MERAHPUTIH I SURABAYA – Kinerja PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) kembali menuai apresiasi. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menilai Bank Jatim sebagai salah satu BUMD paling solid di Indonesia berkat kinerja keuangan yang kuat sekaligus kontribusinya dalam memperkuat ekonomi daerah.
Menurut Lia, keberhasilan Bank Jatim membukukan laba tertinggi di jajaran Bank Pembangunan Daerah (BPD) menunjukkan tata kelola perusahaan yang baik, kepemimpinan yang visioner, serta keberpihakan terhadap sektor produktif. Ia menilai Bank Jatim mampu menjaga keseimbangan antara pencapaian bisnis, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Baca juga: Ning Lia: Desa Wisata Berkembang, Ekonomi Masyarakat Ikut Bergerak
Lia juga mengapresiasi transformasi digital dan penguatan Kelompok Usaha Bank (KUB) yang dinilai menjadi strategi penting untuk memperluas layanan sekaligus meningkatkan daya saing Bank Jatim di tingkat nasional.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, menegaskan tujuan utama perseroan tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mendorong inklusi dan literasi keuangan serta memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat.
Baca juga: Bank Jatim Tingkatkan Layanan Perbankan bagi ASN
Saat ini Bank Jatim didukung jaringan 244 kantor cabang, termasuk di Jakarta, serta terus memperkuat layanan digital melalui mobile banking. Perseroan juga berupaya meningkatkan porsi kredit produktif untuk mendukung pelaku UMKM, meski portofolio kredit masih didominasi sektor konsumtif.
Untuk menjaga posisinya sebagai BPD terbaik, Bank Jatim memfokuskan strategi pada penguatan permodalan, percepatan transformasi digital, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Perseroan juga telah menyiapkan roadmap bisnis 2027–2028 dengan lima pilar utama, yakni penguatan tata kelola, optimalisasi ekosistem bisnis, transformasi teknologi informasi, pengembangan human capital, dan optimalisasi KUB.
Baca juga: Ning Lia Ingatkan Pemimpin Harus Melek Literasi dan Teknologi
Winardi mengatakan Bank Jatim membuka peluang sinergi KUB dengan sejumlah BPD lain, seperti BPD Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, guna memperkuat permodalan dan memperluas pembiayaan lintas daerah.
Dukungan terhadap strategi tersebut juga datang dari Defri Andri. Ia menyebut industri BPD memiliki ketahanan yang baik dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 26,19 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata industri perbankan nasional. Menurutnya, skema KUB menjadi instrumen penting untuk memperkuat stabilitas perbankan daerah sekaligus mendorong sinergi ekonomi riil antardaerah.(pps)
Editor : Redaksi