59 Tahun BULOG: Mengawal Pangan, Menjaga Masa Depan Bangsa

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat meninjau pasar murahh
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat meninjau pasar murahh

MERAHPUTIH I SURABAYA - Di tengah dunia yang kian rapuh oleh krisis iklim, konflik geopolitik, dan ketidakpastian rantai pasok global, satu hal tetap menjadi penentu keberlangsungan sebuah bangsa: pangan. Bukan energi, bukan teknologi, melainkan kemampuan paling mendasar, memberi makan rakyatnya sendiri. Dalam konteks itu, Indonesia tidak berdiri tanpa penjaga. Di garis depan, ada Perum BULOG, institusi yang bekerja dalam senyap, tetapi menentukan arah stabilitas nasional.

Memasuki usia ke-59 tahun, BULOG tidak lagi dapat dipandang sebagai sekadar operator logistik. Ia telah berevolusi menjadi instrumen strategis negara, penyeimbang pasar, sekaligus pelindung dua kutub paling rentan dalam sistem pangan: petani dan konsumen. Ketika harga jatuh di tingkat petani, BULOG hadir menyerap. Ketika harga melonjak di pasar, BULOG turun menstabilkan. Di antara dua tekanan itu, negara menjaga keseimbangan yang krusial bagi ketahanan sosial-ekonomi.

Namun, di tengah pujian atas perannya, pertanyaan mendasar tetap relevan: seberapa kuat BULOG hari ini? Dan apakah kekuatan itu cukup untuk menghadapi masa depan? Jawabannya tidak lagi abstrak. Data berbicara tegas.

Sepanjang 2025, BULOG mencatat serapan beras dalam negeri lebih dari 3,2 juta ton. Pada saat yang sama, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menembus 3,5 juta ton, rekor tertinggi dalam lebih dari setengah abad. Memasuki 2026, stok itu bahkan terus meningkat hingga mendekati 5 juta ton. Ini bukan sekadar angka, melainkan fondasi kedaulatan yang menentukan ruang gerak negara dalam menghadapi gejolak pasar global.

Dampaknya terasa langsung pada stabilitas ekonomi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi beras berhasil ditekan melalui intervensi pasar yang konsisten. Di sisi lain, harga gabah di tingkat petani tetap terjaga melalui kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Dengan kata lain, BULOG tidak hanya mengelola stok, tetapi menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi.

Namun, angka nasional tidak selalu mencerminkan realitas di lapangan. Di Jawa Timur, yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional, tantangan justru tampil lebih nyata dan kompleks. Fenomena El Nino mengganggu pola tanam di berbagai wilayah seperti Ngawi, Lamongan, hingga Bojonegoro. Produksi berfluktuasi, kualitas gabah tidak stabil, dan ketidakpastian musim menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan produksi.

Di sisi lain, persoalan klasik tetap berulang. Saat panen raya, harga gabah jatuh. Saat produksi terganggu, harga beras melonjak. Petani tertekan di hulu, masyarakat terbebani di hilir. Distribusi pun belum merata. Wilayah seperti Madura masih menghadapi kendala logistik, menyebabkan disparitas harga dibanding kota besar seperti Surabaya.

Meski demikian, Jawa Timur tetap menjadi tulang punggung pangan nasional. Hal ini ditegaskan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang menekankan pentingnya menjaga ekosistem pangan secara menyeluruh.

“Jawa Timur secara konsisten menjadi produsen beras tertinggi nasional. Ini bukan hanya soal angka produksi, tetapi tentang bagaimana kita menjaga keseimbangan dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Khofifah menambahkan bahwa kekuatan Jawa Timur tidak hanya terletak pada luas lahan atau volume produksi, tetapi pada sinergi antar-sektor. Menurutnya, keberhasilan menjaga stabilitas pangan sangat ditentukan oleh kolaborasi antara petani, pemerintah daerah, dan lembaga seperti BULOG.

“Kami terus mendorong penguatan ekosistem pertanian, mulai dari penyediaan benih unggul, akses pupuk, hingga perbaikan irigasi. Tapi itu tidak cukup tanpa dukungan sistem distribusi yang kuat. Di sinilah peran BULOG menjadi sangat strategis,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kesejahteraan petani sebagai fondasi utama ketahanan pangan. “Kalau petani kita kuat, maka pangan kita aman. Oleh karena itu, stabilitas harga di tingkat petani harus menjadi prioritas. Jangan sampai saat panen raya mereka justru merugi,” tegasnya.

Lebih jauh, Khofifah menekankan bahwa Jawa Timur memiliki tanggung jawab nasional. Stabilitas pangan di provinsinya akan berdampak langsung terhadap kondisi nasional.

“Apa yang terjadi di Jawa Timur akan berpengaruh besar terhadap Indonesia. Karena itu, kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan BULOG dan pemerintah pusat menjadi kunci agar distribusi dan harga tetap terkendali,” tambahnya.

Menghadapi kompleksitas tersebut, BULOG pun bergerak lebih agresif. Serapan gabah dilakukan secara masif di sentra produksi untuk menahan harga saat panen raya. Program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) digencarkan di pasar-pasar tradisional guna menekan lonjakan harga. Stok regional diperkuat, distribusi dipercepat, dan kerja sama dengan pemerintah daerah terus diperluas.

Digitalisasi juga mulai memainkan peran penting. Pemantauan harga dan distribusi dilakukan secara real-time, memungkinkan intervensi yang lebih cepat dan tepat sasaran. Transformasi ini menunjukkan bahwa BULOG tidak lagi bekerja dengan pendekatan konvensional, tetapi mulai beradaptasi dengan dinamika zaman.

Komitmen tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani.

“BULOG bukan hanya bicara soal stok beras, tetapi soal keberpihakan negara. Kami memastikan petani tidak jatuh saat panen raya, dan masyarakat tidak tercekik saat harga naik. Di situlah negara harus hadir,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa kekuatan stok harus diiringi dengan kecepatan bertindak. “Stok yang kuat memberi ruang bagi negara untuk bertindak cepat. Ketika pasar bergejolak, BULOG harus menjadi penyeimbang, bukan penonton,” ujarnya.

Meski capaian besar telah diraih, tantangan ke depan tetap tidak ringan. Ketergantungan pada beras masih tinggi, diversifikasi pangan belum optimal, dan sistem logistik nasional masih membutuhkan penguatan. Tanpa pembenahan berkelanjutan, capaian hari ini berpotensi menjadi rapuh di masa depan.

Di titik inilah, usia 59 tahun menjadi momentum refleksi sekaligus transformasi. BULOG dituntut tidak hanya menjaga, tetapi juga memimpin perubahan dalam sistem pangan nasional, dari pengelola stok menjadi pengendali sistem, dari reaktif menjadi antisipatif.

Sebagaimana ditegaskan oleh Gubernur Khofifah, masa depan pangan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan hari ini.

“Ketahanan pangan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan. Kita harus memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan terjangkau,” pungkasnya.

Karena pada akhirnya, pangan bukan sekadar komoditas. Ia adalah fondasi kehidupan, stabilitas, dan kedaulatan. Dari sawah-sawah Jawa Timur hingga gudang-gudang BULOG, dari petani hingga konsumen, satu hal tetap menjadi penentu: kehadiran negara.

Dan selama BULOG tetap berdiri di garis depan menjaga keseimbangan itu, maka satu hal bisa diyakini, Indonesia tidak hanya bertahan dari krisis pangan, tetapi sedang memastikan masa depannya tetap ada.(pps)

Editor : Redaksi