Tragedi Ponpes Al-Khoziny: 167 Korban Terdata, 38 Masih Hilang di Bawah Puing
MERAHPUTIH I SIDOARJO — Aroma debu dan puing masih menyelimuti kawasan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Di tengah keremangan malam Sabtu (4/10/2025), Tim Search and Rescue (SAR) gabungan terus berpacu dengan waktu. Suara alat berat bersahut dengan teriakan koordinasi para petugas yang tak kenal lelah, menandai perjuangan panjang mereka dalam mengevakuasi korban ambruknya bangunan pesantren tersebut.
Hingga Sabtu malam, posko evakuasi mencatat 167 korban dalam peristiwa memilukan itu. Dari jumlah tersebut, 129 orang berhasil ditemukan, sementara 38 lainnya masih dalam pencarian, diduga tertimbun di bawah reruntuhan.
Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, menyampaikan pembaruan data pada Minggu (5/10/2025) dini hari. “Dari total korban yang ditemukan, 104 orang dinyatakan selamat, 8 orang masih dirawat, dan 25 orang meninggal dunia,” ujarnya dengan nada penuh kehati-hatian.
Dari 25 korban yang meninggal, beberapa telah berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Maulana Alfan Ibrahimavic, Mochammad Mashudulhaq, Muhammad Soleh, Rafi Catur Octa Multa, dan M. Agus Ubaidillah. Namun, 20 jenazah lainnya masih berstatus Mr-X, menunggu proses identifikasi lanjutan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.
Nanang juga menuturkan bahwa sebagian besar korban selamat sudah diperbolehkan pulang. “Sebanyak 95 orang sudah kembali ke keluarga mereka, sedangkan satu orang tercatat tidak menjalani perawatan medis,” jelasnya.
Meski kelelahan mulai terasa, semangat para petugas tak surut. Pencarian difokuskan pada titik-titik reruntuhan yang berpotensi menyimpan korban tertimbun, dengan strategi bergantian agar operasi tetap efektif.
“Fokus kami malam ini tetap pada pencarian dan evakuasi korban. Kami terus berupaya seoptimal mungkin agar seluruh korban bisa segera ditemukan,” tutur Nanang.
Ia juga mengimbau masyarakat agar memberi ruang bagi keluarga korban yang tengah berduka. “Mohon doa dari seluruh masyarakat. Data korban akan terus kami perbarui sesuai kondisi di lapangan,” tambahnya.
Tragedi di Ponpes Al-Khoziny menjadi pengingat betapa pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi bangunan dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan.
Sementara itu, di tengah kepedihan dan kelelahan, sinar kecil harapan masih menyala, harapan agar setiap nyawa yang hilang segera ditemukan dan keluarga yang menanti mendapat kabar pasti.(sid)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih