Taruna Bhayangkara dan Mimpi Generasi Emas dari Ujung Timur Jawa
MERAHPUTIH I BANYUWANGI – Semangat kebangsaan menggema di halaman SMA Negeri 2 Taruna Bhayangkara, Sabtu (28/2), saat Khofifah Indar Parawansa meresmikan pengembangan sarana dan prasarana sekolah tersebut. Dalam rangkaian agenda yang sama, dilakukan pula peresmian rehabilitasi dan revitalisasi SMA, SMK, serta SLB di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo.
Momentum ini bukan sekadar seremoni gunting pita. Di baliknya, tersimpan visi besar menyiapkan generasi unggul yang tak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh dalam karakter kebangsaan.
Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa SMA Taruna Bhayangkara berada dalam komando Kepolisian Republik Indonesia, dengan pembinaan langsung dari Kepolisian Daerah Jawa Timur. Menurutnya, perhatian besar dari jajaran kepolisian menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan berbasis ketarunaan yang kuat dan terintegrasi.
“SMA Taruna Bhayangkara ini dalam Komando Kepolisian Republik Indonesia, dan tentu di Jawa Timur adalah Pak Kapolda Jawa Timur. Beliau memberikan atensi yang luar biasa dan kita ini ingin menggodok, menyiapkan ‘Generasi Emas’ terutama untuk menyambut Indonesia Emas. Mereka adalah juru bicara kebangsaan, juru bicara Keindonesiaan, juru bicara Kenusantaraan,” ujar Khofifah.
Ia menekankan bahwa capaian akademik tidak boleh berdiri sendiri. Di SMA Taruna Bhayangkara, akademik harus menyatu dengan pembentukan karakter. Disiplin, integritas, dan semangat kebangsaan ditanamkan melalui pola asuh yang sebagian besar dibimbing oleh unsur Polri.
“Tidak sekadar mencapai academic achievement, tapi juga bangunan karakter. Karakter kebangsaan, karakter Keindonesiaan itu harus menyatu pada capaian akademik mereka. Kita berharap napas kedisiplinan dan integritas kebangsaan bisa ditanamkan sekuat mungkin,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan apresiasi atas komitmen Gubernur terhadap sektor pendidikan, meski agenda kunjungan di Banyuwangi terbilang padat.
Menurut Aries, penguatan pendidikan berbasis ketarunaan merupakan model pendidikan yang diinisiasi langsung oleh Gubernur Jawa Timur dan kini mulai menunjukkan hasil konkret.
“SMA Taruna 2 Bhayangkara merupakan boarding school berbasis ketarunaan yang membutuhkan fasilitas untuk mendukung kurikulum nasional, pendidikan karakter dan disiplin, serta wawasan kebangsaan,” ujarnya.
Ia melaporkan bahwa sekolah yang berdiri sejak 2019, pada awal periode pertama kepemimpinan Gubernur Khofifah telah meluluskan empat angkatan. Saat ini terdapat 694 taruna aktif.
Untuk lulusan tahun 2025, sebanyak 225 taruna telah menyelesaikan pendidikan. Dari jumlah tersebut, 150 taruna diterima di berbagai perguruan tinggi negeri, sekolah kedinasan, TNI/Polri, jalur Bintara, hingga perguruan tinggi luar negeri. Sisanya masih mengikuti bimbingan lanjutan untuk masuk Akademi Kepolisian dan akademi TNI.
Sementara itu, untuk tahun ajaran baru mendatang, sebanyak 247 calon taruna telah dinyatakan lolos seleksi dan akan memulai pendidikan pada Juli nanti.
“Ini menunjukkan sekolah ketarunaan tidak hanya kuat dalam karakter tetapi juga unggul secara akademik,” imbuhnya.
Pengembangan sarana prasarana menjadi bagian penting dalam menopang sistem pendidikan tersebut. Total dukungan pengembangan di wilayah Banyuwangi dan Situbondo, termasuk khusus untuk SMA Taruna Bhayangkara, mencapai Rp2,610 miliar yang berasal dari komite sekolah.
Fasilitas yang diresmikan meliputi Aula Cakra Buana, Brakasena Gym, Griya Belajar Taruna, rumah ibadah, ruang olahraga tenis meja, barbershop putra dan putri, hingga studio musik.
Menurut Aries, kontribusi komite sekolah mencerminkan dukungan luar biasa dari orang tua terhadap kemajuan pendidikan anak-anak mereka. Fasilitas ini diharapkan menunjang penguatan fisik, mental, spiritual, dan akademik para taruna secara seimbang.
Tak hanya fokus pada sekolah ketarunaan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga meresmikan rehabilitasi dan revitalisasi sekolah di dua kabupaten tersebut.
Di Kabupaten Banyuwangi, terdapat 28 lembaga pendidikan dengan total anggaran Rp30 miliar. Sementara di Kabupaten Situbondo, revitalisasi menyasar 9 lembaga dengan total anggaran Rp6,2 miliar. Intervensi mencakup SMA, SMK, dan SLB sebagai wujud pemerataan dan keadilan layanan pendidikan.
Program ini juga menyentuh daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), memperkuat komitmen pemerataan pembangunan pendidikan di seluruh penjuru Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Aries turut melaporkan implementasi program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan). Program ini menjadi bagian dari pendidikan karakter berbasis kemandirian dan produktivitas, sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan nasional.
Di Banyuwangi, dari 180 SMA, SMK, dan SLB, sebanyak 104 sekolah mengikuti program SIKAP. Sekolah yang belum berpartisipasi umumnya terkendala ketersediaan lahan. Sekolah yang memiliki lahan memadai, termasuk SMA Negeri 2 Taruna Bhayangkara, telah mengintegrasikan program ini dalam kegiatan pendidikan.
Peresmian ini menjadi penanda bahwa pembangunan pendidikan di Jawa Timur tidak berhenti pada pembangunan fisik, melainkan juga pada penguatan nilai, karakter, dan daya saing generasi muda.
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih