MERAHPUTIH| GRESIK-Tim sepak bola di atas 40 tahun Campur Sari Allstar (CSA) mulai disegani di kawasan Gresik, Sidoarjo dan Surabaya. Dengan anggota lebih dari 50 orang, CSA saat ini kebanjiran tawaran untuk uji coba. Baik itu dari wilayah Surabaya, Gresik hingga Sidoarjo.
Coach Hadi, Manajer Coach CSA mengatakan, timnya terbentuk berawal dari Pandemi Covid-19 yang mendera sejak 2019. “Pandemi Covid-19 harus dilawan. Salah satunya dengan tetap berolahraga. Nah, untuk itu kami kemudian berkumpul dan akhirnya terciptalah Campur Sari Allstar,” ungkap Hadi, eks kiper Persepar Palangkaraya itu.
Baca juga: Sambut Era Baru Sepak Bola Indonesia, PT LIB Perkenalkan Identitas Anyar: ILeague
Kenapa memilih nama CSA? Jawabannya ada pada back ground pekerjaan para pemain. Diantaranya ada yang guru, mantan atlet profesional, pedagang, pengusaha, kontraktor, wasit Liga hingga tukang las kumpul menjadi satu. “Disamping itu, Campur Sari Allstar kami pilih agar tim tetap guyup, santai tapi tetap sehat. Sebab, moto kami adalah Guyup, Rukun, Sehat, Seduluran Selawese. Aamiin,” jlentreh Hadi.
Meski back ground pekerjaan tim CSA berbagai macam, namun kekompakan mereka bisa diacungi jempol. Untuk latihan misalnya, tanpa dikomando, setiap usai latihan para anggota langsung menaruh uang di kotak air mineral. “Uang sukarela ini untuk menyewa dan memperbaiki lapangan. Juga untuk konsumsi air mineral ketika latihan dan uji coba,” papar Hadi.
Selain olahraga, CSA juga peduli dengan lingkungan sekitar atau kegiatan sosial. Dalam waktu dekat, rencananya, CSA juga akan menyalurkan bantuan untuk korban banjir di wilayah Gresik dan sekitarnya. “Kami ingin, kegiatan kami juga berguna bagi masyarakat sekitar selain menyehatkan anggota demi melawan Covid-19,” tegas Hadi.
Baca juga: Indonesia Tembus Putaran Empat: Satu-satunya Wakil Non-Arab di Jalur Terjal Piala Dunia 2026
Sugik atau biasa dipanggil pak RT menyebut, CSA begitu kompak. “Kami sudah 40 tahun ke atas. Jadi yang kami cari itu bukan prestasi melainkan kesehatan. Buat apa ada dalam suatu tim olaharga, khususnya sepakbola yang hanya mementingkan ego pribadi. Di CSA hal itu tidak terjadi karena kebersamaan yang terjalin begitu kuat,” ungkap pak RT.
Senada dengan pak RT, Kemo, salah satu pendiri CSA yang juga merupakan seorang guru mengaku, kebersamaan CSA tidak ada duanya. “Saya sering ikut tim 40 tahun ke atas, tapi tidak ada yang menyamai CSA. Biasa pokoknya,” tegas Kemo.
Baca juga: "Erick Thohir Warning Suporter! Jangan Cederai Harga Diri Bangsa Saat Hadapi China di GBK!"
Untuk menambah semangat, setiap latihan dan ujicoba, diundi door prize berupa jersey tim-tim yang bermain di Liga Profesional. Lalu siapa donaturnya? “Donaturnya untuk sementara tidak mau diekspos, yang penting semua pemain CSA senang, guyup, rukun, sehat, seduluran selawase,” urainya.
CSA memang belum lama berdiri. Bisa dibilang ketika Pandemi Covid-19 mendera negeri. Namun, jangan tanya soal kekompakan dan rasa memiliki. Dengan anggota lebih dari 50 orang, coach Hadi memang sedikit pusing mengatur strategi jika melakukan ujicoba saking banyaknya anggota. “Tapi seperti yang dikatakan pak RT, semua menyadari usia 40 tahun ke atas bukan mencari prestasi. Melainkan mencari sehat. Bagaimana caranya sehat ya, olahraga, guyup, banyak tertawa, rukun,” imbuh Hadi. (red)
Editor : Eko Yudiono