MERAHPUTII I SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat kualitas sumber daya manusia di sektor layanan kebencanaan dan penyelamatan. Melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), sebanyak 50 personel terbaik mengikuti Pelatihan Firefighter (FF) Level 2 sebagai bagian dari strategi mencetak pemimpin lapangan yang profesional, kompeten, dan siap menghadapi berbagai situasi darurat.
Pelatihan tersebut tidak diperuntukkan bagi personel pemula. Seluruh peserta merupakan anggota yang telah mengantongi sertifikasi Firefighter Level 1 (FF1), dengan mayoritas berasal dari unsur komandan regu (Danru), komandan tim (Danton), unit rescue, hingga personel operasional yang selama ini menjadi garda terdepan dalam penanganan kebakaran dan penyelamatan di Kota Surabaya.
Baca juga: Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Timbangan Pasar, Jaga Kepercayaan Konsumen dan Pedagang
Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini Sevriani, menegaskan bahwa kebutuhan akan pemimpin lapangan yang memiliki standar kompetensi terukur menjadi semakin penting seiring meningkatnya kompleksitas tugas petugas pemadam kebakaran.
Menurutnya, pengalaman dan keterampilan saja tidak cukup untuk menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Seorang komandan juga harus memiliki sertifikasi kompetensi yang dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan saat menghadapi kondisi darurat.
“Komandan di lapangan tidak cukup hanya memiliki pengalaman dan keterampilan, tetapi juga harus memiliki sertifikasi kompetensi. Dengan begitu, mereka memiliki bekal yang lebih kuat dalam mengambil keputusan saat menghadapi situasi darurat,” ujar Laksita, Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan, sertifikasi merupakan bentuk pengakuan atas kemampuan personel sekaligus jaminan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Melalui pendidikan dan pelatihan berjenjang, petugas akan memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh dalam menangani berbagai bentuk kedaruratan.
Dalam pelatihan FF2 ini, peserta mendapatkan berbagai materi lanjutan yang tidak hanya berfokus pada teknik pemadaman kebakaran. Mereka juga dibekali strategi dan taktik operasi pemadaman, teori perilaku api, pengendalian asap dan panas pada bangunan terbakar, teknik pencarian dan penyelamatan korban, hingga prosedur penanganan korban dalam kondisi darurat.
Untuk memperkuat kemampuan pertolongan pertama, DPKP Surabaya juga menggandeng RSUD dr. M. Soewandhie Surabaya dalam memberikan materi Medical First Responder (MFR).
Tak hanya itu, peserta turut menjalani pelatihan penyelamatan di perairan. Mereka mempelajari teknik pengoperasian perahu karet bermotor, pencarian korban di air, hingga penggunaan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) yang dibutuhkan saat bertugas di lingkungan berisiko tinggi.
“Kemampuan yang diasah tidak hanya berkaitan dengan kebakaran. Para peserta juga dibekali keterampilan penyelamatan di berbagai medan agar siap menghadapi beragam situasi yang terjadi di lapangan,” jelasnya.
Lebih jauh, Laksita mengungkapkan bahwa DPKP Surabaya tengah menyiapkan program regenerasi bagi personel. Salah satunya melalui pengembangan sertifikasi instruktur untuk memastikan transfer pengetahuan dan pengalaman tetap berjalan ketika sejumlah personel senior memasuki masa purnatugas dalam beberapa tahun ke depan.
Baca juga: Surabaya Genjot Digitalisasi Parkir, Petugas Non Tunai Tembus 926 Orang
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen DPKP dalam menjaga kualitas pelayanan darurat sekaligus mendukung target waktu tanggap penanganan kejadian yang saat ini berada di kisaran 6,5 menit.
“Dengan personel yang lebih profesional dan terlatih, risiko korban jiwa maupun kerugian akibat kebakaran dan bencana diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pembinaan Aparatur dan Pemberdayaan Masyarakat DPKP Surabaya, Widagdo Endang Suroso, menjelaskan bahwa pelatihan berlangsung selama dua pekan dengan metode pembelajaran yang memadukan teori dan praktik lapangan.
Pada pekan pertama, seluruh peserta menjalani pendidikan teori di Gedung Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prigen, Kabupaten Pasuruan. Materi yang diberikan merupakan pengembangan dari kompetensi dasar FF1, termasuk teknik penyelamatan darat (land rescue) dan pencarian korban di ruang terbatas.
Memasuki pekan kedua, peserta menjalani simulasi intensif di fasilitas pelatihan milik DPKP Surabaya. Berbagai skenario kedaruratan dirancang menyerupai kondisi nyata melalui penggunaan fire simulator, latihan pencarian korban dalam kondisi minim cahaya dan penuh asap, penyelamatan di ketinggian, hingga operasi evakuasi di wilayah perairan.
Untuk membangun kemampuan kerja tim, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri atas tim penyerang (attack team), tim pendukung (support team), dan tim penyelamat (rescue team).
Baca juga: Pemkot Surabaya Pastikan Gaji ke-13 ASN Cair, Administrasi Disiapkan Sesuai Aturan
“Peserta dibagi menjadi beberapa tim agar memahami pola kerja yang sesungguhnya ketika menghadapi kejadian di lapangan. Jadi bukan hanya kemampuan individu yang diasah, tetapi juga koordinasi antarunit,” kata Widagdo.
Dalam latihan penyelamatan vertikal, peserta mempraktikkan penggunaan tangga kait dan berbagai metode akses untuk mengevakuasi korban dari bangunan bertingkat. Sementara pada sesi water rescue, mereka dilatih melakukan teknik membalikkan dan mengembalikan posisi perahu karet, mengoperasikan motor tempel, hingga mengevakuasi korban dari air ke atas perahu dengan aman.
Peserta juga diperkenalkan dengan Mechanical Advantage System (MAS), yakni teknik penyelamatan yang memanfaatkan sistem katrol untuk mengangkat maupun menurunkan korban di lokasi yang sulit dijangkau.
Widagdo menilai FF2 merupakan tahapan penting dalam pembentukan pemimpin operasional. Jika pada FF1 fokus utama berada pada penguasaan kemampuan dasar dan keselamatan diri, maka pada level lanjutan ini personel dituntut mampu memimpin operasi, melakukan penyelamatan, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat di tengah situasi yang penuh tekanan.
“Melalui pelatihan ini, DPKP Surabaya berharap kompetensi personel semakin merata dan profesional sehingga mampu menghadapi kompleksitas penanganan kebakaran maupun penyelamatan di Kota Surabaya yang terus berkembang,” pungkasnya.(sub)
Editor : Redaksi