Kamogawa Matcha Hadirkan Napas 400 Tahun Tradisi Urasenke Kyoto ke Surabaya

MERAHPUTIH I SURABAYA - Surabaya kembali menegaskan posisinya sebagai kota kosmopolitan yang terbuka pada pertemuan lintas budaya. Kali ini, perjumpaan itu hadir dalam wujud yang sederhana namun sarat makna: secangkir matcha autentik Jepang. Kamogawa Matcha resmi membuka gerai pertamanya di Surabaya pada Kamis, 23 Januari 2026, berlokasi di Beverly Shopping Arcade, Pakuwon City.

Kehadiran Kamogawa Matcha bukan sekadar menambah deretan kafe minuman di Kota Pahlawan. Lebih dari itu, ia membawa napas panjang tradisi Jepang yang telah hidup selama lebih dari 400 tahun, berakar kuat pada budaya minum teh aliran Urasenke dari Kyoto, salah satu mazhab upacara teh paling berpengaruh di Jepang.

Di tengah tren minuman modern yang bergerak cepat dan serba instan, Kamogawa Matcha justru menawarkan pendekatan berbeda. Kafe ini mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak, memperlambat langkah, dan merasakan nilai di balik setiap proses penyajian matcha.

Nama Kamogawa sendiri bukan dipilih secara kebetulan. Ia diambil dari Sungai Kamogawa, sungai ikonik yang membelah Kota Kyoto dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup sang pendiri, Chisato. Lahir di Kyoto pada 1981, Chisato menghabiskan masa kecilnya bersama keluarga besar di sepanjang tepian sungai tersebut, bersama kakek, nenek, buyut, dan ibunya.

Kenangan personal itulah yang kemudian diwujudkan dalam Kamogawa Matcha. Sebuah ruang yang tidak hanya menyajikan minuman, tetapi juga menjembatani masa lalu, tradisi keluarga, dan kehidupan modern.

“Keluarga saya telah hidup berdampingan dengan budaya tradisional Jepang selama beberapa generasi,” ujar Chisato. Almarhum kakek dan buyutnya dikenal sebagai guru upacara teh aliran Urasenke. Dari garis keluarga ayah, seni tradisi Jepang seperti chanoyu (upacara minum teh) dan ikebana juga terus diwariskan lintas generasi.

Nilai-nilai yang melekat dalam tradisi tersebut, ketenangan, kesederhanaan, serta penghormatan terhadap proses menjadi fondasi utama Kamogawa Matcha. Filosofi itu tidak hanya terasa dalam rasa matcha, tetapi juga tercermin dalam identitas visual dan konsep ruangnya.

Logo Kamogawa Matcha menggunakan kamon, lambang keluarga Jepang yang secara historis diwariskan dari generasi ke generasi. Pada masa lampau, kamon digunakan pada kimono, bendera perang, hingga perlengkapan samurai sebagai penanda garis keturunan. Bagi Kamogawa Matcha, penggunaan kamon menjadi pernyataan sikap untuk menjaga dan menghormati warisan leluhur, bukan sekadar elemen estetika.

Komitmen terhadap keaslian juga menjadi pembeda utama Kamogawa Matcha dibanding kafe matcha lain di Indonesia. Kamogawa Matcha tercatat sebagai yang pertama di Tanah Air yang mendatangkan dan mengoperasikan langsung mesin giling batu tradisional Jepang (ishi-usu), di dalam gerainya.

Mesin giling batu ini memegang peran krusial dalam menghasilkan matcha berkualitas tinggi. Daun teh pilihan yang didatangkan langsung dari Jepang digiling perlahan menggunakan batu granit, dengan kecepatan rendah untuk menjaga suhu tetap stabil. Proses ini penting agar warna hijau alami, aroma segar, serta rasa umami khas matcha tidak rusak.

Hasilnya adalah bubuk matcha yang sangat halus, segar, dan memiliki karakter rasa yang identik dengan matcha premium yang biasa disajikan dalam upacara teh di Kyoto.

“Kesegaran adalah kunci. Matcha harus hidup,” kata Chisato. Karena itu, proses penggilingan dilakukan secara langsung di lokasi. Setiap cangkir matcha yang disajikan pun memiliki kualitas yang konsisten tanpa kompromi.

Di Surabaya, kota yang dikenal dengan ritme cepat dan energi dinamis Kamogawa Matcha hadir sebagai ruang alternatif. Ia menawarkan pengalaman minum teh yang tidak terburu-buru, mengajak pengunjung untuk benar-benar hadir pada momen, menikmati aroma, rasa, dan ketenangan yang ditawarkan secangkir matcha.

Bagi masyarakat Surabaya dan Indonesia secara umum, Kamogawa Matcha membuka akses terhadap matcha autentik Jepang dengan standar tradisi yang sama seperti di Kyoto. Kehadirannya memperkaya lanskap kuliner sekaligus memperluas pemahaman akan budaya Jepang yang sesungguhnya, bukan sekadar tren, melainkan warisan hidup.

Lebih dari tempat menikmati minuman, Kamogawa Matcha menjadi pengingat bahwa tradisi tidak harus terkurung di museum atau buku sejarah. Tradisi bisa hidup, diseduh, dan dinikmati perlahan, satu cangkir pada satu waktu.(dpr)

Editor : Redaksi