Timur, Arum Sabil, usai menghadiri silaturahmi dan halal bihalal bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (1/4).
Baca juga: Uji Coba Prasmanan MBG di Malang, Siswa Lebih Mandiri, SPPG Evaluasi Skema Distribusi
Menurut Arum, kehadiran dapur-dapur MBG di berbagai daerah tidak hanya membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar, tetapi juga menghasilkan limbah yang jika tidak dikelola dengan baik berpotensi mencemari lingkungan.
“Ya, jadi kami para HKTI ini melihat MBG ini sudah mulai berdiri. Maka di situ ada istilah simbiosis mutualisme. Dapur-dapur MBG tentu membutuhkan bahan baku dari hasil pertanian. Maka para petani bisa menyiapkan kebutuhan seperti telur, daging, sayur, beras, dan lainnya,” ujar Arum.
Namun demikian, di balik aktivitas produksi makanan tersebut, terdapat limbah dapur yang jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya operasional MBG. Meski terlihat kecil di setiap titik dapur, Arum menilai akumulasi limbah tersebut bisa menjadi besar jika dikumpulkan secara menyeluruh.
“Nah, satu sisi kami melihat MBG itu juga menghasilkan limbah. Mungkin terlihat sedikit di satu tempat, tapi kalau dikumpulkan jumlahnya besar. Agar tidak merusak lingkungan dan tetap menjaga dapur MBG, kami minta teman-teman HKTI untuk bekerja sama mengambil limbah tersebut,” tegasnya.
Baca juga: Jatim Bidik WTP ke-11, Khofifah Tekankan Disiplin Tata Kelola Keuangan
Lebih lanjut, Arum menjelaskan bahwa limbah dapur MBG memiliki potensi besar untuk diolah menjadi energi alternatif maupun pupuk organik yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Pengolahan limbah menjadi biogas, misalnya, dapat membantu menyediakan sumber energi terbarukan bagi masyarakat sekitar.
“Limbahnya itu bisa jadi biogas, bisa menjadi pupuk organik. Ini bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pertanian. Tidak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga ekonomi,” jelasnya.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk integrasi antara program ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Dengan melibatkan petani melalui HKTI, siklus produksi pangan hingga pengolahan limbah dapat berjalan secara terpadu.
Baca juga: Lia Istifhama: HUT ke-120 Kota Blitar Momentum Transformasi Nyata
Di sisi lain, kolaborasi ini juga diharapkan mampu memperkuat peran petani dalam ekosistem MBG, tidak hanya sebagai penyedia bahan baku, tetapi juga sebagai pengelola hasil samping yang bernilai tambah.
HKTI Jawa Timur pun mendorong agar kerja sama ini dapat segera diimplementasikan di berbagai dapur MBG di wilayah Jawa Timur. Dengan demikian, program MBG tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi model pengelolaan limbah yang inovatif dan berkelanjutan.
Melalui sinergi ini, HKTI optimistis bahwa program MBG dapat memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.(pps)
Editor : Redaksi